Berlari sepuluh kilometer ternyata bisa dibeli. Yang dibeli bukan kebugaran melainkan tampilannya. Seseorang membayar orang lain untuk berlari sambil membawa ponselnya supaya akun Strava terlihat rajin. Fenomena ini disebut joki Strava dan sempat ramai dibicarakan. Sesudah itu muncul kerabatnya yang lebih aneh. Ada jasa karangan bunga yang dikirim ke kantor sendiri dan jasa kalender kerja penuh untuk dipamerkan di depan mertua.
Kejadian ini sempat viral di media sosial dan memicu perdebatan panjang. Sebagian orang menganggapnya lucu dan kreatif. Sebagian lain menganggapnya tanda bahwa validasi sudah menjadi kebutuhan yang bisa dibeli seperti barang di etalase. Fenomena serupa lalu bermunculan di luar dunia olahraga, membuktikan bahwa pola ini bukan sekadar tren sesaat.
Ketika Lari Cuma Angka di Layar
Strava dirancang untuk merekam aktivitas lalu membagikannya. Bagi banyak pelari itu fitur yang menyenangkan. Masalah muncul ketika rekamannya lebih penting daripada larinya. Marilyn Strathern menulis dalam kajiannya tentang budaya audit bahwa ukuran yang dijadikan target akan berhenti menjadi ukuran yang baik. Aturan itu berlaku juga di sini. Jarak dan kecepatan awalnya hanya cermin kebugaran. Begitu angka dikejar demi dilihat orang, jalan pintas menjadi menggoda. Membayar joki adalah jalan pintas yang paling ekstrem. Uniknya, joki Strava biasanya tetap harus berlari sungguhan meski bukan untuk dirinya sendiri. Ia menyewakan tenaganya, bukan kejujurannya, sehingga profesi ini berada di wilayah abu-abu antara jasa dan kebohongan.
Ada pelajaran psikologis di balik itu. Deci, Koestner, dan Ryan meninjau 128 studi dan menemukan bahwa imbalan eksternal yang nyata cenderung melemahkan minat alami terhadap suatu kegiatan. Umpan balik positif yang tulus justru dapat menguatkannya. Fenomena Strava sebenarnya juga menyingkap sisi lain dari media sosial olahraga.
Aplikasi semacam ini dirancang agar aktivitas terasa seperti permainan lengkap dengan lencana dan papan peringkat. Ketika unsur permainan itu lebih dominan dibanding manfaat kesehatannya, orang mulai mengejar lencana, bukan napas yang lebih panjang atau tubuh yang lebih bugar. Bedanya terletak pada tujuan. Pujian yang menyertai kegiatan yang dinikmati menyehatkan. Pujian yang menjadi satu-satunya alasan berlari mengubah olahraga menjadi pekerjaan tanpa gaji.
Bunga Kiriman dan Kalender Palsu
Karangan bunga yang dikirim ke kantor sendiri bekerja dengan logika yang sama. Rekan kerja melihat bunga itu lalu menyimpulkan bahwa si penerima punya banyak relasi. Kalender kerja penuh menyampaikan pesan lain kepada mertua. Menantu ini penting dan waktunya berharga. Kedua jasa itu menjual kesan. Isinya kosong. Bedanya dengan joki Strava, joki bunga dan joki kalender tidak butuh tenaga fisik sama sekali. Yang dijual murni ilusi, dikemas rapi lewat pengiriman barang atau susunan jadwal yang terlihat meyakinkan di mata orang lain.
Kesibukan memang bisa berfungsi sebagai simbol status. Bellezza, Paharia, dan Keinan menemukan bahwa orang yang tampak sibuk dinilai lebih kompeten dan ambisius serta dianggap dicari pasar kerja. Studi mereka dilakukan di Amerika Utara dan Eropa dan hasilnya dipengaruhi persepsi tentang mobilitas sosial. Belum ada bukti langsung untuk konteks Indonesia. Namun cara sebagian keluarga menilai menantu yang sibuk terasa cukup akrab untuk dibandingkan. Ironisnya, usaha menjaga kesan itu justru menambah beban pikiran. Alih-alih tenang karena dianggap sibuk dan penting, banyak orang malah waswas kalau kebohongannya terbongkar sewaktu-waktu.
Gagasan ini jauh lebih tua dari media sosial. Thorstein Veblen memperkenalkan istilah konsumsi mencolok pada 1899 untuk pengeluaran yang tujuannya memamerkan status. Ia juga menggambarkan bentuk perwakilan, yaitu tuan rumah yang mempekerjakan pelayan supaya kemampuan finansialnya terlihat. Joki adalah versi digital dari pola itu. Orang lain berlari, mengirim bunga, atau menyusun jadwal supaya klien terlihat mampu.
