Lintang Siltya Utami | Winda Prastika
Ilustrasi Warna yang Tak Terlihat (Gemini AI/Nano Banana)
Winda Prastika

Di dalam sarang kayu yang hangat di bawah atap gudang tua, terdapat dua ekor larva yang tumbuh berdampingan. Mereka berasal dari telur yang diletakkan pada hari yang sama, makan daun yang sama, dan berbagi ruang yang sama. Namun, sejak pertama kali mereka membuka mata sebagai kepompong, dunia sudah mulai memandangnya dengan cara yang berbeda.

“Kamu tahu nanti kita akan menjadi apa?” tanya larva yang lebih aktif, yang kemudian akan dikenal sebagai Kupu-Kupu Ceria. “Kakak-kakak kita bilang kita akan menjadi makhluk yang cantik, dengan sayap yang penuh warna seperti pelangi yang jatuh dari langit. Dunia akan menyambut kita dengan senyuman, dan bunga-bunga akan membuka kelopaknya hanya untuk kita!”

Larva yang lebih pendiam, yang nantinya menjadi Ngengat Damai, hanya mengangguk perlahan. Dia pernah mendengar cerita yang sama, tapi juga pernah melihat bayangan makhluk dengan sayap gelap yang terbang di malam hari, hanya untuk dilihat dengan tatapan curiga oleh manusia yang melihatnya.

Beberapa minggu kemudian, saat matahari mulai menyinari gudang tua, kepompong Ceria mulai retak. Dari dalamnya muncul sosok yang memukau—sayapnya berwarna oranye cerah dengan bintik-bintik hitam yang indah, seperti permata yang ditempatkan dengan cermat di atas kain halus. Dia mengepakkan sayapnya dengan lembut, merasakan hembusan udara yang menyentuhnya. Segera setelah dia terbang keluar dari gudang, seekor anak kecil melihatnya dan berteriak senang.

“Lihat, Bu! Kupu-kupu itu cantik sekali!” Anak itu berlari mengejarnya dengan tangan terbentang lebar. Bunga mawar di halaman rumah juga seolah-olah mengucapkan selamat datang, membuka kelopaknya lebar-lebar agar Ceria bisa hinggap dan menghisap nektarnya. Burung-burung kecil pun berkicau dengan nada merdu seolah menyanyi untuknya.

“Begitulah dunia!” ujar Ceria dengan bangga ketika dia kembali ke gudang untuk melihat Damai. “Semua orang menyambutku dengan kebahagiaan. Mereka bilang aku adalah keajaiban yang indah yang datang untuk menghiasi hari mereka!”

Pada malam hari yang sama, kepompong Damai akhirnya punah. Dari dalamnya muncul sosok dengan sayap yang lebar tapi berwarna coklat tua pekat, dengan beberapa pola putih yang tidak terlalu mencolok. Ketika dia mengepakkan sayapnya untuk pertama kalinya, dia merasakan kelembutannya, tapi juga melihat bayangan sayapnya yang tampak suram di bawah sinar lilin yang redup. Dia keluar dari gudang dengan hati yang penuh harap, tapi apa yang dia temui jauh berbeda dengan cerita yang pernah dia dengar.

Seorang wanita yang sedang membersihkan halaman melihatnya dan dengan cepat mengusapkannya dengan tangan. “Hiks, ngengat yang buruk rupa ini sudah masuk ke halaman rumah. Jangan sampai merusak tanamanku!”

Wanita itu kemudian membuka pintu garasi dan mengusirnya ke sana. Damai terbang ke arah sebuah kebun malam, tapi setiap kali dia ingin hinggap di atas bunga, dia melihat bagaimana bunga itu tetap menutup kelopaknya. Bahkan ketika dia menemukan sebuah bunga yang sedang mekar pada malam hari, dia hanya bisa menghisap sedikit nektar sebelum seekor burung hantu lewat dan membuatnya terbang cepat untuk menyembunyikan diri.

Hari demi hari berlalu. Ceria selalu kembali dengan cerita indah tentang dunia yang penuh warna dan senyuman. Dia bercerita tentang anak-anak yang mengejarnya dengan senyum lebar, tentang taman-taman yang penuh dengan bunga yang menunggu kedatangannya, dan tentang bagaimana orang-orang berhenti sejenak dari aktivitas mereka hanya untuk melihatnya terbang.

“Sekarang kamu mengerti kan?” ujar Ceria kepada Damai suatu sore. “Kita memang diciptakan berbeda. Aku adalah yang diutus untuk membawa keindahan pada siang hari, sedangkan kamu… mungkin kamu punya peranmu sendiri di malam hari, meskipun tidak banyak yang menghargainya.”

