Sistem pendidikan nasional saat ini dinilai telah kehilangan arah karena terperangkap dalam jaring birokrasi kaku dan hanya berorientasi mencetak tenaga kerja. Kritik tajam tersebut mengemuka dalam gelar wicara Good Talk Off-Air garapan Good News From Indonesia (GNFI) di Ruang Audio Visual Gedung Museum Muhammadiyah, Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Bantul, pada Kamis (24/9/2026).
Dalam forum yang ditujukan untuk memantik diskursus publik tersebut, Wakil Rektor UAD, Prof. Ir. Sunardi, S.T., M.T., Ph.D., menyoroti distorsi peran institusi pendidikan saat ini. Ia memaparkan bahwa Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi di Indonesia baru mencapai 13 persen, sebuah potret minimnya keberpihakan prioritas anggaran nasional terhadap perluasan akses pendidikan tinggi.
"Pendidikan seharusnya memperluas wawasan, membentuk karakter, dan membangun peradaban, bukan sekadar mencetak lulusan menjadi budak industri," tegas Prof. Sunardi dalam sambutannya pada acara tersebut.
Kritik terhadap bongkar-pasang kurikulum turut menjadi sorotan. Pendiri Sanggar Anak Alam (SALAM), Sri Wahyaningsih, B.Sc., menilai perubahan kurikulum kerap gagal karena selalu dirancang dengan pendekatan dari atas ke bawah (top-down). Ia mendesak pemerintah untuk mengembalikan kedaulatan belajar kepada anak sesuai filosofi Ki Hajar Dewantara, yakni mendidik sesuai kodrat alam dan kodrat zaman.
"Indonesia adalah negara agraris dan maritim, namun pendidikan nasional tidak pernah menjadikan kekayaan ini sebagai basis kurikulum. Nenek moyang kita mampu membangun peradaban mahakarya seperti Borobudur karena pendidikan mereka berbasis pada kekuatan lokal," jelas Sri Wahyaningsih dalam pemaparannya pada acara Talkshow tersebut.
Lebih lanjut, Dekan FKIP UAD, Muhammad Sayuti, Ph.D., menyoroti kegagalan sekolah dalam menghubungkan teori kelas dengan realitas sosial, yang memicu diskohesi parah. Ia mencontohkan ironi ketika siswa diajarkan memilah sampah di sekolah, tetapi sistem pengelolaan di tingkat hilir justru mencampurnya kembali di Tempat Pembuangan Sementara (TPS).
Pak Sayuti mendesak generasi muda untuk meruntuhkan sekat ego sektoral dan segera mengambil peran nyata. “Pendidikan dan proses belajar pada hakikatnya adalah untuk memecahkan masalah kehidupan. Mulailah kolaborasi konkret dari proyek-proyek skala kecil di masyarakat,” imbaunya.
"Ketika ditanya mengenai kebijakan, dijawab: 'Aman Pak, indikatornya adalah anak-anak bisa mengerjakan apa yang kami perintahkan.' Namun, apakah ketaatan itu indikator sejati keberhasilan pendidikan? Tentu tidak. Ditambah lagi dengan kejaran program baru seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan berbagai kewajiban administratif lainnya," ungkapnya.
Cerita tersebut menjadi pengantar bagi kritik yang kemudian mengemuka sepanjang diskusi. Bagi Mas Egi, persoalan pendidikan adalah proses belajar yang benar-benar membantu mereka memahami dan memaknai kehidupan. Ia menilai pergantian kebijakan dan program pendidikan yang terus berubah justru kerap membuat pendidik sibuk beradaptasi, sementara murid menjadi pihak yang menanggung dampaknya.
Rangkaian acara ini pada akhirnya memberikan satu benang merah bahwa pendidikan Indonesia harus segera membebaskan diri dari belenggu birokrasi dan formalitas kaku jika ingin relevan dalam menjawab tantangan zaman.
Baca Juga
-
Kultus Mi Instan: Mengurai Sejarah Politik Pangan Indonesia
-
Di Balik Kekecewaan 5 cm, Saat Nostalgia Terbentur Realitas Prekuel
-
Ilusi Kesantunan Pejabat: Di Balik Permintaan Maaf Wapres soal MBG
-
Kerasnya Aspal dan Tugas Domestik: Membedah Beban Ganda Ojol Perempuan
-
Fenomena Overproud Film Hollywood, Mengapa Netizen Indo Haus Validasi Barat
Artikel Terkait
-
Seni Mematikan Notifikasi: Saat Ketenangan Menjadi Kemewahan Baru bagi Gen Z
-
Slow Dating: Tak Mau Terburu-buru atau Menghindari Hubungan Intens di Awal?
-
Gen Z dan Conscious Unbossing: Saat Karier Tidak Harus Naik secara Vertikal
-
Mengejar DP Rumah vs Beli Pengalaman: Mengapa Gen Z Memilih Realistis?
-
Gen Z Impact Fest 2026: Empowering the Next Generation
News
-
Bukan Bikin Rileks, Ini 3 Dampak Mematikan Etomidate pada Paru-paru dan Otak
-
Niti Rumat: Ketika Kurator Seni Rupa Tak Hanya Pameran, tapi Juga Merawat Sejarah
-
Darurat ISPA di Wilayah Karhutla: Mengapa Mitigasi Preventif untuk Anak Selalu Terlambat?
-
Drakor Makin Pendek, Benarkah Efek Samping TikTok Bikin Penonton Susah Fokus?
-
Indonesia Comic Con Rayakan Satu Dekade, Digelar 3-4 Oktober 2026 di JIExpo Kemayoran
Terkini
-
Salma Rilis Lagu 'maha benar', Sindiran Keras Buat Netizen Julid dan Si Paling Paham Hidup Orang!
-
Korea Selatan Libatkan Warga Lawan Deepfake, Indonesia Bisa Belajar Apa?
-
Korps Kadet RI di Sekolah: Perlukah Bela Negara Jadi Ekstrakurikuler?
-
4 Masker Rambut Berbahan Mint yang Ampuh Usir Rambut Lepek dan Ketombe
-
The Storm Tayang 15 Oktober di Netflix, Komedi Gelap Josephine Bornebusch