M. Reza Sulaiman | Winda Prastika
ilustrasi Bagaimana TikTok Mendikte Kosakata Kita (gemini AI)
Winda Prastika

Pernahkah kamu tanpa sadar mulai mengucapkan kata-kata baru yang belum pernah kamu dengar sebelumnya hanya karena kata itu muncul terus-menerus di For You Page (FYP)? Istilah seperti "skena", "menyala abangku", "cegil", "tumpengan", hingga "rizz" tiba-tiba keluar begitu saja dalam percakapan sehari-hari dengan teman sebaya. Jika iya, kamu tidak sendirian. Fenomena ini menjadi bukti nyata bahwa media sosial, khususnya TikTok, bukan lagi sekadar platform hiburan visual, melainkan sebuah kekuatan raksasa yang mendikte dan merombak cara kita berbahasa hari ini.

Selama berabad-abad, para ahli bahasa sepakat bahwa evolusi bahasa terjadi secara alami melalui interaksi sosial tatap muka yang memakan waktu bertahun-tahun. Perubahan bahasa biasanya dipicu oleh letak geografis, migrasi penduduk, atau pengaruh media massa konvensional seperti televisi dan koran. Namun, di era digital, ada "wasit tak terlihat" bernama algoritma yang mengambil alih peran tersebut. Proses evolusi bahasa yang dulunya membutuhkan waktu satu generasi, kini bisa terjadi hanya dalam hitungan hari atau minggu berkat rekayasa sistem rekomendasi digital.

Mekanisme FYP: Menciptakan Ruang Gema Kebahasaan

TikTok tidak pernah benar-benar membaca pikiran kita, tetapi mereka membaca perilaku kita dengan sangat presisi. Sistem rekomendasi di halaman FYP bekerja dengan mengamati metrik yang sangat detail, mulai dari durasi menonton (watch time), rasio putar ulang (looping), interaksi aktif berupa like, komentar, dan share, hingga informasi spesifik seperti trek suara (audio track) dan tagar yang digunakan.

Ketika sebuah video yang menggunakan istilah baru berhasil menahan perhatian penonton dalam waktu lama, algoritma membacanya sebagai konten yang "bernilai tinggi". Sistem kemudian menyebarkan video tersebut ke ribuan hingga jutaan pengguna lain yang memiliki preferensi serupa. Keunikan TikTok terletak pada sistemnya yang tidak memedulikan jumlah pengikut (followers) kreator. Seorang pengguna biasa dengan nol pengikut bisa membuat sebuah istilah menjadi viral secara nasional jika videonya berhasil masuk ke dalam arus algoritma. Akibatnya, terjadi efek ruang gema (echo chamber) di mana pengguna terus-menerus terpapar oleh kosakata yang sama setiap kali mereka membuka aplikasi.

Dari Laboratorium Digital ke Realitas Sosial

Media sosial kini telah berubah menjadi semacam laboratorium kebahasaan raksasa. Di sinilah kata-kata baru diuji coba, diviralkan, dan jika cukup kuat, diadopsi ke dalam komunikasi dunia nyata. Kita bisa melihat bagaimana kata-kata slang baru lahir hampir setiap bulan. Istilah seperti "starboy" untuk mendeskripsikan gaya hidup tertentu, atau singkatan seperti "ygy" (ya guys ya) dan "tbr" (to be honest versi lokal) dengan cepat berpindah dari teks di layar ponsel ke obrolan di kedai kopi.

Bahkan, dinamika ini mulai memengaruhi institusi formal kebahasaan. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa kini harus bekerja lebih ekstra untuk memantau kosakata baru yang lahir dari rahim media sosial. Beberapa kata gaul yang awalnya dianggap sebagai perusak bahasa, lambat laun dipertimbangkan masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) jika frekuensi penggunaannya di masyarakat sudah sangat tinggi dan memenuhi syarat konseptual. Ini membuktikan bahwa arus bawah bahasa yang digerakkan oleh algoritma mampu menembus batas-batas formalitas akademik.