Damai hanya tersenyum lembut. Dia tidak mau membantah teman lamanya itu, tapi dia tahu bahwa ada sesuatu yang tidak diketahui oleh dunia tentang dirinya. Setiap malam, dia terbang ke seluruh penjuru desa, membantu menyebarkan serbuk sari dari bunga-bunga yang hanya mekar pada malam hari—bunga yang tidak pernah dilihat oleh kebanyakan orang karena mereka sudah tertidur pulas. Dia membantu bunga-bunga itu untuk tumbuh dan menghasilkan buah yang lezat, meskipun tidak ada yang tahu bahwa dia adalah salah satu penyumbang keberhasilan itu.

Suatu malam, ketika bulan sedang bersinar terang di langit, Damai terbang ke sebuah taman yang jarang dikunjungi. Di sana, dia menemukan sebuah kebun bunga malam yang sedang mekar dengan sangat indah. Bunga bakung malam membuka kelopaknya dengan keindahan yang memukau, memancarkan aroma harum yang hanya bisa dirasakan di malam hari. Bunga wijaya kusuma juga mulai menunjukkan keindahan kelopaknya yang putih bersih seperti mutiara.

Saat Damai hinggap di atas salah satu bunga bakung, dia melihat seorang lelaki tua sedang duduk di bangku taman, menatap ke arah kebun dengan mata yang penuh kagum. Lelaki itu tidak melihat Damai, tapi dia berkata dengan suara yang lembut, “Betapa indahnya malam ini. Bunga-bunga ini tumbuh dengan baik setiap tahun, memberikan keharuman dan keindahan yang tidak bisa ditemukan pada siang hari. Dan aku tahu, ada makhluk-makhluk kecil yang bekerja dengan diam-diam di malam hari untuk membuat semua ini menjadi mungkin. Mereka mungkin tak terlihat atau dipuji, tapi tanpa mereka, dunia ini akan kehilangan sebagian keindahannya yang paling mendalam.”

Damai merasa sesuatu yang hangat mengalir di dalam dirinya. Dia mulai menyadari bahwa keindahan tidak selalu harus terlihat atau dipuji oleh banyak orang. Ada keindahan dalam ketenangan, dalam pekerjaan yang dilakukan tanpa pamrih, dan dalam menerima diri sendiri apa adanya.

Keesokan harinya, Damai bertemu dengan Ceria di gudang tua. Kali ini, dia tidak lagi merasa minder atau tidak berharga.

“Aku punya cerita untuk kamu,” ujar Damai dengan suara yang penuh keyakinan. “Kamu benar bahwa dunia menyambutmu dengan kebahagiaan dan senyum. Tapi kamu tahu tidak? Ada keindahan lain yang hanya bisa ditemukan di malam hari—keindahan yang tenang, dalam, dan penuh makna. Aku mungkin tidak memiliki warna yang mencolok atau diterima dengan hangat oleh semua orang, tapi aku punya peran penting di dunia ini. Aku membantu bunga-bunga malam tumbuh dan menghasilkan buah, dan aku belajar untuk mencintai diriku sendiri apa adanya.”

Ceria melihat Damai dengan mata yang baru saja terbuka lebar. Dia baru menyadari bahwa selama ini dia hanya melihat satu sisi dari dunia. Dia meraih sayap Damai dengan lembut dan berkata, “Kamu benar. Aku tidak pernah berpikir tentang apa yang kamu lakukan di malam hari. Kamu juga memiliki keindahanmu sendiri, meskipun berbeda dengan yang kudapatkan. Kita memang berasal dari tempat yang sama, hidup di dunia yang sama, tapi kita membawa keindahan yang berbeda pada waktu yang berbeda.”

Sejak itu, Ceria dan Damai tidak lagi melihat diri mereka sebagai makhluk yang berbeda secara mutlak. Mereka menyadari bahwa mereka adalah dua sisi dari keindahan yang sama—satu tampil di siang hari untuk menghiasi dunia dengan warna cerah, dan yang lain bekerja dengan diam-diam di malam hari untuk menjaga kelangsungan hidup banyak makhluk.

Dunia mungkin masih sering melihat kupu-kupu sebagai keajaiban yang indah dan ngengat sebagai makhluk yang kurang menarik. Tapi Damai sudah tidak lagi peduli dengan itu. Dia telah belajar untuk mencintai dan menerima diri sendiri sepenuhnya, mengetahui bahwa setiap makhluk memiliki nilai dan keindahannya sendiri—bahkan jika dunia membutuhkan waktu lebih lama untuk melihatnya.