Semakin sering lihat iklan lowongan kerja di internet, saya semakin paham kenapa banyak jobseeker merasa capek. Bukan cuma karena susah diterima, tapi karena dari awal saja rasanya sudah diminta memenuhi banyak hal. Pengalaman harus ada, dituntut untuk punya banyak skill, belum lagi tanggung jawabnya bermacam-macam.
Sebenarnya wajar saja kalau perusahaan memang membutuhkan kandidat seperti itu. Tapi coba lihat lagi tawarannya. Kadang jobdesknya banyak, syaratnya panjang, pengalaman yang diminta juga bukan main-main, tetapi gajinya sangat imut, bahkan tidak sedikit yang belum menyentuh UMR. Lantas, apakah kita sedang melihat pasar kerja yang makin banyak menuntut, tetapi pelit memberi kompensasi?
Syarat Lowongan Kerja Seperti Cari Manusia Setengah Dewa
Saat melihat lowongan kerja akhir-akhir ini, kandidat harus melewati daftar kualifikasi yang panjangnya kadang bikin ingin menutup tab. Harus menguasai ini, paham itu, punya pengalaman di bidang tersebut, mampu bekerja mandiri, bisa memimpin, komunikatif, teliti, kreatif, mampu bekerja di bawah tekanan, dan entah kemampuan apa lagi yang ditulis di sana.
Saya tidak masalah kalau perusahaan memang punya kebutuhan khusus. Yang membuat saya geli adalah kebiasaan memasukkan sebanyak mungkin kemampuan ke satu lowongan seolah-olah semakin banyak syarat berarti semakin bagus kandidat yang akan didapat.
Padahal, manusia bukan robot. Tidak semua orang harus jago desain, menulis, mengolah data, mengelola media sosial, melakukan presentasi, berkomunikasi dengan klien, sekaligus menjadi ahli di bidang utamanya.
Kualifikasi Selangit, Gaji Masih Irit
Kalau diperhatikan, tuntutan dalam lowongan kerja sekarang bisa panjang sekali. Satu posisi diminta menguasai beberapa kemampuan dan menangani berbaga tugas sekaligus.
Saya paham kalau perusahaan punya standar tertentu. Mereka tentu ingin mendapatkan orang yang sesuai dengan kebutuhan pekerjaannya. Namun, menurut saya, standar itu juga perlu dilihat dengan apa yang diberikan kepada pekerja.
Kalau tanggung jawabnya besar, kemampuan yang diminta banyak, dan pengalaman yang dicari tidak sedikit, wajar kalau kandidat juga melihat kompensasi sebagai bagian dari pertimbangannya.
Masalahnya, ada posisi yang persyaratannya sudah seperti mencari kandidat level berpengalaman, tetapi gajinya masih terasa seperti tawaran untuk pekerja entry-level.
Pasar Kerja Makin Pelit Memberi Ruang
Yang membuat pasar kerja sekarang terasa melelahkan adalah ruang untuk memulai pun rasanya semakin sempit.
Orang yang sudah punya pengalaman masih harus bersaing dengan banyak kandidat lain, sementara yang belum punya pengalaman sering kesulitan mencari pintu pertama. Mau pindah bidang juga tidak mudah karena kembali ditanya pengalaman yang relevan.
Akhirnya muncul lingkaran yang cukup menyebalkan. Untuk mendapatkan pekerjaan, seseorang butuh pengalaman. Untuk mendapatkan pengalaman, seseorang butuh pekerjaan.
Orang yang sudah berada di dalam pasar kerja punya modal pengalaman untuk terus bergerak, sementara orang yang sedang mencoba masuk harus mencari cara sendiri untuk membuktikan bahwa dirinya layak diberi kesempatan.
Belum lagi pengalaman kerja sekarang seperti menjadi mata uang yang semakin mahal. Perusahaan menginginkan orang yang sudah tahu cara bekerja, sementara kesempatan untuk belajar dari awal tidak mudah ditemukan.
Akibatnya, seseorang bisa saja sudah punya pendidikan dan kemampuan, tetapi tetap kesulitan mendapatkan kesempatan pertama yang benar-benar memberinya pengalaman kerja.
Kita sering mendengar bahwa anak muda harus siap bersaing di dunia kerja. Tapi persaingan juga butuh arena yang cukup luas. Kalau pintunya makin sedikit dan antreannya makin panjang, menyuruh orang berlari lebih kencang rasanya tidak menyelesaikan masalah.
Baca Juga
-
Katanya Swasembada Pangan, Mengapa Harga Bahan Pokok Kian Menjulang?
-
Korps Kadet RI di Sekolah: Perlukah Bela Negara Jadi Ekstrakurikuler?
-
I Hate Going to Work: Realita Dunia Kantor yang Dikemas dalam Komedi Satir
-
Katanya Lowongan Kerja Banyak, Kenapa Cari Kerja Tetap Susah?
-
Feed yang Membentuk Isi Dompet: Efek Budaya Flexing pada Perilaku Konsumsi
Artikel Terkait
Kolom
-
Katanya Swasembada Pangan, Mengapa Harga Bahan Pokok Kian Menjulang?
-
Pungutan Liar kepada UMKM Bukan Tradisi yang Harus Dimaklumi
-
Anggaran Habis, Program Mati: Ada yang Salah dengan Cara Pemerintah Bekerja
-
Kasus Lapas Mewah: Perlakuan Istimewa yang Buat Hilangnya Marwah Pembinaan
-
Rakyat Dipuji Tangguh, Negara Lupa Membenahi yang Rapuh
Terkini
-
Review Film Suka Duka Tawa: Kisah Komika dan Luka Masa Lalu
-
Pipi Auto Fresh! 6 Blush On Nuansa Mauve yang Elegan untuk Daily Makeup
-
Bye Kusam dan Lelah di Siang Hari! 4 Spray Serum Vitamin C Bikin Glowing
-
Review Film The Scout: Karakternya Menarik Kendati Emosinya Tertahan
-
The Impossible Heir: Ketika Ambisi Membuat Kita Kehilangan Diri Sendiri