Lintang Siltya Utami | Rahel Ulina Br Sembiring
ilustrasi ditinggalkan teman (Unsplash/La Fabbrica Dei Sogni)
Rahel Ulina Br Sembiring

Pernahkah kamu berada di posisi ingin menyelesaikan masalah dengan baik-baik, tetapi respons yang kamu dapatkan justru membuatmu merasa konyol karena sudah peduli?

Suatu hari, dengan segala ketulusan dan keberanian yang saya kumpulkan, saya menghampiri seorang teman untuk meminta maaf atas sebuah kesalahpahaman kecil. Saya berharap momen itu bisa menjadi jembatan untuk meluruskan suasana. Namun, alih-alih disambut dengan kedewasaan, kalimat yang keluar dari mulutnya justru terasa seperti tamparan dingin:

"Ah, gitu aja pun dipikirin si Rahel. Minta maaf segala."

Setelah melontarkan kalimat itu, dia berlalu begitu saja. Meninggalkan saya yang membeku di tempat, menggenggam rasa canggung dan luka yang sama sekali tidak diprediksi.

Ketika Niat Baik Dianggap Angin Lalu

Di era modern lifestyle yang bergerak serba cepat ini, kita sering kali didorong untuk menjadi pribadi yang serba santai, fleksibel, dan "tidak baperan". Namun, ada garis tipis antara menjadi orang yang santai dan menjadi pribadi yang tidak menghargai perasaan orang lain. Fenomena yang saya alami tersebut dikenal dalam dunia psikologi sebagai emotional invalidation—sebuah tindakan meremehkan, mengabaikan, atau menolak emosi dan pengalaman seseorang.

Bagi sebagian orang, kalimat "Ah gitu aja kok dipikirin" mungkin dianggap sekadar gurauan atau usaha untuk mencairkan suasana. Namun, bagi pihak yang merasakannya, dampaknya tidak sesederhana itu. Niat baik saya untuk bertanggung jawab dan menurunkan gengsi justru ditanggapi dengan penyangkalan.

Dampaknya? Mental saya jatuh seketika. Perasaan tidak dihargai itu terus membayangi, membuat saya tenggelam dalam kesedihan berhari-hari. Selama tiga hari berturut-turut, pikiran saya dipenuhi pertanyaan yang melelahkan: Apakah saya yang terlalu sensitif? Apakah emosi saya tidak valid?

Kejadian yang berulang seperti ini perlahan membentengi diri saya. Saya mulai membangun jarak, menjadi sosok yang tertutup, dan memiliki trust issue berat. Saya merasa tidak ada orang yang benar-benar aman untuk diajak berbagi rasa.

Menetapkan Batasan Diri dan Memaafkan Secara Diam-diam

Lantas, bagaimana kita menyikapi hubungan pertemanan yang lambat laun terasa toksik dan menguras energi (energy drain) seperti ini?

Dulu, saya berpikir bahwa mempertahankan pertemanan berarti harus selalu mau bertoleransi, bahkan ketika batas emosional saya dilanggar berkali-kali. Namun, saya belajar bahwa menjaga kesehatan mental adalah bentuk self-care paling nyata dalam gaya hidup sehat masa kini.

Ketika interaksi tidak lagi membawa pertumbuhan yang positif melainkan rasa cemas yang berkepanjangan, memblokir akses atau memberikan jarak tegas (boundaries) bukanlah bentuk kejahatan atau kekanak-kanakan. Itu adalah langkah penyelamatan diri. Saya memilih untuk menyaring kembali siapa saja yang berhak mendapatkan ruang dalam hidup saya.

Bagaimana dengan rasa benci? Saya belajar untuk memaafkan—namun secara diam-diam. Memaafkan tidak selalu berarti harus kembali dekat dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Memaafkan secara diam-diam adalah proses melepaskan beban di dada demi ketenangan diri sendiri, tanpa harus memaksakan konfrontasi yang hanya akan mengulang pola penyangkalan yang sama.

Turning Point: Menemukan Ruang Aman dan Keberanian untuk Terbuka

Berada dalam fase mengisolasi diri karena takut ditinggalkan memang sangat menyiksa. Namun, memberi "jeda" sejenak untuk memproses emosi membantu saya menyadari satu hal penting: tidak semua orang di luar sana akan meremehkan perasaan kita.

Titik balik saya terjadi ketika saya memberanikan diri untuk kembali membuka percakapan. Saya mencoba bercerita perlahan-lahan kepada orang tua dan teman dekat yang benar-benar teruji kepeduliannya. Respons mereka sungguh berbeda. Mereka mendengarkan tanpa menghakimi, meyakinkan saya bahwa memiliki perasaan yang peka bukanlah sebuah kelemahan.

Dari sana saya paham, menyembuhkan trust issue memang membutuhkan waktu. Namun, langkah awal untuk pulih adalah menemukan support system yang tepat dan mau menerima kerentanan (vulnerability) kita tanpa melabelinya sebagai "berlebihan".

Every Mind Matters: Hargai Setiap Ruang Emosi

Melalui artikel ini, ada dua pesan mendasar yang ingin saya bagikan untuk kita semua yang sedang bernavigasi dalam dinamika relasi sosial:

Pertama, untuk kamu yang pernah merasa emosinya diremehkan: Ingatlah bahwa perasaanmu selalu valid. Jangan biarkan standar orang lain membuatmu merasa salah karena telah peduli. Tidak apa-apa untuk mengambil jeda, membatasi interaksi dengan lingkaran yang toksik, dan mencari ruang aman yang baru.

Kedua, untuk kita semua dalam berteman: Mari belajar menjadi pendengar yang lebih berempati. Ketika seseorang memberanikan diri untuk meminta maaf atau menunjukkan kerentanannya, hargailah. Hal yang menurut kita sepele, bisa jadi membutuhkan keberanian besar bagi orang lain untuk mengucapkannya.

Sebab pada akhirnya, di tengah dunia yang makin sibuk dan riuh ini, memiliki pertemanan yang saling menghargai dan memvalidasi emosi satu sama lain adalah sebuah bentuk kemewahan lifestyle yang paling berharga.