M. Reza Sulaiman | Winda Prastika
foto dari cerpen di antara batu kami bertumbuh (Gemini AI/Nano Banana)
Winda Prastika

Di celah kecil itu, hidupku dimulai: di antara spasi sempit batu tepian jalan raya, di mana tanah hanyalah titipan dan matahari adalah hak istimewa. Aku, dandelion, belajar bernapas dalam debu. Tubuhku kurus, menantang gravitasi. Daun-daunku bergerigi seperti gergaji kecil, senjata untuk mempertahankan setetes embun. Mahkotaku kuning pucat, satu-satunya warna yang berani kutunjukkan ke langit abu-abu polusi.

Setiap fajar menyingsing, aku menjadi penonton diam di sebuah pameran. Mereka ada di sana, di balik pagar kayu yang dicat putih: Sang Mawar yang merah dramatis, disiram dengan air bersih dan kata-kata pujian. "Cinta," bisik orang-orang sambil mengendusnya. Di sampingnya, melati bermekaran dalam kesucian yang hampir menyakitkan; harumnya dirancang untuk menghiasi doa dan duka. Tak jauh dari sana, bunga matahari, "sang idola", dengan leher panjangnya yang patuh mengikuti sang surya, seolah dialah satu-satunya yang berhak atas cahaya.

Lalu, bagaimana dengan aku? Aku adalah latar yang tidak dihiraukan. Disengat terik, dicium oleh asap knalpot, dan hanya disentuh oleh ujung sepatu yang tak acuh. Suatu hari, setelah hujan singkat, aku melihat bayanganku di genangan air keruh: rapuh, kusam, dan sementara. Sebuah kecemasan yang dingin merayap dari akar hingga ke pucukku. Apakah arti tumbuh, jika hanya untuk tidak berarti?

"Kau memandang laut, tetapi mengeluh kehausan."

Suara itu datang dari atas, ringan seperti bayangan. Seekor kupu-kupu bersayap robek dengan warna yang memudar, hinggap di batu di sampingku. Matanya indah seperti permata, menatapku.

"Aku tidak punya laut," bisikku. "Hanya batu dan debu ini."

"Ironi," desisnya. "Kau mengidamkan pagar, padahal kau terlahir bebas. Mereka terkurung oleh definisi. Satu jadi 'cinta', satu jadi 'kesucian'. Kau? Kau masih mungkin. Kau adalah teka-teki yang belum terpecahkan."

Kata-katanya menggantung, lalu ia terbang pergi, meninggalkan aku dengan pertanyaan yang lebih besar dari diriku sendiri.

Lalu, perubahan pun datang. Bukan ledakan, melainkan pelan dan pasti. Kuning di kepalaku memudar, mengering, dan bertransformasi menjadi sesuatu yang lain: sebuah bola dunia berbulu halus yang terdiri atas ratusan parasut mini yang menanti. Setiap benih adalah sebuah jantung yang melekat pada sayap. Aku bukan lagi bunga; aku menjadi kapal induk dari seratus kemungkinan.

Dan angin pun datang. Bukan sembarang angin. Ia adalah Sang Pengembara yang berembus dari lembah jauh, membawa cerita hujan dan gunung. Ia menyapaku dengan cara berbeda, bukan sentuhan kasar, melainkan sebuah undangan.

"Waktunya," bisik Sang Pengembara, suaranya seperti gesekan dedaunan kering.

"Untuk apa?"

"Untuk menjadi peta. Untuk menuliskan cerita di tempat-tempat yang tak tercatat."

Aku gemetar. Ini adalah perpisahan. Dengan sekali embusan yang lembut tetapi penuh keyakinan, Sang Pengembara melepas benih-benihku satu per satu.

Mereka terbang. Mereka menari.

Aku menyaksikan dari akar yang masih mencengkeram batu kesendirianku. Satu benih, seperti bintang jatuh, mendarat di retakan trotoar depan jendela seorang pelukis yang sedang mengalami kebuntuan. Ia melihat bola bulu kecil itu dan teringat pada sesuatu yang liar dan tak terduga. Tangannya pun mulai bergerak lagi.

Benih lain, dibawa lebih jauh, tersangkut di jubah seorang anak kecil yang sedang menangis karena merasa "aneh" di antara teman-temannya. Ia memungutnya, melihat struktur sempurna parasut alaminya, dan untuk pertama kalinya hari itu, ia tersenyum. Ia meniupnya, melanjutkan perjalanan benih itu.

Yang lain mendarat di tanah bekas kebakaran, hitam dan perih. Di sana, di antara abu, benihku menjulurkan akar pertama, sebuah pertanda hijau di lautan kelam.

Pada saat itu, pemahaman itu datang bukan sebagai teriakan, melainkan sebagai aliran tenang yang menyelubungi seluruh keberadaanku. Aku melihat mawar di balik pagarnya, yang kelopaknya suatu hari akan rontok dan layu di vas meja. Aku melihat melati yang harumnya hanya dikenal di karangan bunga yang akhirnya mengering.

Sedangkan aku? Aku telah menjadi angin. Aku telah menjadi penerbang. Aku telah menjadi benih yang tumbuh di retakan, mengubah celah menjadi kebun.

Kekuatanku bukan pada keindahan yang diam, melainkan pada ketahanan yang bergerak. Bukan pada harum yang dinikmati, melainkan pada kehidupan yang disebarkan. Aku adalah cerita yang tidak berakhir, yang terus berlanjut dan dikisahkan oleh setiap embusan.

Kini, ketika Sang Pengembara kembali menyapaku, aku tidak lagi merasakan kehampaan. Aku merasakan kepenuhan yang tak terkira. Aku adalah titik awal. Aku adalah keberangkatan. Di antara batu-batu keras itu, aku telah menemukan bahwa takdirku bukan sekadar tumbuh, melainkan untuk memberangkatkan dan menyebarkan kehidupan.

Dan di kejauhan, di trotoar, di tanah gersang, di sudut-sudut sunyi dunia, anak-anakku yang kuning mulai bermekaran. Mereka akan melewati fase menjadi "mungkin", dan suatu hari nanti, Sang Pengembara akan datang untuk mereka juga. Siklus itu akan berlanjut. Menebar kehidupan hingga ke celah sempit antara bebatuan.

Kami adalah bunga-bunga yang terbang. Dan dalam terbang, kami menemukan makna yang tidak bisa dijinakkan oleh pagar mana pun.