Eksploitasi Psikologis dan Dorongan Kelompok

Mengapa Gen Z begitu mudah "tertular" oleh kosakata baru dari TikTok? Jawabannya terletak pada aspek psikologi sosial, khususnya kebutuhan akan rasa memiliki kelompok (sense of belonging). Remaja memiliki kecenderungan alami untuk mencari identitas kelompok. Ketika sebuah istilah menjadi tren di TikTok, menggunakan istilah tersebut dipandang sebagai tiket untuk diakui sebagai bagian dari komunitas yang modern dan relevan.

Sebaliknya, ada ketakutan sosial tersembunyi yang sering disebut dengan Fear of Missing Out (FOMO). Seseorang yang tidak memahami arti kata "core" atau "red flag" dalam konteks tren TikTok akan merasa terasing dari percakapan kelompoknya. Di sinilah algoritma bekerja secara tidak langsung memanfaatkan psikologi manusia. Dengan terus menyodorkan tren bahasa yang sama, algoritma menciptakan standarisasi sosial baru. Mengucapkan kata gaul TikTok bukan lagi sekadar pilihan gaya bahasa, melainkan sebuah kebutuhan adaptasi sosial digital.

Dilema Kebahasaan: Degradasi atau Kekayaan Baru?

Melihat fenomena ini, wajar jika muncul perdebatan sengit di kalangan pengamat budaya dan bahasa. Apakah algoritma yang mendikte kosakata kita merupakan ancaman nyata bagi masa depan bahasa Indonesia, atau justru sebuah kekayaan baru?

Di satu sisi, ada kekhawatiran yang valid mengenai potensi degradasi bahasa baku. Paparan konstan terhadap bahasa yang serba disingkat, dicampur dengan bahasa Inggris (code-mixing), atau struktur kalimat yang acak-acakan dapat melemahkan kemampuan generasi muda dalam menulis atau berkomunikasi dalam situasi formal. Banyak guru dan akademisi mengeluhkan bagaimana gaya menulis di media sosial mulai terbawa ke dalam tugas-tugas sekolah dan kuliah.

Namun di sisi lain, fenomena ini memperlihatkan bahwa bahasa Indonesia adalah entitas yang dinamis, adaptif, dan sangat hidup. Kemampuan Gen Z untuk memodifikasi ejaan, menciptakan metafora baru (seperti kata "menyala" untuk memuji kehebatan seseorang), adalah bukti kreativitas linguistik yang tinggi. Bahasa yang tidak mengalami perubahan adalah bahasa yang mati. Melalui TikTok, bahasa Indonesia justru sedang menunjukkan daya hidupnya yang luar biasa dalam merespons perkembangan teknologi digital.

Memegang Kendali atas Algoritma

Pada akhirnya, kita harus menyadari satu hal krusial: algoritma tidak memiliki kecerdasan moral, selera estetika, atau standar kebahasaan sendiri. Algoritma hanyalah sebuah cermin raksasa yang memantulkan kembali apa yang kita lakukan di ruang digital. Ia memperkuat apa yang kita pilih untuk dikonsumsi.

Jika kita secara kolektif terus-menerus memilih untuk menonton dan berinteraksi dengan konten-konten yang menggunakan bahasa yang malas, kasar, dan tidak terstruktur, maka algoritma akan menyimpulkan bahwa itulah standar komunikasi yang kita inginkan. Sebaliknya, jika kita juga memberikan ruang dan interaksi pada konten-konten yang menggunakan bahasa Indonesia dengan kreatif, estetis, dan edukatif, algoritma akan mendistribusikan konten serupa ke audiens yang lebih luas.

Masa depan bahasa Indonesia tidak berada di tangan baris-baris kode pemrograman TikTok, melainkan di jempol kita sendiri. Setiap like, share, dan durasi menonton yang kita berikan adalah bentuk "voting" untuk menentukan kosakata seperti apa yang akan mendikte isi kepala kita esok hari.