Sekar Anindyah Lamase | aozora dee
Foto sore hari yang menggambarkan udara panas yang tak bisa dicegah di wilayah Cimahi (Dok. pribadi)
aozora dee

Saya tinggal di Cimahi Utara, di sebuah permukiman yang berbatasan dengan Kota Bandung. Lingkungan di sini masih hijau, udaranya sejuk dan adem. Namun, itu tiga belas tahun lalu.

Dulu, di belakang tempat tinggal saya ada lapangan rumput tempat anak-anak bermain bola pada sore hari. Terkadang lapangan itu juga menjadi arena adu layang-layang atau permainan tradisional lainnya. Saat Agustusan, lapangan itu menjadi pusat keramaian karena semua kegiatan tumpah di sana: panggung kesenian, tempat bazar, tempat ibu-ibu senam, dan tempat lomba.

Lingkungan di sini juga tenang. Tidak banyak kendaraan yang lalu-lalang, meski kerap dijadikan jalan tikus bagi pengendara motor dari arah Cimahi ke Bandung dan sebaliknya. Udara di sini cenderung dingin, dan saya paling suka saat subuh tiba. Tak perlu alarm untuk bangun tepat waktu karena udara dingin selalu berhasil membangunkan saya.

Saya biasanya bangkit dari tempat tidur untuk mengambil wudu, meski mata masih berat karena kantuk. Mandinya belakangan, kalau matahari sudah naik, karena saya masih punya waktu bermalas-malasan sampai pukul delapan pagi sebelum masuk kerja.

Air yang Dulu Mengalir Tanpa Henti

Ilustrasi keran air di rumah warga yang mengering (Unsplash/Patrick Pahlke)

Saya suka tempat ini karena airnya melimpah. Keran-keran di rumah warga mengalirkan air tanpa henti. Sungai kecil yang membelah dua kelurahan di wilayah ini juga berdebit tinggi dan menjadi arena bermain air gratis bagi anak-anak di sekitarnya. Mereka hanya perlu mencari isi ban dalam bekas dan menjadikannya perahu karet kreasi sendiri.

Saya ingat, keran di depan rumah warga dan air sungai itu menjadi penyelamat anak-anak dari omelan ibu mereka. Sebelum pulang bermain, anak-anak biasanya membasuh tangan, kaki, dan wajah dari debu dan tanah agar setibanya di rumah, tubuh mereka tidak terlalu kotor.

Kenangan itu sangat membekas karena menyaksikan anak-anak bermain di sore hari adalah hiburan untuk melepas penat selepas kerja. Mereka dan kegiatannya juga menjadi objek potret saya. Saya tak keberatan kalau sebagian memori kamera saya habis oleh mereka: ekspresi saat bersemangat mengejar bola, saat fokus menerbangkan layang-layang, saat mengadu layang-layang dengan penerbang lain, atau saat berkelahi dan saling dorong karena tak terima dikalahkan. Tapi itu dulu, tiga belas tahun lalu.

Ketika Rumput Berganti Beton

Foto wilayah yang dulunya hijau penuh pepohonan kini berubah jadi jalan beton yang panas (Dok. pribadi)

Sekarang lapangan rumput itu sudah diurug dan diubah menjadi kompleks perumahan elit. Proyek besar itu menggerus tanah subur, kebun warga, dan pepohonan liar yang selama ini meresapkan air hujan, lalu menggantinya dengan jalan beton yang katanya lebih baik daripada tanah cokelat yang dipenuhi cacing.

Warga yang tinggal di sekitar proyek juga sudah pindah entah ke mana. Saya dengar ada yang pindah ke luar kota, ada yang pindah ke kelurahan tetangga, dan ada yang ikut tinggal bersama sanak saudaranya.

Ketidaknyamanan ini bukan sekadar perasaan saya. Membaca beberapa berita dan tulisan riset, katanya sebagian wilayah Kota Cimahi masuk Kawasan Bandung Utara (KBU), daerah resapan air bagi Cekungan Bandung. Riset BRIN yang dikutip Katadata juga menemukan bahwa debit mata air di KBU mengalami penurunan, dipicu oleh alih fungsi lahan secara masif di zona tangkapan air. Dengan fakta itu, saya paham mengapa air kian sulit didapat di wilayah yang dulu melimpah ini.

