Baru-baru ini, publik dihebohkan dengan kisah suami Siti Badriah, Krisjana Baharudin yang melakukan tindakan vasektomi.
Ketika seorang laki-laki memutuskan menjalani vasektomi, respons yang muncul sering kali tidak jauh dari kata "pengorbanan". Seolah-olah keputusan tersebut merupakan sesuatu yang dilakukan seorang suami demi istrinya.
Namun, daripada melihat vasektomi sebagai bentuk pengorbanan seorang laki-laki, mungkin sudah waktunya kita melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Vasektomi bukan sekadar soal siapa yang berkorban, melainkan bagaimana pasangan berbagi tanggung jawab dalam merencanakan keluarga.
KB Hanya Identik dengan Perempuan
Selama ini, ketika membicarakan keluarga berencana, pembicaraan mengenai kontrasepsi lebih sering diarahkan kepada perempuan. Pil KB, suntik KB, implant, IUD, hingga berbagai metode lainnya lebih sering menjadi bagian dari percakapan mengenai tubuh perempuan. Tidak sedikit pula perempuan yang sejak sebelum menikah sudah mendapatkan berbagai informasi mengenai kontrasepsi dan kemungkinan efeknya.
Padahal, keputusan untuk memiliki anak bukan keputusan seorang perempuan saja. Ketika kehamilan merupakan konsekuensi dari hubungan antara dua orang, perencanaan untuk mencegah kehamilan pun semestinya menjadi pembicaraan bersama.
Bukan berarti perempuan tidak boleh menggunakan kontrasepsi. Setiap pasangan tentu memiliki kondisi dan pertimbangan masing-masing. Persoalannya adalah ketika KB secara otomatis dianggap sebagai tugas istri.
Laki-Laki Juga Punya Pilihan
Keterlibatan laki-laki dalam KB sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Selain kondom, laki-laki juga memiliki pilihan kontrasepsi berupa vasektomi. Vasektomi merupakan metode kontrasepsi permanen dengan tindakan pada saluran sperma. Prosedur ini tidak sama dengan kebiri dan tidak dimaksudkan untuk menghilangkan fungsi seksual laki-laki.
Namun, karena masih terdapat berbagai anggapan dan stigma mengenai vasektomi, sebagian laki-laki mungkin merasa khawatir membicarakannya.
Di sinilah pentingnya edukasi.
Keputusan menggunakan kontrasepsi seharusnya tidak didasarkan pada mitos atau anggapan bahwa laki-laki akan kehilangan kejantanan setelah menjalani vasektomi. Sebaliknya, setiap metode kontrasepsi perlu dipahami berdasarkan informasi medis dan dipilih sesuai kondisi serta kesepakatan pasangan.
Bagi penulis ada yang perlu digarisbawahi ketika seorang laki-laki melakukan KB, yakni narasi sebagai bentuk cinta atau pengorbanan untuk istri.
Narasi semacam itu memang terdengar romantis. Namun, jika terus digunakan, kita justru berisiko mempertahankan anggapan bahwa urusan KB pada dasarnya merupakan tanggung jawab perempuan.
Seolah-olah ketika perempuan menggunakan kontrasepsi, itu adalah kewajiban. Sementara ketika laki-laki ikut mengambil peran, ia dianggap melakukan sesuatu yang luar biasa. Padahal, bukankah merencanakan keluarga memang tanggung jawab kedua pasangan?
Karena itu, laki-laki yang memilih kontrasepsi tidak harus ditempatkan sebagai "pahlawan" dalam rumah tangga. Begitu pula perempuan yang menggunakan kontrasepsi tidak seharusnya dianggap sebagai pihak yang otomatis bertanggung jawab atas keberhasilan KB.
Keduanya sedang menjalankan bagian dari keputusan bersama.
Berbagi Tanggung Jawab Bukan Berarti Harus Sama Persis
Tanggung jawab bersama juga bukan berarti setiap pasangan harus menggunakan metode kontrasepsi yang sama atau laki-laki harus selalu mengambil alih kontrasepsi dari perempuan. Setiap metode memiliki pertimbangan medis dan kondisi yang berbeda.
Yang lebih penting adalah adanya komunikasi. Pasangan perlu membicarakan apakah ingin memiliki anak, berapa jumlah anak yang direncanakan, kapan ingin memiliki anak, serta metode kontrasepsi yang sesuai.
Dengan begitu, keputusan mengenai reproduksi tidak hanya muncul ketika terjadi kehamilan yang tidak direncanakan. Percakapan tersebut justru perlu dilakukan sejak awal dan diperbarui ketika kondisi keluarga berubah.
Pada akhirnya, vasektomi bukan persoalan tentang laki-laki yang rela "berkorban" untuk perempuan. Vasektomi adalah salah satu pilihan dalam keluarga berencana yang, bagi pasangan tertentu, dapat menjadi bagian dari keputusan untuk mengatur jumlah anak setelah mempertimbangkan berbagai hal, termasuk aspek medis.
Kisah Krisjiana mungkin membuat masyarakat kembali membicarakan vasektomi. Tetapi pembicaraan tersebut seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan tentang biaya atau keberanian seorang suami menjalani prosedur tersebut.
Ada pertanyaan yang jauh lebih penting dimana sudahkah urusan keluarga berencana benar-benar menjadi tanggung jawab bersama? Sebab, memiliki anak adalah keputusan bersama. Maka, merencanakan kapan memiliki anak, berapa jumlahnya, dan bagaimana mencegah kehamilan yang tidak direncanakan juga seharusnya menjadi percakapan dua orang.
Vasektomi bukan pengorbanan untuk laki-laki. Namun, ia adalah salah satu bentuk bahwa dalam sebuah keluarga, tanggung jawab tidak selalu harus diletakkan di pundak satu pihak saja.
Baca Juga
-
Korea Selatan Libatkan Warga Lawan Deepfake, Indonesia Bisa Belajar Apa?
-
Darurat ISPA di Wilayah Karhutla: Mengapa Mitigasi Preventif untuk Anak Selalu Terlambat?
-
Tragedi Pejompongan: Saat Demo Berubah Menjadi Petaka bagi Warga Tak Bersalah
-
Rekening Diblokir Jelang Demo, Penegakan Hukum atau Pembungkaman?
-
Segera Tayang di Netflix! 4 Fakta Wajib Tahu tentang Drakor Mousetrap yang Dibintangi Ryu Jun Yeol
Artikel Terkait
Kolom
-
Generasi Self-Diagnosis: Saat VT TikTok Jadi Pengganti Psikolog
-
Batas Tipis Antara Ramah dan Micro-Cheating: Kapan Kamu Harus Mulai Curiga ke Pasangan?
-
Gambut Bukan Sekadar Lahan Basah, Ia Penentu Masa Depan Karbon Dunia
-
Meritokrasi Sudah Mati, Kenali Fenomena 'Neo-Feodalisme' di Kantormu!
-
Doomscrolling: Antara Kepedulian Sosial dan Rasa Putus Asa yang Mengintai
Terkini
-
Sinopsis The Vvaan, Film Terbaru Tamannaah Bhatia dan Sidharth Malhotra
-
Bosan Makan Nasi? Intip 3 Cara Pengolahan Sorgum sebagai Alternatif Karbo
-
Review The Love Hypothesis: Fake Dating yang Manis, Romantis, dan Humoris
-
Mengupas Misteri 'Bisikan Desa Gringsing', Saat Karma dan Dosa Masa Lalu Menuntut Balas
-
Rekor! Park Ji-hyun dan Hyper Knife Jadi Nominasi International Emmy Award