Panggung politik kita memang selalu punya stok kejutan yang bikin penonton geleng-geleng sendiri. Tengok saja Rocky Gerung, sang pendekar kata yang selama bertahun-tahun rajin menguliti kekuasaan, kini resmi dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) pada Jumat (2/10/2026).
Menonton sosok yang biasanya berdiri di luar pagar sambil melempar kritik tajam kini masuk ke ruang VIP kekuasaan, rasanya seperti melihat komentator bola mendadak turun ke lapangan jadi asisten pelatih. Sebuah ironi politik yang bumbunya terasa pas dan gurih di lidah publik.
Sebelum heboh pelantikan ini, Rocky sebenarnya sempat melempar kisi-kisi lewat kanal YouTube-nya soal pertemuan dengan Sufmi Dasco Ahmad, bahkan sempat blak-blakan jadi bintang tamu di episode Skakmat Rocky Gerung milik Pandji Pragiwaksono.
Tapi ya namanya juga dapur elite, menu lengkap pembicaraan di balik pintu tertutup jelas tidak bakal tersaji di meja makan publik. Jadi, daripada dahi kita makin mengkerut menebak-nebak drama di balik layar, di titik ini spekulasi kita sebaiknya kita rem dulu sebentar.
Lagi pula, perkara paling menarik sebenarnya bukan soal apakah Rocky Gerung bakal auto-ciut setelah mencicipi kursi Wantimpres. Bukti-buktinya saat ini belum cukup untuk bikin kesimpulan seperti itu. Biarlah sejarah yang nanti mencatat rapornya: apakah dia sukses menyelundupkan nalar kritis ke dalam sistem, atau malah hanyut terbawa arus ombak kekuasaan.
Yang jauh lebih menggelitik justru melihat riuhnya reaksi kita semua sebagai rakyat. Kita ini memang hobi memperlakukan “sosok” kritis layaknya "satria piningit"—seorang pahlawan mistis yang diharapkan datang memanggul palu godam demi membereskan karut-marut negara dalam semalam.
Padahal, Riset UGM soal pencitraan politik sempat mencatat bagaimana SBY dulu pernah dibingkai dengan riasan serupa pada Pilpres 2004. Mentalitas ingin serba cepat inilah yang bikin panggung politik kita mirip bioskop: rakyat begitu candu menunggu datangnya superhero. Begitu si pahlawan itu berkhianat dan masuk ke markas kekuasaan, kita semua langsung panik dan merasa kehilangan pegangan.
Jauh-jauh hari, mbah sosiologi Max Weber ini sudah mengingatkan kita soal ringkihnya iman pada "otoritas karismatik". Lewat buku Economy and Society, Weber membedah kalau kekuasaan yang cuma modal memuja kehebatan individu itu gampang masuk angin.
Ada istilah keren yang dia sebut routinization of charisma—sebuah momen canggung ketika karisma personal yang aduhai itu harus berbenturan dengan birokrasi, stempel, dan rutinitas meja kerja kelembagaan.
Bahasa gampangnya: menitipkan seluruh nasib perjuangan bangsa pada pundak satu orang memang sudah cacat sejak dalam pikiran. Manusia itu dinamis; hari ini bisa geser posisi, besok ganti strategi, lusa pensiun, atau malah mengambil keputusan yang bikin kita elus dada, seperti Pak Rocky itu.
Pengamat kawakan Olle Törnquist juga membaca peta politik kita dari teropong yang mirip-mirip. Dalam catatannya, ia selalu cerewet mengingatkan pentingnya membangun organisasi sipil yang mandiri dan punya akar rumput yang kuat. Sebab kalau hubungan rakyat dan politik cuma modal ikatan batin tanpa lembaga yang jelas, demokrasi kita bakal selamanya jadi mainan empuk yang mudah disetir oleh selera para elite.
Di sinilah kita sebetulnya harus buru-buru muhasabah diri. Perkaranya jelas bukan soal Rocky Gerung semata. Letak salah kaprahnya adalah kebiasaan kita yang nyandu menjadikan Rocky, aktivis 98, akademisi, atau tokoh publik mana pun sebagai alamat tunggal tempat kita menggantungkan harapan perubahan.
Demokrasi kita tidak akan mendadak kekar hanya karena menemukan satu manusia ajaib yang selalu benar. Rumah demokrasi itu bakal kokoh kalau kaum buruh punya serikat yang solid, mahasiswa punya organisasi yang hidup, warga punya komunitas yang guyub, petani punya koperasi yang sehat, dan semuanya kompak beraliansi mengkritik kebijakan keliru secara bersama-sama.
Rocky silakan dijadikan teman diskusi yang asyik. Kaum akademisi boleh kita jadikan rujukan, dan para tokoh publik sangat layak kita dengarkan. Tapi tolong, jangan tempatkan mereka layaknya "messiah" baru yang bertugas membebaskan kita dari jerat kekuasaan.
Sebab, perjuangan yang cuma dititipkan pada sosok figur akan langsung ikut goyah begitu si tokoh memutuskan pindah haluan politik. Sebaliknya, perjuangan yang dirajut lewat organisasi, jaringan, dan solidaritas nyata punya napas yang jauh lebih panjang.
Melihat Rocky masuk lingkaran Wantimpres mungkin membuat dahi kita berkerut dan memicu kekecewaan hari ini. Namun, momen ini sebenarnya menjadi tamparan bagi kita sendiri—sebuah pengingat bahwa selama ini kita mungkin cenderung pasif dan belum berbuat apa-apa untuk membangun kekuatan politik kita sendiri.
Baca Juga
-
Kisah Pak Rejo PLTMH Kedungrong, Modal Otodidak Wujudkan Listrik Tanpa PLN
-
LBH Yogyakarta di BET 2026: Krisis Ekologi Picu Kekerasan Gender
-
Membongkar Crab Mentality: Saat Perempuan Dipaksa Berebut Sisa Sumber Daya
-
Pisau Bermata Dua Homeless Media: Cepat Berbagi Rentan Tersandera Algoritma
-
Di Balik Hiatus One Piece: Menyelamatkan Animator dari Sindrom Kejar Tayang
Artikel Terkait
Kolom
-
Paradoks Efisiensi: Menghemat Anggaran, Memperbesar Beban Sosial
-
Urusan Energi Hijau dan Panasnya Bumi yang Bikin Cemas
-
AI Membuat Kita Bingung Membedakan Realitas dan Kepalsuan Digital
-
Ketika Pemerintah Memuja UMKM, tapi Gagal Menyediakan Pekerjaan yang Layak
-
Menggugat Kekuasaan: Krisis Nalar di Balik Politik dan Otoritas Keagamaan
Terkini
-
5 Eyeshadow Nude di Bawah 50 Ribu, Cocok Buat Daily Makeup Fresh & Natural!
-
Sinopsis Ebenezer, Kembalinya Johnny Depp Lewat Film Horor Gotik
-
Review In Spite of Ourselves: Jatuh Cinta Mudah, Menjalaninya Lebih Rumit
-
Jadwal GP Indonesia 2026: Tantangan bagi Marc Marquez Usai Menang di Jepang
-
Saat Seorang Pelacur Merindukan Surga: Ulasan Mendalam Novel Re: dan peRempuan