Di ujung Pulau Dewata, Bali, di balik punggung Bukit Kintamani, ada sebuah desa yang terhampar di pesisir, yang selama bertahun-tahun hidup tenang bersama laut dan gunung yang mengelilinginya. Itulah Desa Les yang terletak di Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali.
Membahas tentang Desa Les, kita tidak bisa dilepaskan dari sosok Nyoman Nadiana. Ia adalah Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) di desanya sekaligus Ketua Desa Sejahtera Astra (DSA) Desa Les, juga pengawas BUMSdes setempat.
Namun, jabatan-jabatan yang diembannya hanya sekilas saja menjelaskan peran besarnya untuk Desa Les. Bersama warga dan perangkat desa, ia membangun fondasi desa jauh sebelum namanya dikenal lewat panggung penghargaan nasional sebagai pemenang terbaik dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024, mengalahkan ribuan desa wisata lain di Indonesia.
Tidak Pasif Menunggu Bantuan, Tapi Aktif Membangun Duluan
Pada 4 Agustus 2026, saya berkesempatan berbincang dengan pria yang akrab disapa Don Rare ini lewat sambungan telepon. Ada satu pernyataan paling jujur yang disampaikannya. Les Grow adalah program pengelolaan sampah dan lingkungan yang dirintis dan tumbuh dari kesadaran kolektif warga.
“Sadar, karena secara organik, pariwisata di Desa Les mulai menggeliat di awal tahun 2000-an lewat air terjun. Itu membuat setidaknya, meskipun tidak semua warga, stakeholder sadar,” tuturnya.
Pengalaman warga desa yang pernah bekerja di sektor pariwisata di wilayah lain Bali turut serta membentuk kepekaan kolektif warga, sehingga menumbuhkan kesadaran bahwa kebersihan lingkungan bukan semata kewajiban, tapi kebutuhan.
Dari kesadaran tersebut lahirlah Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST), dengan tiga orang pekerja, di bawah naungan BUMdes dengan Bli Nyoman Nadiana sebagai salah satu pengawasnya. Di samping TPST, di atas lahan seluas kurang lebih 8 are yang disewa itu, dibangun Integrated Farm System, tempat sampah diolah menjadi kompos. Hasil pengolahan sampah organik dan kotoran hewan inilah yang diberi nama Les Grow.
“Jadi begini. Les Grow itu sebetulnya semacam brand untuk kompos. Gerakannya adalah gerakan lingkungan, seperti membuat teba modern, membuat kebun integrasi, dan edukasi ke berbagai pihak,” jelasnya.
Filosofi yang Membalik Logika Umum
Di banyak desa wisata, pariwisata sering ditempatkan sebagai yang utama, dan lingkungan adalah pendukungnya. Namun, logika itu dibalikkan oleh pria kelahiran asli Les, 11 Februari 1987 ini. Baginya, kebersihan dan kelestarian lingkungan adalah fondasi, sementara pariwisata hanyalah hasilnya.
"Kita nggak selalu concern memahami bahwa pariwisata itu bonus-bonusnya saja. Kalau lingkungan bersih, nanti dampaknya makanan sehat. Kalau sampah itu bisa dikelola bahkan menjadi kompos, itu bisa menjadi nilai tambah, bisa menjadi nilai ekonomi untuk dijual." Ujarnya.
Cara pandang ini bukan sekadar retorika, melainkan sebuah prinsip yang membawa Desa Les menjadi desa wisata yang punya value. Dengan Les Grow sebagai wujud nyata prinsip tersebut, desa ini membuktikan bahwa potensi besar asli di wilayahnya, bertemu dengan pendampingan dan pengelolaan yang tepat, berdampak positif bagi masyarakat sendiri.
Ketika Potensi Lokal Bertemu Pendampingan yang Tepat
Astra melihat Desa Les memiliki modal yang jarang ditemukan sekaligus dalam satu desa: alam yang masih murni terjaga, budaya yang bernyawa, ekonomi lokal yang punya ciri khas, dan masyarakat yang aktif merawat kearifan leluhurnya.
Desa Les tak punya hiruk-pikuk Kuta, tak juga menjajakan wisata seperti Ubud. Sebagai salah satu Desa Bali Aga, wilayah ini menawarkan nuansa tenang dan panorama eksotis yang luar biasa.
