Setiap acara keluarga besar, pertanyaan itu selalu muncul. "Sekarang sudah jadi manajer belum?" Atau versi lain, "kok dari dulu jabatannya itu-itu saja?" Pertanyaan semacam ini terdengar wajar, bahkan terkesan peduli. Tapi bagi sebagian orang, pertanyaan itu terasa aneh untuk dijawab, karena jawabannya sebenarnya sederhana. Mereka memang tidak mau naik jabatan.
Fenomena ini punya nama, career minimalism. Bukan berarti malas kerja, apalagi menganggur. Orang-orang ini tetap bekerja dengan baik, datang tepat waktu, menyelesaikan tugas dengan rapi. Yang mereka tolak cuma satu, ambisi vertikal. Tidak mau memimpin tim. Tidak tertarik promosi. Betah bertahun-tahun di posisi yang sama, selama posisi itu terasa aman dan tidak menyita seluruh hidupnya.
Konsep ini sebenarnya berakar dari pertanyaan lama yang jarang dipikirkan serius, kenapa manusia begitu percaya bahwa kerja keras itu otomatis mulia. Filsuf Bertrand Russell sudah mempertanyakan ini sejak tahun 1932, lewat esainya In Praise of Idleness. Russell menulis, kepercayaan bahwa bekerja keras itu selalu baik justru menyebabkan kerugian besar bagi masyarakat. Menurutnya, dunia sebenarnya butuh lebih sedikit kerja, bukan lebih banyak, supaya manusia punya ruang menikmati hidupnya sendiri.
Pandangan Russell terdengar berani untuk zamannya, dan justru makin relevan sekarang. Jurnalis Simone Stolzoff, dalam bukunya The Good Enough Job, menemukan pola serupa lewat riset dan wawancara ke ratusan pekerja. Banyak orang diam-diam terjebak menyamakan dirinya dengan pekerjaannya. Ketika identitas seseorang sepenuhnya melekat pada jabatan, kehilangan jabatan terasa seperti kehilangan diri sendiri. Stolzoff justru mengajak pembaca menerima gagasan sederhana, pekerjaan cukup jadi bagian dari hidup, bukan seluruh hidup itu sendiri.
Menariknya, dunia akademik sudah lama membahas kondisi serupa lewat istilah career plateau, atau titik jenuh karier. Penelitian Ference, Stoner, dan Warren yang terbit di Academy of Management Review menjelaskan, plateau sering dianggap sebagai kegagalan seseorang mencapai puncak. Padahal, penelitian itu juga menunjukkan, banyak orang justru merasa lebih puas dan produktif ketika berhenti mengejar posisi yang lebih tinggi, asal mereka tetap merasa dihargai di posisi tersebut.
Jadi, menetap di satu posisi selama bertahun-tahun bukan otomatis tanda gagal berkembang. Bisa jadi itu tanda seseorang sudah tahu persis apa yang membuatnya nyaman, dan cukup percaya diri untuk tidak ikut arus yang menuntutnya terus naik.
Coba bayangkan dua orang dengan gaji sama. Orang pertama sibuk memimpin tim besar, rapat dari pagi sampai malam, ponselnya berdering terus meski sudah lewat jam kerja. Orang kedua pulang tepat waktu, sempat menyiram tanaman di teras, makan malam bersama keluarga tanpa terganggu notifikasi kerja. Siapa yang lebih sukses? Pertanyaan ini sebenarnya tidak punya jawaban tunggal, karena definisi sukses tiap orang memang berbeda.
Career minimalism juga bukan berarti tidak punya ambisi sama sekali. Ambisinya cuma dialihkan ke tempat lain. Ada yang mengalihkan energi ke hobi yang sudah lama tertunda. Ada yang memilih fokus membesarkan anak tanpa distraksi kerja berlebihan. Ada juga yang sekadar ingin punya waktu untuk dirinya sendiri, tanpa harus merasa bersalah karena tidak produktif setiap saat.
Tantangan terbesar justru datang dari lingkungan sosial, bukan dari pekerjaan itu sendiri. Budaya kerja masih sering menyamakan nilai seseorang dengan jabatannya. Orang yang menolak promosi gampang dicap tidak berambisi, bahkan dianggap menyia-nyiakan potensi. Padahal, menolak posisi yang lebih tinggi bisa jadi keputusan paling sadar yang pernah diambil seseorang, karena ia tahu betul harga yang harus dibayar di baliknya.
Kalau sekarang kamu termasuk orang yang nyaman di posisi yang sama selama bertahun-tahun, dan orang sekitar mulai bertanya-tanya kenapa tidak naik jabatan, kamu tidak perlu buru-buru menjelaskan diri. Cukup jelaskan sekali, bahwa kamu memilih ini secara sadar, bukan karena tidak mampu lebih. Setelah itu, biarkan hidupmu sendiri yang menjawab, lewat ketenangan yang kamu rasakan tiap pulang kerja tepat waktu.
Career minimalism bukan gerakan malas-malasan. Ini gerakan sadar untuk berhenti mengukur hidup cuma dari jabatan di kartu nama, dan mulai mengukurnya dari seberapa tenang seseorang menjalani harinya.
Baca Juga
-
Tarot, Primbon, dan Ilusi Kendali: Cara Unik Founder Startup Hadapi Ketidakpastian Bisnis
-
Profesi Unik 'Ghostwriter' Aplikasi Kencan: Dibayar Mahal Cuma Buat Balas Chat Cari Jodoh!
-
Meritokrasi Sudah Mati, Kenali Fenomena 'Neo-Feodalisme' di Kantormu!
-
Kuliner Wisata Kemiren Meluapkan Limbah Sapi Biogas Desa
-
Tragedi Tebet: Ketika Fasilitas Publik Berubah Menjadi Kuburan bagi Balita Tak Berdosa
Artikel Terkait
-
Tak Perlu Jadi Manusia Super, Tanyakan 3 Hal Ini ke Dirimu Sendiri untuk Menjaga Kewarasan
-
Suka Simpan Barang Tak Terpakai? Awas, Ini Bedanya Kolektor dan Penderita Hoarding Disorder
-
Bukan Sekadar Tempat Rekreasi, Taman Kota Bisa Bantu Jaga Kesehatan Mental
-
Kentongan Pukul Tiga Malam
-
Jalan Panjang Karier Komjen Suyudi Ario Seto, dari Reserse Kriminal Jadi Calon Kapolri
Lifestyle
-
Kerja Outdoor? 5 Face Wash Pria Bikin Muka Bersih dan Segar Seharian!
-
5 Fakta tentang Intoleransi Laktosa, Ternyata Beda dari Alergi Susu Sapi?
-
Mulai Rp50 Ribuan! Rekomendasi Serum Bebas Pewangi agar Jerawat Minggat Tanpa Bikin Kering
-
Anti-Breakout! 4 Hybrid Sunscreen Mugwort Redakan Kemerahan dan Iritasi
-
Cari Monitor Buat Kuliah dan Gaming? Ini 8 Pilihan Rp1 Jutaan
Terkini
-
Chanyeol EXO Ungkap Kerinduan Mendalam di Lagu Jepang Terbaru, Song For You
-
Petualangan Bubu Si Awan Kecil
-
Menelusuri Jejak Sejarah dan Kebudayaan Bondowoso dalam Sebuah Buku
-
Tak Harus Pergi Jauh, Jeda Singkat Bisa Dimulai dari Rutinitas Sederhana
-
Konten Edukasi Finansial: Menambah Wawasan atau Malah Bikin Cemas?