Startup identik dengan dashboard, metrik, dan keputusan berbasis data. Namun di sebagian ruang rapat ada kebiasaan lain yang jarang diakui secara terbuka. Sejumlah pendiri disebut menyewa konsultan spiritual atau pembaca kartu tarot setiap bulan untuk membantu keputusan penting. Praktik ini terdengar aneh bagi industri yang bangga pada logika. Tetapi ada penjelasan masuk akal di baliknya.
Ketika Angka Berhenti Menjawab
Bagi pendiri startup, banyak keputusan besar harus diambil tanpa data yang cukup. Frank Knight dalam bukunya Risk, Uncertainty, and Profit membedakan risiko dari ketidakpastian. Risiko adalah situasi yang peluangnya bisa dihitung. Ketidakpastian adalah situasi yang peluangnya tidak bisa diukur. Startup hidup di wilayah kedua. Tidak ada tabel yang memastikan produk baru akan diterima pasar atau investor bersedia mendanai putaran berikutnya. Di titik inilah sebagian pendiri mencari pegangan di luar angka.
Layanan yang mereka sewa biasanya mencakup tiga hal. Konsultan menentukan hari baik untuk peluncuran produk. Ia membaca karakter calon investor sebelum pertemuan penting. Ia juga membersihkan apa yang disebut energi negatif di kantor baru. Tarifnya umumnya berbentuk langganan bulanan sehingga hubungan dengan konsultan terasa mirip hubungan dengan penasihat bisnis. Praktik ini paling sering dilakukan menjelang momen besar seperti pendanaan atau peluncuran.
Ada alasan lain yang jarang disebut. Pendiri sering menanggung beban keputusan seorang diri. Rekan kerja bergantung pada mereka dan investor menuntut kepastian. Konsultan spiritual hadir sebagai teman bicara yang tidak menilai dan tidak punya kepentingan di dalam perusahaan. Percakapan semacam itu memberi ruang untuk menenangkan pikiran sebelum mengambil keputusan besar.
Ritual di Wilayah Ketidakpastian
Pola ini sebenarnya sangat tua. Nelayan di Kepulauan Trobriand memakai ritual saat melaut ke laut dalam yang berbahaya tetapi tidak saat menangkap ikan di laguna yang aman. Temuan antropolog Bronisaw Malinowski itu menunjukkan bahwa ritual muncul di tempat hasil akhir sulit dikendalikan. Psikolog Ellen Langer menambahkan sisi lain lewat konsep illusion of control. Orang cenderung merasa mampu mengendalikan hasil yang sebenarnya ditentukan peluang ketika mereka terlibat aktif dan membuat pilihan sendiri. Memilih tanggal peluncuran lewat perhitungan tertentu memberi keterlibatan semacam itu. Ritual tidak hanya menenangkan tetapi juga menghadirkan rasa memegang kendali. Gabungan dua temuan ini menjelaskan kenapa ritual bertahan di lingkungan yang mengaku rasional. Ia tidak menggantikan data. Ia mengisi ruang kosong yang tidak bisa diisi data.
Hari Baik untuk Peluncuran
Penentuan hari baik punya akar kuat dalam tradisi Jawa. Penelitian Aisha, Hudaidah, dan Yati terhadap naskah primbon Jawa Timur menunjukkan bahwa perhitungannya mengikuti algoritma numerik yang memadukan weton, pancawara, dan unsur astrologi. Tradisi itu biasa dipakai untuk peristiwa penting seperti tingkepan atau upacara tujuh bulan kehamilan. Jadi ketika pendiri startup meminta hari baik untuk peluncuran, mereka memakai sistem lama yang punya logika internalnya sendiri. Bedanya kini sistem itu dipakai untuk menjawab pertanyaan bisnis. Di Indonesia hal ini terasa wajar karena urusan spiritual dan urusan usaha sudah lama berjalan berdampingan. Peneliti yang sama menyebut primbon masih relevan sebagai pedoman budaya di tengah modernisasi. Kehadirannya di dunia startup hanyalah bentuk terbaru dari kelangsungan itu.
Membaca Investor lewat Kartu
Pembacaan karakter investor lewat kartu tarot jauh lebih sulit dibela. Tidak ada bukti bahwa kartu dapat mengungkap niat seseorang. Namun praktik ini bisa dipahami sebagai cermin. Sesi pembacaan memaksa pendiri menyebutkan kekhawatiran dan kesan yang selama ini hanya berupa firasat. Masalah muncul ketika kesan itu dianggap kebenaran. Pendiri yang terbiasa menanyakan alasan di balik setiap angka sebaiknya menerapkan kebiasaan yang sama pada hasil pembacaan itu. Kesan awal terhadap investor perlu diuji lewat percakapan langsung dan pengecekan latar belakang. Keputusan menerima atau menolak pendanaan tetap harus bertumpu pada uji tuntas terhadap rekam jejak investor.