Hilangnya lapangan rumput di dekat tempat tinggal saya sama dengan hilangnya ruang terbuka hijau yang memberi kesejukan bagi warga sekitar, sekaligus menjadi rumah bagi hewan-hewan yang menjadi bagian dari ekosistem alam. Sejak lapangan itu diubah, saya tak lagi mendengar bunyi kodok, jangkrik, nyanyian burung, dan bunyi-bunyian lain yang membuat betah. Yang lebih parah, warga juga kehilangan sumber air yang dulu melimpah.

Krisis Air di Cimahi Utara

Foto ilustrasi kriris air (Pexels/Luis Quintero)

Ketidaknyamanan itu kian kuat ketika saya membaca status seorang teman di aplikasi perpesanan. Ia menulis:

"6 perkara tos rengse. Ayeuna mah bade nyampah heula bari bertahan kanggo hiji hal #halodo Lami teu kieu ngajantenkeun emutan ieu balik deui ka jaman budak leutik, kudu ngangkut cai ti sumur Mang Anta nu lumayan jauh. 25 liter. Beurat dijingjing mapay galengan sawah. Rumpil sareng kadang tikosewad. Sok rada kukulutus ka indung. #Pamoyanan mah salawasna endah pikeun dikenang, jeung ayeuna dimana hirup abdi tos pinuh ku karipuh."

Terjemahannya:

"6 urusan sudah beres. Sekarang mau 'nyampah' dulu sambil bertahan demi satu hal #halodo (kemarau). Sudah lama tidak begini, dan ini membuat ingatanku kembali ke masa kecil, ketika harus mengangkut air dari sumur Mang Anta yang lumayan jauh. 25 liter. Berat dijinjing menyusuri pematang sawah. Susah payah, dan kadang sampai tersungkur. Sering juga agak menggerutu pada ibu. #Kampung halaman selalu indah untuk dikenang, tapi sekarang tempatku hidup sudah penuh kesulitan."

Status itu membuat saya sadar bahwa tiga belas tahun ternyata cukup lama untuk mengubah kenyamanan tempat tinggal saya. Krisis air melanda banyak RW di wilayah ini. Warga yang tak punya tandon harus membawa galon dan ember dari rumah untuk mengangkut air dari pancuran bantuan pemerintah. Namun, air di sana tidak tersedia sepanjang waktu. Pancuran itu tak cukup memenuhi kebutuhan warga karena menjelang siang airnya sudah habis.

Warga yang punya tandon pun tidak bisa tenang-tenang saja. Mereka harus sigap membuka keran agar kebagian air saat waktunya mengalir. Kalau terlambat, alamat mereka harus ikut mengantre di pancuran bantuan pemerintah.

Udara yang Kian Gerah

Foto ilustrasi kekeringan yang membuat udara sangat panas (Pexels/M.Emin BLR)

Meski banyak perubahan di lingkungan saya, rutinitas saya tidak banyak berubah. Saya masih berolahraga di sekitar rumah, tetapi sekarang saya lebih banyak mengamati sekitar.

Lapangan rumput berubah menjadi kompleks perumahan elit. Jalan yang menghubungkan tempat tinggal saya dengan kelurahan sebelah berubah menjadi jalan beton yang panas meski baru pukul sepuluh pagi. Pepohonan liar yang teduh dan rimbun itu sudah lenyap, sehingga tak ada lagi yang menaungi dan mendinginkan udara.

Gerah yang saya rasakan ini rupanya punya penjelasan ilmiah yang disebut urban heat island, atau pulau panas perkotaan. Menurut EPA (Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat), bahan buatan manusia seperti perkerasan jalan dan atap menyerap lalu melepaskan lebih banyak panas daripada pepohonan dan permukaan alami. Ketika pepohonan ditebang dan tanah tertutup beton, suhu di sekitarnya kemungkinan besar ikut naik.

Saya menulis ini bukan untuk menentang perkembangan atau pembangunan di lingkungan saya. Hanya saja, dampaknya menimbulkan ketidaknyamanan. Dulu, saya terbangun oleh udara dingin yang menggigit, bahkan harus tidur berbaju panjang, berkaus kaki, dan berselimut. Saya berwudu dengan air yang mengalir deras tanpa henti.

Sekarang, saya bangun karena gerah dan berwudu pun harus saya hitung dulu. Barangkali yang hilang bukan sekadar tanah lapang, tetapi tempat anak-anak bermain. Barangkali yang hilang bukan sekadar tempat ibu-ibu senam, tetapi juga rumah bagi hewan-hewan yang menjaga keseimbangan alam. Barangkali yang hilang bukan sekadar lahan, tetapi hal-hal yang dulu terasa biasa dan memberi kenyamanan.