Sorak-sorai membahana saat Leo Rolly Carnando dan Daniel Marthin mengunci medali emas ketiga untuk kontingen Indonesia di Asian Games 2026. Klasemen kita merangkak naik, dan napas lega kembali terdengar dari bangku penonton hingga ruang ganti.
Namun, di balik euforia yang menghiasi linimasa media sosial, ada satu pertanyaan mengganjal yang luput dari perayaan. Mengapa setiap kali posisi Indonesia di papan klasemen multi-event dalam bahaya, bulu tangkis selalu dibebani peran sebagai "pemadam kebakaran"?
Kemenangan Leo/Daniel tentu layak diapresiasi setinggi-tingginya. Keberhasilan mereka membuktikan bahwa regenerasi ganda putra kita masih bernapas lega. Namun, menjadikan raihan ini sebagai penutup cela kekalahan cabor lain adalah bentuk pengabaian terhadap masalah yang jauh lebih mendalam.
Sindrom "Penyelamat Tunggal" di Papan Klasemen
Pola ini bukan hal baru. Di hampir setiap gelaran SEA Games, Asian Games, hingga Olimpiade, skenarionya selalu mirip. Cabor-cabor lain gugur berurutan, target medali terancam meleset, lalu seluruh harapan bangsa ditumpukkan ke pundak para atlet tepok bulu.
Begitu emas dari arena bulu tangkis diraih, publik dan pemangku kebijakan mendadak merasa aman. "Yang penting tidak pulang tanpa emas," begitu kira-kira narasi klasiknya.
Padahal, bergantung pada satu atau dua cabor saja untuk menopang martabat olahraga negara sebesar Indonesia adalah strategi yang sangat berisiko. Ketika cabor utama mengalami penurunan performa atau diterpa badai cedera, seluruh kontingen kita langsung goyah. Kita seperti membangun rumah megah di atas satu tiang penyangga: terlihat gagah, tapi rentan roboh dalam sekali goyangan.
Belajar dari Keseimbangan Jepang dan Thailand
Mengapa negara tetangga seperti Jepang atau Thailand bisa tampil lebih stabil di ajang internasional? Jawabannya terletak pada diversifikasi dan efisiensi anggaran.
Jepang tidak hanya mengandalkan judo, tetapi secara konsisten menggarap atletik dan renang yang menyediakan puluhan pundi medali. Thailand tidak melulu bertaruh pada tinju, melainkan merata hingga angkat beban dan cabang bela diri lainnya. Mereka tidak membiarkan satu cabor menggendong yang lain, melainkan membangun ekosistem juara yang merata.
Sementara di Indonesia, Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) yang digadang-gadang menjadi kompas pembinaan sering kali kalah oleh godaan hasil instan. Anggaran pembinaan kerap terdistribusi secara tidak terukur. Dana justru menumpuk pada cabor yang sudah mandiri secara komersial, sementara cabor terukur yang sepi penonton sering terabaikan.
Dua Langkah Nyata Membenahi Olahraga Nasional
Sudah saatnya kita mengubah cara pandang dalam mengelola prestasi olahraga nasional. Kita membutuhkan dua langkah konkret yang berorientasi solusi:
- Realokasi Anggaran Berbasis Potensi Terukur: Evaluasi total alokasi dana pembinaan. Cabor-cabor terukur yang menyediakan banyak medali (seperti renang, atletik, dan balap sepeda) serta cabor potensi tinggi (seperti panjat tebing dan angkat besi) harus mendapatkan porsi investasi jangka panjang, bukan sekadar dana pemusatan latihan mendadak menjelang kejuaraan.
- Modernisasi Tata Kelola Federasi: Mendorong federasi cabor lain untuk mengadopsi transparansi, sport science, dan profesionalisme tata kelola seperti negara-negara maju. Kemitraan publik-swasta (Public-Private Partnership) perlu dibuka seluas-luasnya agar cabor non-populer tidak melulu menggantungkan hidup pada APBN.
Menang Sebagai Sebuah Sistem, Bukan Keajaiban Individu
Kita tentu bangga atas pencapaian Leo/Daniel dan seluruh tim bulu tangkis yang tak pernah lelah mengharumkan nama bangsa. Namun, penghormatan terbaik untuk kerja keras mereka bukanlah dengan terus-menerus membebankan nasib olahraga Indonesia ke pundak mereka sendirian.
Sudah saatnya cabor-cabor lain bangkit dan berdiri sejajar di podium juara. Sebab, bukankah kebanggaan olahraga yang sejati lahir ketika sebuah bangsa menang sebagai sebuah sistem, bukan cuma karena keajaiban individu?
Baca Juga
-
Menolak Tudingan HAM di PBB Saja Tidak Cukup: Butuh 'Diplomasi Terbuka'
-
Pelajaran Kartu Merah Thom Haye: Timnas Butuh Kurikulum VAR
-
Beban Lapangan dan Riuh Tribun: Menjadikan SUGBK Benteng Timnas
-
Bahaya Terselubung Investasi Rp30,4 Triliun Microsoft: Jangan Sampai Bumi Kita yang Haus!
-
Euforia Harvest Moon dan Ironi Warga Kota Besar yang Dijajah 'Polusi Cahaya'
Artikel Terkait
-
Perjuangan Leo/Daniel di Asian Games 2026: Sembuh Cedera hingga Raih 2 Emas
-
Leo/Daniel Raih Emas Ganda Putra Asian Games 2026
-
Ucapan Romantis Leo Rolly ke Istri Usai Persembahkan Medali Emas Asian Games 2026
-
Tragis! Afghanistan Tersingkir dari Asian Games 2026 Tanpa Bertanding karena Lapangan Banjir
-
Duduk Perkara Rizki Juniansyah Absen di Asian Games 2026 Bukan karena Positif Doping
Kolom
-
Menolak Tudingan HAM di PBB Saja Tidak Cukup: Butuh 'Diplomasi Terbuka'
-
Sering Sayang Hapus Screenshot dan Chat Lama? Kenali Bahaya Digital Hoarding bagi Mentalmu
-
Pentingnya Jaga Mental Krisis Iklim Anak Muda dari Sustainability Burnout
-
Masih Dianggap Tabu, Padahal Marital Rape Diatur dalam Hukum Indonesia
-
Keracunan MBG: Antara Kelalaian, Pengawasan, dan Tanggung Jawab Pidana
Terkini
-
Kisah Pilu Tragedi KMP Virgo: Saat Firasat Saudara Kembar Terjawab di Balik Kantong Jenazah
-
A Love Other Than Yours: Takdir Cinta Penuh Rahasia di Antara Dua Pilihan
-
Dahyun TWICE dan Cha Woo Min Bintangi Film Romansa Clouds Roll Like Gureumi
-
5 Parfum Fresh Pria dengan Aroma Maskulin dan Menyegarkan
-
Review The Weight: Saat Misi Membawa Emas Jadi Taruhan Nyawa