Lintang Siltya Utami | Wahyu Astungkara
Ilustrasi energi hijau (magnific/magnific.com)
Wahyu Astungkara

Jika ada yang bertanya kepada saya perihal isu global apa yang paling bikin saya jengah, saya akan selalu menjawab dengan konsisten: energi hijau. Setiap kali topik ini muncul di linimasa gawai atau ruang diskusi, sebuah ketegangan aneh selalu menyelimuti hati dan pikiran saya.

Isu transisi energi dan krisis iklim merupakan topik yang menyebalkan, sebab di satu sisi kita dipaksa untuk peduli, tetapi di sisi lain kita dihadapkan pada realitas geopolitik yang njelimet dan membingungkan.

Peduli pada lingkungan memang menyenangkan dan membahagiakan, dan peradaban modern telah memutuskan memilih jalan hijau sebagai penyelamat kehidupan Bumi. Tetapi, tak bedanya dengan seorang petinju legendaris yang jujur mengakui membenci setiap detik latihan kerasnya, masyarakat dunia pun demikian.

Banyak dari kita yang diam-diam membenci setiap kerumitan, ketegangan, dan proses mengolah transisi dari energi fosil menuju energi terbarukan.

Bumi kita ini jelas tidak ada seujung kuku dari kemegahan galaksi. Tapi urusan menyelamatkan lingkungan merupakan rangkaian proses, dan dalam rangkaian proses selalu ada situasi sakit-sakit-enak. Dimulai dengan sakitnya mencari alternatif teknologi ramah lingkungan, sakitnya berjuang menata regulasi global agar cakep dan membawa efek keadilan sosial yang sesuai dengan apa yang kita rencanakan, dan berujung dengan rasa enak ketika Bumi pelan-pelan mendingin dan udara menjadi bersih.

Sudah? Belum. Masih ada proses sakit-enak lain yang menanti, yaitu setelah kebijakan hijau ditayangkan dan diterapkan ke masyarakat dunia. Enak akan datang ketika orang-orang di negara miskin dan berkembang ikut merasakan keadilan energi serta paham maksud dari transisi tersebut, lebih-lebih lagi ketika mereka menyepakati atau menyukainya karena ekonomi mereka ikut terangkat.

Sebaliknya, sakit akan terasa ketika ternyata banyak kebijakan hijau abai terhadap kemanusiaan, salah sasaran, akibat para pembuat kebijakan sendiri yang gagal meracik keadilan global.

Selama pergulatan sakit-enak itulah, bukan cuma sekali dua kali para aktivis dan pemikir lingkungan ingin menyerah. Menyerah karena merasa negosiasi iklim internasional semakin lama semakin hancur kualitasnya, menyerah karena masyarakat dunia yang semakin bosan dengan model janji-janji konferensi iklim yang itu-itu saja, menyerah karena komitmen pengurangan emisi yang tak beranjak ke mana-mana.

Saat kepala buntu memikirkan nasib para pengungsi iklim (climate refugees) di pulau-pulau kecil Pasifik yang mulai kehilangan tanah kelahiran akibat naiknya permukaan air laut, rasanya ingin rasanya menutup mata dari realitas.

Namun, dalam saat-saat genting ketika kadang peradaban dihantam rasa nyaris putus asa, dunia seolah menghadirkan tiga pilar gagasan yang kerap berbincang dengan kesadaran kita, dan cerita-cerita tersebut membangkitkan lagi setrum yang mengecas baterai optimisme lingkungan kita.

Pilar gagasan pertama adalah sudut pandang para pembela hak asasi manusia di tingkat internasional. Ketika masa awal isu pemanasan global mencuat dulu kala, kita hanya bisa memandangi perdebatan iklim dari kejauhan dalam forum-forum besar PBB. Saat itu, para pakar hukum menyedot perhatian ratusan perwakilan negara dengan rentetan tembakan argumen mereka tentang keadilan iklim.

Beluk-beluk diplomasi meluncurkan satu kisah yang sangat sederhana tapi terus membekas dalam ingatan. Ceritanya, konvensi hukum internasional zaman dulu sangat kaku dalam mendefinisikan status pengungsi. Lalu suatu hari, ketika dampak krisis lingkungan mulai nyata, muncul jutaan orang terpaksa bermigrasi dari rumah yang tenggelam.

Mereka mengetuk pintu perbatasan negara-negara maju sembari membawa ingatan akan tanah air mereka yang lenyap. Para penguasa global awalnya menganggap remeh kalimat tuntutan keadilan iklim tersebut, menganggapnya sebagai hal biasa dan tidak ada istimewa-istimewanya.

Tetapi, justru di situlah poinnya. Konvensi internasional sendiri pun awalnya tidak merasa bahwa tuntutan sekelompok orang kecil dari pulau terpencil berpotensi mengubah hukum dunia. Tidak sama sekali. Sampai akhirnya pergerakan tersebut menyadarkan kita: tidak usah ragu-ragu menyuarakan keadilan ekologi.

