Berkegiatan di lingkungan sendiri sejak pelatihan pengolahan sampah organik yang diadakan oleh Kemnaker pada bulan September silam membawa saya pada rasa penasaran yang mengusik ketenangan.
Kalau biasanya saya melakukan kegiatan dengan normal, sekarang saya jadi sedikit memperlambat gerak dan mengajak diri berpikir, kalau beli ini, sampahnya dapat diolah seperti apa.
Rutinitas saya sebenarnya tidak berubah. Setiap malam, saya membereskan sampah-sampah yang ada di rumah, membungkusnya dengan kantong kresek dan menyimpannya di depan halaman. Esok pagi, biasanya kresek-kresek itu hilang diangkut oleh petugas sampah yang sedari subuh bergerak mengumpulkan sampah-sampah warga. Akan tetapi, saya tidak pernah bertanya ke mana sampah-sampah itu pergi setelah dibuang ke TPS lalu dibawa ke TPA. Apakah sampah-sampah itu hanya berpindah tempat?
Pertanyaan itu baru muncul saat saya belakangan ini aktif di kegiatan lingkungan, dan tahu lah saya bahwa wilayah Bandung, Cimahi, dan sekitarnya punya TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Sarimukti, yang terletak di Desa Sarimukti, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat.
Namun, Pemprov Jabar mengabarkan bahwa kapasitas TPA tersebut sudah tak muat menampung sampah lagi. Agaknya pemerintah belajar dari kejadian di TPA Leuwigajah tahun 2005 lalu yang menimbulkan kurang lebih 157 korban jiwa dan menyapu dua perkampungan yang ada di sekitarnya. Alhasil, penutupan adalah salah satu solusi agar sampah tak menimbulkan kerugian lagi. Ini memang belum resmi, tapi kabar ini berhasil bikin banyak pihak ancang-ancang mempersiapkan solusinya, minimal bisa mengendalikan timbunan sampah di tempat sendiri.
Di pemberitaan media online, kabarnya pertengahan Oktober ini Pemkot Cimahi akan mulai mengurangi pengangkutan sampah warga lagi. Di pemberitaan lain, bulan November baru dilakukan. Meski belum pasti, tetap saja warga dan saya pun jadi ikut memikirkan langkah efektifnya.
Saya sendiri membayangkan seandainya kabar itu benar-benar terjadi, ke mana sampah-sampah ini akan pergi? Apakah halaman rumah akan menjadi tempat penimbunan sampah? Kotor. Bau. Berantakan. Ngeri saya membayangkannya.
Saya sempat merenung bahwa selama ini saya hanya membayar iuran sampah, membiarkan petugas sampah mengangkut sampah tanpa peduli ke mana sampah itu berakhir. Seingat saya pun, saya hanya peduli bahwa sampah saya hilang dari penglihatan dan penciuman.
Rupanya kesadaran ini muncul karena saya merasa terancam. Dan baru terpikirkan sekarang setelah masalah ada di depan mata. Mungkin saya hanya berpikir bahwa sampah bukan urusan saya. Ada orang-orang yang bertugas untuk mengurus: truk pemerintah di Dinas Lingkungan Hidup, truk-truk sampah, dan petugas yang mengangkut dari rumah ke rumah.
Tanpa kita sadari, tempat penampungan sampah di sana sudah lama teriak minta berhenti. Jangan ditambah lagi sampah-sampah baru. Cimahi kebagian kuota pengiriman sampah ke Sarimukti sekitar 119 ton per hari. Ini berarti sampah kita seharusnya selesai di tempat lain sebelum dikirim ke TPA benar-benar ditutup nanti.
Dari Opsi Menjadi Kebutuhan
Saya baru ingat sekarang ini banyak sekali kegiatan bertema lingkungan. Bank sampah ada di mana-mana dan mudah diakses oleh siapa pun. Banyak komunitas yang mengadakan kegiatan penghijauan lahan, penampungan kertas-kertas HVS bekas, gerakan Buruan Sae, daur ulang sampah plastik menjadi karya, membuat kompos, membuat apartemen ayam, bahkan memelihara maggot untuk menyelesaikan sampah sisa dapur.
