Ada satu fase setelah lulus kuliah yang ternyata tidak pernah benar-benar dipersiapkan oleh siapa pun, yaitu fase ketika kita harus mencari pekerjaan. Selama kuliah, kita sering mendengar bahwa setelah wisuda, dunia kerja akan menjadi perjalanan berikutnya. Kita belajar, menyelesaikan tugas akhir, mengikuti sidang, memakai toga, berfoto bersama keluarga, lalu perlahan mulai mengirimkan CV ke berbagai perusahaan.
Namun, ternyata mendapatkan pekerjaan tidak sesederhana itu. Setidaknya, itulah yang kurasakan setelah menjadi seorang fresh graduate. Aku mulai menyadari bahwa mencari pekerjaan hari ini bukan hanya tentang seberapa baik kita belajar atau seberapa banyak gelar yang kita miliki.
Ada kondisi yang jauh lebih besar dari diri kita sendiri yang ikut menentukan seperti keadaan ekonomi, jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia, kebutuhan perusahaan, dan persaingan dengan begitu banyak pencari kerja lainnya.
Satu lowongan pekerjaan bisa mendapatkan puluhan, ratusan, bahkan mungkin ribuan pelamar. Sementara posisi yang dibuka hanya satu, dua, atau beberapa orang.
Di titik itu, aku mulai memahami bahwa terkadang masalahnya bukan karena kita tidak cukup baik. Memang ada terlalu banyak orang yang sedang mencari pekerjaan, sementara kesempatan yang tersedia belum tentu sebanding dengan jumlah orang yang membutuhkannya.
Ironisnya, ketika kita berada di dalam proses tersebut, memahami keadaan itu tidak selalu membuat semuanya terasa lebih mudah. Sebab di balik setiap CV yang dikirim, ada harapan.
Ada seseorang yang membayangkan bisa mendapatkan penghasilan sendiri. Ada yang ingin membantu keluarganya. Ada yang ingin mulai menabung. Ada yang ingin belajar mandiri setelah bertahun-tahun bergantung pada orang tua.
Dan ada pula seseorang yang hanya ingin merasa bahwa dirinya akhirnya mulai bergerak setelah bertahun-tahun belajar di bangku kuliah. Maka ketika email penolakan datang, rasanya bukan sekadar, “Aku tidak mendapatkan pekerjaan ini.”
Kadang rasanya berubah menjadi, “Mungkin aku memang tidak cukup baik.”
Satu penolakan bisa terasa biasa. Dua atau tiga mungkin masih bisa diterima. Tetapi ketika penolakan datang berkali-kali, sementara kita melihat teman-teman mulai bekerja satu per satu, rasa percaya diri perlahan bisa ikut terkikis.
Kita sering lupa bahwa proses rekrutmen bukanlah ujian yang menentukan nilai seseorang sebagai manusia. Ketika sebuah perusahaan memilih kandidat lain, itu tidak otomatis berarti kita tidak berharga. Bisa jadi posisi tersebut memang hanya membutuhkan satu orang. Bisa jadi ada kandidat yang pengalamannya lebih sesuai.
Bisa jadi perusahaan sedang mengubah kebutuhan. Atau bisa jadi memang belum waktunya kita berada di tempat tersebut. Namun, sebagai fresh graduate yang sedang berada di tengah situasi ekonomi yang tidak mudah, menerima kenyataan itu tetap membutuhkan proses.
Ada hari ketika aku merasa baik-baik saja setelah mengirim lamaran. Ada juga hari ketika melihat daftar lowongan justru membuatku lelah. Apalagi ketika sudah menyesuaikan CV, menulis surat lamaran, mengikuti proses seleksi, kemudian akhirnya tidak mendapatkan kabar apa pun.
Rasanya seperti berlari menuju pintu yang terus tertutup. Di tengah kondisi seperti itu, aku mulai belajar bahwa mencari pekerjaan juga membutuhkan jeda. Jeda dari membuka portal lowongan setiap saat. Jeda dari membandingkan diri dengan teman sebaya. Dan yang paling penting, jeda dari menyalahkan diri sendiri.
Aku tetap ingin berusaha. Aku masih ingin belajar, memperbaiki CV, menambah keterampilan, mencoba bidang yang berbeda, dan mengirim lamaran ke tempat-tempat yang sesuai. Tetapi aku juga ingin mengingatkan diriku sendiri bahwa hidupku tidak berhenti hanya karena aku belum mendapatkan pekerjaan.
Aku masih bisa menikmati kopi di pagi hari, membaca buku, berbincang dengan orang-orang yang kusayangi, dan melakukan hal-hal kecil yang membuat hari terasa ringan. Mungkin inilah bagian tersulit dari menjadi fresh graduate, belajar membedakan antara belum mendapatkan pekerjaan dan merasa tidak memiliki masa depan.
Keduanya bukan hal yang sama. Kondisi ekonomi mungkin sedang sulit. Lapangan pekerjaan mungkin terbatas. Persaingan mungkin semakin tinggi. Tetapi semua itu bukan alasan untuk menyimpulkan bahwa diri kita tidak memiliki nilai.
Kita hanya sedang berada di sebuah fase yang memang tidak mudah. Dan mungkin, di tengah kehidupan yang menuntut kita untuk segera bekerja, segera berhasil, dan segera memiliki arah, kita perlu memberikan diri sendiri sedikit ruang untuk bernapas.
Tidak apa-apa jika prosesnya lebih lama dari yang kita bayangkan. Sambil menunggu, mungkin tugas kita bukan terus-menerus mengetuk semua pintu dengan panik, tetapi sesekali duduk, menarik napas, dan mengingat bahwa kita tetap berharga bahkan ketika belum ada perusahaan yang mengatakan, “Selamat, Anda diterima.”
Semangat para fresh graduate pejuang lowongan pekerjaan, jangan lupa jaga fisik dan mental baik-baik ya!
Tag
Baca Juga
-
Review Reborn Rookie: Ketika Kehilangan Segalanya Membawa Perubahan Baik
-
Istirahat Bagian dari Produktivitas: Belajar Berhenti Tanpa Merasa Bersalah
-
Seni Menghargai Ketenangan Diri, Lebih Berani Berkata Tidak pada Banyak Hal
-
Dilema Segelas Latte: Apakah Hidup Sehat Berarti Harus Mengorbankan Kebahagiaan Kecil?
-
Kupu-Kupu Kertas: Bertahannya Cinta di Tengah Kebencian yang Diwariskan
Artikel Terkait
Kolom
-
Jangan Puas Menjadi Perakit: Indonesia Harus Naik Kelas dalam Industri
-
Mitos Ikan Pembersih: Sapu-Sapu Monster Invasif Penghancur Ekosistem
-
Menakar Karisma Politik: Masuknya Rocky ke Istana Kuak Rapuhnya Warga Sipil
-
Paradoks Efisiensi: Menghemat Anggaran, Memperbesar Beban Sosial
-
Urusan Energi Hijau dan Panasnya Bumi yang Bikin Cemas
Terkini
-
Agensi Yoo Hae Jin Beri Peringatan Keras Usai Kehidupan Pribadi Diserang
-
Drishyam: The Conclusion, Ketika Hukum Berbenturan dengan Hati Nurani
-
Jejak Luka di Tanah Pengasingan dalam Cerita dari Digul
-
Saat Hidup Terasa Melelahkan, 5 Lagu Ini Jadi Pengingat untuk Berhenti Sejenak
-
Review Made in Korea 2: Saat Gila Jabatan Berujung Penyesalan Seumur Hidup