Sebab kita tidak pernah tahu seberapa jauh gaung suara kita akan berpengaruh bagi pembuat kebijakan di masa depan. Setiap aspirasi akan menemukan jalannya sendiri. Kesadaran global pun jadi merasa lebih sumeleh. Ikhlas bergerak.

Pilar gagasan kedua adalah sudut pandang para pelaku ekonomi sirkular modern. Mereka penggerak industri hijau baru, sangat produktif menciptakan teknologi ramah lingkungan, serta seribu kali lipat lebih adaptif dalam mengolah limbah ketimbang industri konvensional. Suatu kali, muncul pertanyaan apa resepnya kok bisa sangat produktif di tengah keterbatasan modal dan tekanan korporasi raksasa.

"Terapkan saja yang bisa diterapkan, tidak usah terbebani dengan target kesempurnaan teknologi yang muluk-muluk. Nikmati saja prosesnya," kira-kira begitu prinsip mereka. Kadang jika melihat ke belakang pada teknologi hijau generasi awal, kita merasa geli dan malu sendiri. Kok bisa dulu kita menganggap mobil listrik generasi pertama atau panel surya awal begitu ngawur dan tidak efisien.

Tapi peradaban tidak akan menyembunyikan sejarah yang dirasa jelek tersebut. Itulah bagian dari sejarah perjalanan pikiran dan teknologi manusia.

Sedikit banyak, prinsip adaptasi tersebut menjadi penyembuh galau kolektif. Sering sekali kita merasa sebuah kebijakan energi hijau sudah keren, tapi belakangan ketahuan bolong argumen di sana-sini, usang idenya karena ternyata rantai pasok nikel dan litium untuk baterai justru memicu konflik lingkungan baru di negara berkembang, dan akhirnya membikin bosan banyak pengamat.

Di kasus lain, kita sudah lemas karena merasa gerakan memilah sampah atau menghemat energi di tingkat rumah tangga terasa busuk dan tidak berdampak besar, tapi tak disangka malah ditiru banyak orang dan menyebar ke sana dan ke sini. Kualitas gerakan lingkungan separuhnya bisa dinilai secara objektif dengan ukuran sains, namun sisanya tetap misteri dalam ruang kesadaran manusia.

Pilar gagasan ketiga adalah gerakan anak-anak muda Gen Z dan komunitas digital di berbagai belahan dunia. Mereka sahabat lama Bumi, sangat vokal menyuarakan isu lingkungan sejak masa sekolah mereka. Sampai sekarang mereka aktif bergerak, menggalang aksi lewat kampanye digital, petisi online, hingga aksi turun ke jalan.

Saking tingginya jam terbang dan keterampilan memanfaatkan teknologi komunikasi, bahkan kampanye aksi iklim berskala global bisa mereka gerakkan hanya lewat gawai di genggaman tangan saja.

Pernah suatu ketika, muncul perdebatan bahwa transisi menuju energi terbarukan secara total membutuhkan waktu yang sangat lama karena urusan infrastruktur yang rumit. Seleksi teknologi dan pendanaan di negara berkembang dirasa belum semuanya layak untuk diterapkan segera. Mendengar kekhawatiran itu, semangat zaman anak muda langsung menyambar: "Halah, tidak usah terlalu cemas! Jalani saja apa yang bisa dimulai sekarang!"

Intinya, birokrasi global sendiri yang terlalu ribet memikirkan kalkulasi di atas kertas. Kecemasan-kecemasan para politikus tua tentang kerugian ekonomi akibat meninggalkan batu bara sering kali terbukti tidak penting di hadapan desakan alam. Dari pengalamannya peradaban menghadapi krisis-risis masa lalu, kesimpulannya jelas: memulai transisi energi terbarukan itu tidak usah menunggu kesiapan sistem yang sempurna, gerakan yang berjalan saja sudah bagus!

"Gerakan yang berjalan saja sudah bagus." Kalimat tersebut serasa melengkapi fondasi dari hai pemikiran sebelumnya. Kaki-kaki peradaban sudah tak sering lemas lagi dalam menghadapi masa depan iklim. Kita jadi lebih tahan dalam melangkah melakukan perubahan.

Tak terkecuali ketika melihat realitas hari ini. Kita tahu perdebatan geopolitik energi hijau terkadang jatuh menjadi sekadar panggung retorika motivasi para pemimpin dunia di podium internasional. Tapi tak mengapa. Sesekali dunia memang perlu diingatkan oleh narasi-narasi besar semacam itu. Minimal agar negara-negara industri tidak terlalu ngoyo dalam mengeksploitasi alam demi mengejar pertumbuhan ekonomi yang egois.

Tapi aduh, kok saya tiba-tiba jadi cemas, ya. Nanti kalau setelah semua kampanye energi hijau ini berjalan, para penguasa global justru kembali berpaling ke energi fosil saat krisis ekonomi melanda bagaimana.