Yang dulu hanya menjadi “hobi orang-orang yang peduli lingkungan”, sekarang agaknya menjadi sebuah keharusan bagi semua orang.
Saya sendiri pernah mengikuti kegiatan mengolah sampah organik. Hari pertama saja sudah enggan karena menyadari bahwa saya akan menyentuh sesuatu yang sudah tak penting lagi. Merepotkan rasanya. Akan tetapi setelah ditekuni, kegiatan ini malah seru. Ada rasa takjub setelah melihat sampah-sampah itu berubah menjadi “tanah” kembali.
Hari-hari melihat perubahannya adalah sesuatu yang menarik. Awalnya, sampah-sampah organik itu menghasilkan embun-embun di wadah komposter, lalu suhu meninggi karena mikroorganisme di dalamnya sedang berpesta mengurai bahan-bahan organik. Mereka membusuk, sebagian menjadi air “sampah” yang disebut lindi, sebagian menghitam seperti tanah.
Ternyata yang selama ini saya sebut sampah ini belum selesai. Ia hanya butuh diperlakukan dengan baik, bukan dibuang begitu saja. Seember kompos memang belum bisa mengurangi ton-ton sampah yang diterima TPA setiap harinya. Tapi, gerakan kecil ini membuat lingkungan lebih bersih, sampah terkendali. Paling tidak, bapak-bapak petugas sampah hanya perlu menangani sampah anorganik saja. Paling tidak, tumbuh kesadaran bahwa sampah bukan sesuatu yang menjijikkan. Paling tidak, hidup menjadi lebih mindful tentang apa yang kita beli sebab nantinya kita “ditagih” atas tanggung jawab atas apa yang kita buang.
Maka sekarang, setiap kali saya mengikat kresek sampah, saya tidak lagi menganggap urusan selesai hanya karena ia tak lagi terlihat di depan mata. Selalu ada pertanyaan: sampah ini akan jadi apa nanti?
Sekarang mungkin belum ada kepastian tentang seperti apa lingkungan setelah TPA Sarimukti ditutup. Tapi, apa harus menunggu ditutup dulu baru sibuk cari jalan keluar? Apa harus bergerak dulu setelah ada kejadian? Bukankah ada baiknya semua berawal dari hal yang paling sederhana dan paling mungkin dilakukan: memilah dan mengolah dari rumah. Urusan yang lebih besar memang butuh tangan mereka yang berwenang, tetapi langkah paling awal ada di rumah dan dapur kita sendiri.
Baca Juga
-
Saatnya Ganti Provider: Jaringan 5G Stabil Jadi Alasan Netizen Pindah ke XL
-
Nyoman Nadiana, Les Grow, dan Astra: Modal Lokal VS Pendampingan Tepat
-
6 Fakta Menarik Perfect Crown yang akan Segera Tayang
-
Frieren: Beyond Journey's End Season 2, Musim yang Lebih Emosional dan Sepi
-
Deretan Anime Yang Tayang Bulan Maret 2026, Wajib Dinantikan!
Artikel Terkait
Kolom
-
Bukan Soal Mindset: Pengangguran, Eksploitasi, dan Krisis Kesehatan Mental
-
Gugat Keseriusan Pemerintah di Balik Karhutla dan Hak Kesehatan Masyarakat
-
Pet Parents: Mengapa Banyak Lajang Urban Memilih Rawat Hewan?
-
Ketika Protein Jadi Barang Mewah, Edukasi Gizi Tak Cukup dengan Penyuluhan
-
Rekor PNBP Imigrasi Tembus Target: Berkah atau Beban Pengawasan?
Terkini
-
Review Street Fighter: Antara Pesta Nostalgia dan Cerita yang Kehilangan Taji
-
Little Blue Truck Lost and Found: Misteri Kecil di Peternakan
-
PIH Susah Pudar? Coba 4 Serum Berbahan Vitamin C dengan Konsentrasi Tinggi
-
Tren Slow Living dan Digital Detox: Bisakah Gen Z Benar-benar Melakukannya?
-
Semantik Terasi dalam Masakan Jawa sebagai Penyedap dan Gema Mistika Pekat!