Kenapa Pengakuan Terasa Semahal Itu?
Media sosial menyediakan perbandingan tanpa henti. Vogel dan rekan-rekannya menemukan bahwa pengguna Facebook yang lebih sering memakainya cenderung punya harga diri lebih rendah karena terus terpapar perbandingan ke atas. Eksperimen mereka menambahkan temuan yang relevan. Profil yang menampilkan kebiasaan sehat dan jaringan sosial yang aktif menurunkan harga diri sesaat pada orang yang melihatnya. Temuan awalnya bersifat korelasional dan tidak berarti semua pengguna terdampak.
Bayangkan dampaknya pada lingkaran pertemanan. Satu orang membayar joki agar akunnya terlihat rajin. Temannya melihat akun itu lalu merasa tertinggal. Teman itu ikut tergoda mencari jalan pintas. Lingkarannya berputar dan yang diuntungkan hanya penyedia jasa.
Harga yang Sebenarnya Dibayar
Harga sesungguhnya jauh melebihi tarif joki. Risiko ketahuan selalu ada dan rasa malunya lebih mahal dari uang jasa. Ada juga harga yang lebih dalam. Klien tidak memperoleh apa pun yang bisa dirasakan tubuhnya. Paru-parunya tidak bertambah kuat. Relasinya tidak bertambah banyak. Kalender penuhnya tidak membuatnya lebih dihargai saat kenyataan terbongkar.
Ukuran yang lebih sehat bisa dimulai dari satu pertanyaan sederhana. Apakah aku tetap melakukan ini jika tidak ada yang melihat? Jika jawabannya tidak, ada baiknya berbicara jujur dengan diri sendiri. Perasaan tidak pernah cukup baik yang terus menghantui juga layak dibicarakan dengan psikolog atau orang tepercaya. Kalau perlu, coba lakukan puasa media sosial beberapa hari, lalu amati apakah dorongan untuk pamer itu ikut mereda. Lari lima menit yang sungguhan lebih berguna daripada sepuluh kilometer palsu.
Metrik boleh dipamerkan. Hanya jangan sampai metrik terlihat lebih hidup daripada orangnya.
Baca Juga
-
Ramai Jasa Bikin Surat Sakit Palsu: Bukti Karyawan Makin Licik atau Budaya Kerja yang Toxic?
-
Menolak Promosi Demi Hidup Tenang: Mengenal Tren Career Minimalism di Dunia Kerja
-
Tarot, Primbon, dan Ilusi Kendali: Cara Unik Founder Startup Hadapi Ketidakpastian Bisnis
-
Profesi Unik 'Ghostwriter' Aplikasi Kencan: Dibayar Mahal Cuma Buat Balas Chat Cari Jodoh!
-
Meritokrasi Sudah Mati, Kenali Fenomena 'Neo-Feodalisme' di Kantormu!
Artikel Terkait
-
Bukan Lagi Sekadar Relaksasi, Tren Wellness Ubah Industri Spa Indonesia
-
Masih Ingat Sepatu Bata? Begini Perjalanan Brand Ini Selama 95 Tahun di Indonesia
-
Rumah Terlalu Lembap Bisa Ganggu Kesehatan, Ini Cara Mengatasinya
-
Punya Tumbler Belum Tentu Ramah Lingkungan, Apa yang Perlu Diperhatikan?
-
Bahaya Praktik Greenwashing, Perhatikan Gaya Hidup Hijau agar Tidak Tertipu
Lifestyle
-
5 Bahan Makanan Tradisional yang Kini Mendunia, Ada Matcha hingga Ube!
-
Rekonstruksi Mindset: Jeda Itu Ruang Istirahat, Bukan Tempat Cari Jawaban
-
Realme P4s Lite Resmi Rilis: Usung Baterai 7.000 mAh dan Ketahanan 6 Tahun
-
WhatsApp Siapkan Fitur Baru Sembunyikan Chat dari Perangkat Terhubung
-
Tak Perlu Mahal, 6 HP Rp2 Jutaan Ini Sudah Dibekali Fitur NFC
Terkini
-
Han So Hee hingga Rain Dikonfirmasi Gabung Cast Live Action Solo Leveling
-
Film Baru Space Battleship Yamato 2199 Resmi Diumumkan, Anno Jadi Sutradara
-
Manchuria Opium Squad Dapat Adaptasi Anime, Serialisasi Manga Berlanjut
-
Sinopsis A Taste of Life, Drama China yang Dibintangi Li Qin dan Hu Ge
-
Fangirling di Usia 20-an: Bolehkah Kita Bahagia Karena Hal Sesederhana Ini?