Seseorang memiliki cara berbeda dalam menghadapi tuntutan kehidupan. Ada yang berusaha selalu terlihat kuat, ada pula yang terbiasa menyenangkan orang lain agar tidak mengecewakan siapa pun. Sikap seperti itu terkadang dianggap sebagai bagian dari kepribadian. Namun, pernahkah kita berpikir bahwa kebiasaan tersebut mungkin terbentuk dari pengalaman yang pernah dialami sejak kecil?
Persoalan tersebut menjadi salah satu gagasan yang dihadirkan dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ, dalam bukunya yang berjudul Seorang Anak yang Bersembunyi di Balik Topeng Superhero. Buku terbitan Gramedia Pustaka Utama ini mengajak pembaca memahami bagaimana pengalaman masa kecil dan pola pengasuhan dapat memengaruhi cara seseorang bersikap ketika dewasa. Melalui kisah-kisah dari ruang konsultasi dan penjelasan psikologis, Andreas berusaha mendekatkan persoalan kesehatan mental dengan kehidupan sehari-hari.
Salah satu hal menarik dari buku ini adalah penggunaan gambaran topeng superhero untuk menjelaskan cara seseorang melindungi dirinya. Ada orang yang terbiasa terlihat tangguh, selalu tersenyum, atau berusaha memenuhi harapan orang lain, meskipun sebenarnya memiliki perasaan yang tidak mudah diungkapkan. Topeng tersebut dapat membantu seseorang merasa lebih aman dan diterima oleh lingkungan.
Pemilihan topeng superhero sebagai gambaran menjadi kekuatan tersendiri dalam buku ini. Sosok superhero selama ini identik dengan keberanian dan kekuatan. Namun, melalui sudut pandang Andreas, pembaca diajak melihat bahwa seseorang yang tampak kuat belum tentu tidak memiliki ketakutan atau kerentanan. Perumpamaan tersebut membuat pembahasan mengenai mekanisme pertahanan diri terasa lebih dekat dan mudah dipahami.
Hal menarik lainnya terlihat dalam pembahasan mengenai people pleaser. Melalui kisah Stelora, penulis menggambarkan seseorang yang terbiasa menjadi anak baik, rajin, dan berusaha memenuhi harapan orang-orang di sekitarnya. Kebiasaan itu kemudian terbawa hingga dewasa. Ia merasa tidak nyaman ketika harus menolak permintaan orang lain karena takut mengecewakan mereka.
Dari pengalaman tersebut, Andreas menghubungkannya dengan pentingnya boundaries atau batasan diri. Menolak permintaan yang tidak sanggup dipenuhi bukan berarti tidak peduli kepada orang lain. Setiap orang memiliki kemampuan dan keterbatasan yang perlu dihargai. Penjelasan ini menjadi salah satu bagian yang bermanfaat karena membantu pembaca memahami bahwa menjaga hubungan dengan orang lain tidak harus dilakukan dengan mengabaikan kebutuhan diri sendiri.
Pembahasan tentang inner child juga memberikan warna tersendiri. Penulis menjelaskan bahwa pengalaman masa kecil dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya dan menjalani hubungan dengan orang lain. Untuk membantu pembaca merenungkan pengalaman tersebut, buku ini menghadirkan latihan menulis surat kepada inner child. Cara penyampaian ini membuat pembaca tidak hanya memperoleh penjelasan, tetapi juga diajak melakukan refleksi pribadi.
Latar belakang Andreas sebagai seorang psikiater turut menjadi keunggulan buku ini. Pengetahuan profesionalnya dipadukan dengan kisah-kisah dan analogi yang dekat dengan kehidupan. Bahasa yang ringan serta ilustrasi visual membuat pembahasan psikologi yang cukup serius lebih nyaman diikuti.
Meski demikian, pendekatan populer tersebut tidak otomatis memenuhi kebutuhan pembaca yang menginginkan penjelasan psikologi secara mendalam. Beberapa pembahasan lebih menekankan pemahaman dan refleksi daripada uraian teori yang terperinci. Latihan yang disajikan pun sebaiknya dipahami sebagai sarana mengenali diri, bukan sebagai pengganti bantuan profesional ketika seseorang membutuhkan pendampingan lebih lanjut.
Pada akhirnya, buku ini mengingatkan bahwa perilaku seseorang tidak selalu dapat dinilai hanya dari apa yang terlihat. Di balik sikap yang dianggap terlalu kuat, terlalu baik, atau sulit menolak, mungkin terdapat pengalaman yang ikut membentuknya. Kita pun perlu belajar memahami diri sendiri tanpa terus-menerus menyalahkan masa lalu. Sebab, mengenali asal-usul suatu kebiasaan dapat menjadi langkah untuk menentukan sikap yang lebih baik hari ini.
Buku Seorang Anak yang Bersembunyi di Balik Topeng Superhero ini dapat menjadi bacaan bagi siapa saja yang ingin memahami hubungan antara pengalaman masa kecil dan kehidupan ketika dewasa. Selamat membaca!
Identitas Buku
- Judul: Seorang Anak yang Bersembunyi di Balik Topeng Superhero
- Penulis: dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ
- Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
- Cetakan: Pertama, Mei 2026
- ISBN: 978-602-06-8846-6
- ISBN PDF: 978-602-06-8847-3
Baca Juga
-
Merawat Ingatan tentang Tanah Melayu dalam Kenangan-Kenanganku di Malaya
-
Novel Tanah Para Bandit: Ketika Penegak Hukum Justru Terlibat Kejahatan
-
Novel Bungkam Suara: Ketika Kebebasan Berbicara Menjadi Sumber Perpecahan
-
Mendidik Anak dengan Kasih Sayang ala Nabi dalam Happy Islamic Parenting
-
Mengulik Makna Kedukaan: Buku Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring
Artikel Terkait
-
Menguliti Sisi Gelap Dunia Kerja di Novel Kami (Bukan) Jongos Berdasi
-
Tak Hanya Menyembuhkan, 5 Dokter ini juga Bagikan Inspirasi Lewat Tulisan
-
Malaikat Maut Juga Bisa Galau? Sisi Lain Kematian di Novel Setelah Melompat Aku Ingin Hidup
-
Belajar Atur Waktu Layar Anak Lewat Buku Cerita Gara-Gara Game Online
-
Bukan Sekadar Dongeng, Ini Alasan Buku Pangeran Cilik Wajib Kamu Baca Ulang Saat Dewasa
Ulasan
-
Ketika Menjadi Berbeda Justru Membuatmu Istimewa
-
Uang Asuransi 2 Miliar Melayang Gara-Gara Mati Suri? Intip Serunya Film Gak Ada Matinya!
-
Gadis Minimarket: Satir Jenius Pegawai Toko Melawan Stigma Sosial
-
Melawan Trauma Body Shaming dalam Novel The Boy I Knew From YouTube
-
Ulasan Film The Imaginary: Ketika Imajinasi Menjadi Tempat untuk Bertahan
Terkini
-
Bebas Bibir Pecah: 4 Lip Care Sunflower Seed Oil Penjaga Kelembapan
-
Niat Hati Healing, Malah Jatuh Miskin: Kenali Jebakan Doom Shopping di Kala Stres!
-
Rela Ngutang demi Hajatan Mewah, tapi Anak Minta Kuliah Jawabnya "Gak Ada Biaya", Kok Bisa?
-
Dibintangi Bradley Cooper, Film G.I. Joe Terbaru Siap Tayang Oktober 2028
-
Ambisi Besar PSSI di Piala Asia 2027: 10 Pemain Naturalisasi Jadi Senjata Rahasia?