Energi Kantor Baru dan Keyakinan Diri
Ritual pembersihan energi di kantor baru punya fungsi yang lebih mudah dijelaskan. Studi Damisch, Stoberock, dan Mussweiler menemukan bahwa jimat keberuntungan meningkatkan kinerja pada tugas seperti golf, memori, dan teka-teki. Penyebabnya bukan kekuatan gaib. Keyakinan diri peserta meningkat sehingga mereka lebih gigih menyelesaikan tugas. Jika ritual di kantor baru membuat tim merasa memulai dari awal yang bersih, efek psikologisnya bisa nyata walaupun penjelasan spiritualnya tidak dapat diuji. Semangat tim yang naik adalah hasil yang bisa dirasakan siapa pun. Namun efek itu bergantung pada keyakinan tim. Jika sebagian anggota merasa tidak nyaman, manfaatnya justru hilang.
Batas yang Perlu Dijaga
Ritual sebaiknya melengkapi analisis dan bukan menggantikannya. Peluncuran yang menunggu hari baik tetap harus lolos uji kelayakan produk. Biaya konsultasi bulanan juga perlu dinilai manfaatnya seperti pengeluaran lain. Karyawan pun punya keyakinan yang beragam sehingga ritual di kantor tidak boleh memaksa siapa pun ikut. Pendiri yang terbuka kepada timnya soal alasan di balik ritual akan lebih mudah menjaga kepercayaan. Konsultan yang bekerja secara profesional pun sebaiknya tidak menjanjikan hasil pasti. Janji bahwa peluncuran pasti sukses pada tanggal tertentu adalah tanda untuk waspada.
Fenomena ini menunjukkan bahwa dunia usaha tidak sepenuhnya digerakkan logika angka. Manusia tetap mencari pegangan ketika masa depan gelap. Kartu tarot dan primbon tidak akan menutup lubang di laporan keuangan. Tetapi pendiri yang merasa tenang sering mengambil keputusan yang lebih jernih. Yang membedakan pendiri bijak dari pendiri gegabah adalah kemampuan memisahkan pegangan batin dari dasar keputusan bisnis.
Baca Juga
-
Profesi Unik 'Ghostwriter' Aplikasi Kencan: Dibayar Mahal Cuma Buat Balas Chat Cari Jodoh!
-
Meritokrasi Sudah Mati, Kenali Fenomena 'Neo-Feodalisme' di Kantormu!
-
Kuliner Wisata Kemiren Meluapkan Limbah Sapi Biogas Desa
-
Tragedi Tebet: Ketika Fasilitas Publik Berubah Menjadi Kuburan bagi Balita Tak Berdosa
-
Menunggu Hilal di Atas Andong: Saat Lonceng Kuda Lebih Merdu dari Klakson Ojol
Artikel Terkait
-
Startup Digital Purwodadi Bangun Ekosistem Kreatif, Anak Muda Lokal Jadi Motor Penggerak
-
Bukan Sekadar Tren AI, 5 Startup Ini Bawa Kecerdasan Buatan ke Masalah Nyata
-
Quantum Accelerator Pertama di Singapura Resmi Diluncurkan, Startup Indonesia Masuk Daftar
-
Tarif KOL Capai Rp 150 Juta, Startup Ini Pilih Bayar Konsumen Biasa
-
Startup Singapura Luncurkan Platform AI untuk UMKM Indonesia, Bantu Brand Kuasai Pencarian Google
Kolom
-
Jeritan Ekonomi Akar Rumput: Pertumbuhan yang Gagal Menetes
-
Eksploitasi Terselubung: Bahaya Nyata Sharenting bagi Masa Depan Anak
-
Bukan Suka Disakiti, Mungkin Kita Hanya Terbiasa dengan Pola yang Salah
-
Tak Terima, Malaysia Pertanyakan Injury Time Timnas Indonesia, Mengapa?
-
Gerak Cepat Sarawak di Perbatasan: Ancaman atau Peluang Emas untuk Pembangunan IKN?
Terkini
-
Review Ibadah & Cinta: Konflik Keluarga Menarik, Eksekusinya Kurang Terarah
-
Gak Mau Kalah dari Avengers, Spider-Man: Brand New Day Bakal Dirilis Ulang
-
Cegah Bibir Hitam! 4 Lip Balm SPF 30 untuk Outdoor Lindungi dari Sinar UVA
-
Kedaulatan di Atas Kertas: Menggugat Sentralisasi di Launching Buku UGM
-
Kisah Ayu Rianna, Penulis yang Jadikan Kebaya sebagai Outfit Keseharian