Hayuning Ratri Hapsari | aozora dee
Momen arisan warga Leuweung Gede Rancabentang mengikuti sosialisasi pemilahan dan pengolahan sampah (Dok. Pribadi)
aozora dee

Minggu pagi, 4 Oktober 2026, saya duduk di tengah warga RT 01 RW 27 Rancabentang, Cibeureum, Cimahi Selatan. Agenda rutin itu sebenarnya arisan warga. Tapi khusus hari itu, setelah arisan selesai, acara berubah menjadi belajar: belajar pemilahan dan pengolahan sampah organik.

Selain warga lokal yang menjadi tuan rumah, hadir pula komunitas peduli lingkungan dari Cimahi dan seorang instruktur pengolahan sampah organik, Bapak Agan Zainal Aripin. Sesi awal berisi  pemaparan tentang apa itu sampah, bagaimana pembagiannya berdasarkan jenis-jenisnya, dilanjutkan dengan cara memperlakukan masing-masing jenis sampah. Acara mengalir dan semakin akrab seiring banyaknya pertanyaan yang diajukan oleh warga seputar pemilahan sampah.

Di antara semua pertanyaan, ada satu yang paling membekas dalam benak saya. Seorang ibu, warga setempat, tidak bertanya tentang pengolahan sampah organik melalui pengomposan atau memelihara maggot, melainkan membeberkan pengalamannya pribadi mengolah sampah anorganik: membuat tikar dari kemasan kopi sachet.

Saya menyimak bagaimana prosesnya berjalan, dan itu tidak sederhana. Beliau mengumpulkan kemasan-kemasan kopi sachet dari berbagai merek, membersihkannya, dan melipatnya menjadi pita-pita kecil. Setelah semuanya terkumpul, penganyaman dilakukan.

Dari sudut pandang seorang pendengar, saya membayangkan prosesnya tidak sederhana. Membuat tikar dari anyaman bungkus kopi sachet melibatkan pengumpulan limbah kemasan, pembersihan, pelipatan menjadi pita kecil, dan perakitan melalui teknik anyaman.

Bagi yang mendengarkan, prosesnya terlihat sederhana, tapi tidak sesederhana saat menjalaninya. Pekerjaan semacam itu butuh ketekunan dan kesabaran yang tidak semua orang punya. Ceritanya mengalir hingga sampai di kalimat terakhir: ke mana tikar-tikar itu dipasarkan? Beliau tidak tahu harus ke mana dan bagaimana cara menjualnya. Dan karena itu, semangatnya perlahan hilang.

Beda Hasil Olahan, Beda Pula Nasibnya

Pak Agan mengajari Karang Taruna Leuweung Gede RT 1 membuat komposter galon (dok: pribadi)

Saya cukup lama terdiam setelah mendengarnya. Di sesi pemaparan materi pemilahan dan pengolahan sampah organik, kompos tampak seperti jawaban yang menyenangkan. Potongan sisa dapur dan makanan di-treat sehingga menjadi material yang bisa dipakai untuk pupuk atau media tanam, entah itu untuk pekarangan sendiri atau untuk kebun tetangga yang membutuhkan. Siklusnya jelas, rapi, dan selesai dalam hitungan minggu. Namun, tikar-tikar dari kemasan kopi sachet ini punya nasib lain. Ia tidak bisa dipakai sendiri tanpa batas, dan untuk benar-benar tuntas, ia membutuhkan peran orang lain, baik sebagai pembeli maupun sebagai penyalur.

Cerita ibu penganyam tikar kemasan kopi sachet itu adalah salah satu contoh potret ekonomi sirkular yang belum berjalan lancar. Narasi yang digaungkan selama ini selalu sama: memilah-mengolah-menghasilkan produk baru dari hasil daur ulang sampah. Kedengaran indah bak rantai yang saling bersambung. Sayangnya, fakta di lapangan berbicara lain. Rantai itu putus di mata rantai terakhir, yaitu pasar.

Di Cimahi dan juga berbagai wilayah di Indonesia, warga sudah lama dikenalkan dengan program bank sampah oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup di wilayah masing-masing. Warga menyambutnya dengan antusias karena sampah anorganik yang bernilai ekonomi disetor ke bank sampah atau pengepul.

Namun, timbul permasalahan lain. Tidak semua sampah anorganik seperti kemasan kopi sachet dan bungkus mie instan diterima oleh bank sampah. Alasannya jelas, kemasan-kemasan itu tergolong plastik multilayer yang nilai ekonominya rendah. Tikar dari anyaman kemasan kopi sachet terdengar menjadi solusi, namun rupanya solusi ini menemui jalan buntu.

Di tulisan saya sebelumnya, saya percaya bahwa pengolahan sampah organik bisa dimulai dari langkah kecil dan tuntas di lingkungan pribadi. Namun, untuk pengolahan sampah anorganik, ceritanya lain. Pengalaman salah satu warga di Leuweung Gede hari ini mengingatkan saya bahwa langkah kecil warga ini butuh jalan lanjutan untuk menyelesaikannya. Tanpa langkah tersebut, upaya warga yang penuh ketekunan dan kesabaran itu berakhir menjadi sampah baru di sudut rumah. Sampah yang seharusnya selesai ternyata hanya berganti rupa dan menjelma jadi sampah baru karena pembeli tak kunjung datang.

Saya yakin, yang kurang bukan niat warga. Nyatanya, warga Leuweung Gede saja rela menggunakan waktu dan tenaganya untuk melakukan sesuatu, dan tak menutup kemungkinan di wilayah lainnya sama. Yang kurang adalah jalur penyambung antara hasil karya warga dan pihak-pihak yang membutuhkannya. Dan, jalur itu tidak bisa dibangun oleh satu pihak saja.

Dipuji, Tapi Tak Kunjung Dibeli

Warga dan berfoto di depan hasil komposter galon buatan sendiri (dok: pribadi)

Sebagai penikmat seni, saya selalu takjub melihat hasil karya yang terbuat dari apa pun, termasuk limbah. Namun, untuk karya hasil limbah, kebanyakan orang, termasuk saya, lebih banyak memuji ketimbang membeli. Kita mengapresiasi semangat, kemauan, dan kesabaran, namun belum tentu menyediakan tempat dan peluang untuk menampung hasilnya di rumah kita. Fakta itu miris dan membuat saya tak nyaman, tapi harus diterima, suka atau tidak.

Pengalaman salah satu warga Leuweung Gede RT 1 itu bukan upaya untuk minta dikasihani, tapi minta solusi agar upayanya tidak sia-sia, agar sejalan dengan narasi yang menjadi penyemangat: menyulap sampah menjadi manfaat. Mungkin ke depannya, narasinya harus ditambah, bukan sekadar memilah dan mengolah, tetapi juga menyediakan wadah pemasaran untuk hasil limbah yang telah dikerjakan warga di tingkat RT. Biar nantinya tidak ada pertanyaan lagi, setelah dianyam, lalu dikemanakan?