Hikmawan Firdaus | Dian Haerani
Ilustrasi Orang Mengambil Jeda (Pexels/Baixi Liu)
Dian Haerani

Seringkali aku merasa bahwa setiap hari haruslah menghasilkan sesuatu. Bangun tidur, membuka laptop, mengerjakan pekerjaan, menulis, belajar hal baru, membalas pesan, menyelesaikan daftar tugas, lalu tidur dengan pikiran tentang apa saja yang harus dilakukan besok. Rasanya seperti tidak pernah benar-benar berhenti.

Bahkan ketika tubuh sudah terasa lelah, ada suara kecil di kepala yang mengatakan, “Ayo, sedikit lagi. Kamu masih bisa melakukan sesuatu.” Lucunya, terkadang ketika akhirnya aku memilih untuk beristirahat, aku justru merasa bersalah.

Rebahan terlalu lama dianggap malas. Menonton film dianggap membuang waktu. Tidur siang dianggap tidak produktif. Menghabiskan satu hari tanpa mengerjakan sesuatu terasa seperti sebuah kesalahan. Pasti aku tidak sendirian dalam hal ini.

Di usia 20-an, rasanya kita tumbuh bersama dengan tuntutan untuk terus berkembang. Ada dorongan untuk punya pekerjaan, membangun karier, belajar banyak hal, menghasilkan karya, memiliki pencapaian, dan tentu saja tidak tertinggal dari orang lain.

Media sosial juga terkadang membuat semuanya terasa semakin cepat. Kita melihat orang lain yang sedang bekerja, belajar, membangun bisnis, bepergian, atau mencapai sesuatu di usia yang sama. Tanpa sadar, kita membandingkan hidup sendiri dengan kehidupan orang lain yang hanya kita lihat melalui beberapa unggahan.

Akhirnya, istirahat pun terasa seperti kemewahan. Padahal, semakin lama aku menjalani rutinitas seperti itu, semakin aku sadar bahwa tubuh dan pikiran juga punya batasnya sendiri.

Ada hari ketika aku duduk di depan laptop, tetapi tidak ada satu pun ide yang berhasil kutulis. Aku memaksakan diri untuk tetap bekerja karena merasa harus produktif. Namun, semakin dipaksakan, semakin sulit rasanya berkonsentrasi. Pada akhirnya aku berhenti.

Aku menutup laptop, berbaring sebentar, membuat minuman, menonton sesuatu yang ringan, atau sekadar membiarkan diri untuk tidak melakukan apa-apa. Dan ternyata, dunia tidak runtuh. Pekerjaanku masih bisa dilanjutkan.

Tugas-tugas itu tidak tiba-tiba menghilang. Aku juga tidak menjadi seseorang yang gagal hanya karena mengambil waktu untuk beristirahat. Justru setelah memberi diri sendiri jeda, aku sering kali bisa kembali dengan pikiran yang lebih segar.

Dari situ aku mulai memahami bahwa istirahat bukan lawan dari produktivitas. Istirahat adalah bagian dari produktivitas itu sendiri. Kita sering menganggap produktif berarti terus melakukan sesuatu. Padahal, produktivitas juga membutuhkan kemampuan untuk mengetahui kapan harus berhenti.

Sama seperti tubuh yang membutuhkan tidur setelah beraktivitas seharian, pikiran juga membutuhkan waktu untuk bernapas. Tidak mungkin kita terus-menerus memaksa diri berpikir, bekerja, belajar, dan menghasilkan sesuatu tanpa memberikan kesempatan untuk memulihkan energi.

Istirahat bukan berarti menyerah. Istirahat juga bukan berarti kita malas. Terkadang, berhenti justru merupakan cara kita menjaga diri agar bisa melanjutkan perjalanan dengan lebih baik.

Aku mulai belajar untuk tidak selalu mengisi setiap waktu kosong dengan aktivitas. Kalau ada satu sore ketika aku tidak ingin mengerjakan apa pun, aku mencoba membiarkan diriku menikmati sore itu. Kalau tubuh terasa lelah, aku mencoba tidur lebih awal tanpa merasa harus menyelesaikan semuanya malam itu juga.

Tentu saja, belajar seperti ini tidak mudah. Rasa bersalah terkadang masih muncul. Apalagi ketika melihat orang lain terlihat begitu sibuk dan produktif. Ada perasaan takut tertinggal, takut tidak cukup baik, atau takut waktu yang kita punya terbuang percuma.

Namun, aku mulai bertanya kepada diri sendiri, sebenarnya untuk apa aku terus berlari kalau pada akhirnya aku bahkan tidak punya tenaga untuk menikmati apa yang sedang aku kejar?

Mungkin hidup bukan tentang seberapa banyak hal yang bisa kita selesaikan dalam satu hari.

Mungkin ada hari ketika pencapaian kita adalah menyelesaikan pekerjaan. Ada hari ketika pencapaian kita adalah belajar sesuatu yang baru. Tetapi ada juga hari ketika pencapaian kita hanyalah bangun dari tempat tidur, makan dengan cukup, mandi, kemudian memberi tubuh dan pikiran kesempatan untuk beristirahat.

Dan semuanya tetap valid.

Barangkali, salah satu bentuk keberanian di usia 20-an bukan hanya berani mengejar mimpi, tetapi juga berani mengakui bahwa kita lelah. Berani berkata, “Hari ini aku sudah cukup bekerja keras, aku butuh istirahat.”

Sebab pada akhirnya, istirahat bukan berarti berhenti selamanya. Kita hanya sedang mengumpulkan tenaga untuk kembali berjalan.

Dan mungkin, tidak apa-apa jika hari ini kita memilih berhenti sebentar. Karena bahkan orang yang paling ingin sampai ke tujuan pun tetap membutuhkan waktu untuk menarik napas di sepanjang perjalanan.