Masyarakatnya hidup dalam keharmonisan, selaras dengan tradisi leluhur dan alam yang dikenal dengan konsep "Nyegara Gunung". Ini adalah konsep dalam ajaran Hindu Bali yang menitikberatkan hubungan harmonis antara Segara (laut) yang dianggap sebagai Ibu, dan Gunung (Bapak).
Dengan semua potensi yang dimiliki oleh Desa Les, Astra tertarik memasukkan wilayah ini ke dalam program kontribusi sosial yang saat ini sudah berhasil menjangkau lebih dari 1.500 desa di seluruh provinsi Indonesia.
Modal Desa Les tersebut diolah lewat empat pilar utama: kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan, dan Astra hadir untuk memperkuat program yang sudah dirintis Bli Nyoman bersama perangkat desa dan warga. Les Grow adalah salah satu program konkret yang masih berjalan sampai sekarang.
Masih Ada PR Yang Menunggu Diselesaikan
Bli Nyoman Nadiana sendiri tak menutupi tantangan yang dihadapi: keterbatasan pendanaan untuk merekrut lebih banyak SDM, dan proses edukasi warga terkait pemilahan sampah. Untuk sampai benar-benar melekat dan menjadi kebiasaan, memang membutuhkan konsistensi dan waktu yang tidak sebentar.
Namun, alih-alih menyerah, ia memilih bersyukur program ini tetap berjalan meski pelan dan kadang tersendat. Ia optimis bahwa Desa Les masih punya daya tarik yang bisa dikembangkan kalau semua pemangku kepentingan dan pihak-pihak masyarakat bersatu untuk mengembangkan potensi. Agar ke depannya, potensi tersebut menjadi lapangan kerja yang bonafid bagi anak muda desa di tanah kelahirannya sendiri.
Harapannya sederhana: support pendanaan yang besar agar gerakan kecil yang sudah tumbuh dari awal ini dapat berkembang lebih maksimal melebihi prestasi yang sudah dicapai hari ini.
Baca Juga
-
6 Fakta Menarik Perfect Crown yang akan Segera Tayang
-
Frieren: Beyond Journey's End Season 2, Musim yang Lebih Emosional dan Sepi
-
Deretan Anime Yang Tayang Bulan Maret 2026, Wajib Dinantikan!
-
5 Fakta Zom 100: Bucket List of the Dead yang Bikin Penasaran Penggemar
-
4 Rekomendasi Anime untuk Kamu yang Menyukai Cerita Bertema Zombie
Artikel Terkait
-
Desa Les Buleleng: Saat Tradisi Garam Kuno Berpadu dengan Inovasi Modern
-
Gerah dengan Turis Eksklusif? Contek Cara Desa Les di Bali Utara Berbaur Tanpa Sekat
-
Lewat Sentuhan Korporasi, UMKM Desa Les Naik Kelas
-
Kemiren: Menenun Kesejahteraan dari Tanah Osing ke Panggung Dunia
-
Desa Les: Fondasi Kolaboratif bagi Ketahanan Desa Berkelanjutan
Kolom
-
Di Balik Polemik UKT dan Roh Pendidikan Tinggi: Saatnya Kampus Elite Berbagi dengan Kampus Daerah
-
Ketika Oposisi Mati, Akademisi Turun Gunung: Lahirkan Kabinet Bayangan Demi Selamatkan Demokrasi
-
Ironi di Lapangan Upacara: Pejabat Duduk Nyaman, Peserta Berdiri Kepanasan
-
Solusi Radikal: Saatnya ASEAN Terbitkan "Blue Bonds" Demi Selamatkan Pesisir
-
Susah Baca Resep Dokter? Sekarang AI Bisa Menerjemahkannya dalam Hitungkan Detik!
Terkini
-
Usai Manon, Sophia KATSEYE Umumkan Hiatus Grup Demi Kesehatan Mental
-
Konser Maroon 5: Momen yang Harus Dinikmati, Jangan Cuma Direkam!
-
4 Color Correcting Sunscreen SPF 50 Atasi Redness & Dark Spot saat Outdoor!
-
OPPO Reno16 Pro 5G Hadir dengan Dimensity 8550 SUPER, Seberapa Menarik?
-
Sang Putra Ikuti Jejaknya Berkarier Jadi Aktor, Begini Reaksi Mark Ruffalo