Bagi sebagian orang, memiliki rumah sendiri adalah salah satu pencapaian terbesar dalam hidup. Setelah lulus kuliah dan bekerja, membeli rumah biasanya langsung masuk dalam daftar target finansial utama. Akan tetapi, kondisi saat ini membuat rencana tersebut terasa lebih menantang untuk diwujudkan, mengingat harga rumah yang terus naik, besarnya uang muka, cicilan jangka panjang, hingga faktor ketidakpastian pekerjaan.
Di tengah situasi ini, banyak anak muda yang akhirnya lebih memilih untuk menyewa rumah dalam jangka panjang. Dibandingkan harus mengikat diri dengan cicilan KPR selama belasan hingga puluhan tahun, mereka merasa lebih fleksibel dan nyaman membayar sewa bulanan atau tahunan. Fenomena inilah yang kemudian melahirkan istilah Generation Rent atau generasi penyewa.
Istilah Generation Rent menggambarkan generasi yang menghabiskan sebagian besar masa dewasanya dengan menyewa tempat tinggal. Fenomena ini berkembang di berbagai negara seiring harga properti yang makin sulit dijangkau oleh kelompok usia muda, sehingga menyewa menjadi solusi realistis untuk mendapatkan hunian tanpa harus membeli aset.
Perubahan ini juga menunjukkan adanya pergeseran sudut pandang. Jika dulu rumah selalu dianggap sebagai simbol kemapanan, sebagian anak muda saat ini melihat hunian sebagai kebutuhan fungsi yang bisa dipenuhi lewat sistem sewa. Pilihan ini dinilai memberikan keleluasaan lebih untuk menyesuaikan tempat tinggal dengan kebutuhan dan kondisi finansial mereka.
Di Indonesia sendiri, kecenderungan menyewa ini lebih banyak terlihat di wilayah perkotaan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Susenas Maret 2025, sebanyak 85,07 persen rumah tangga sudah menempati rumah milik sendiri, sementara 5,15 persen sisanya tinggal di hunian dengan status kontrak atau sewa.
Jika dibedakan wilayahnya, persentase rumah tangga yang menyewa di area perkotaan mencapai 8,02 persen, jauh lebih tinggi dibanding pedesaan yang hanya 0,98 persen. DKI Jakarta mencatat angka kontrak atau sewa tertinggi sebesar 21,20 persen, sedangkan DI Yogyakarta berada di angka 7,09 persen. Data tersebut menegaskan bahwa gaya hidup menyewa hunian memang jauh lebih menonjol di lingkungan perkotaan.
Ada beberapa alasan utama mengapa menyewa rumah kini makin dilirik oleh anak muda. Pertama, faktor fleksibilitas. Banyak pekerja muda yang masih berpotensi pindah kota demi pekerjaan, pendidikan, atau peluang karier, sehingga menyewa hunian membuat mereka lebih mudah bergerak tanpa terikat komitmen properti jangka panjang.
Kedua, beban finansial dari cicilan KPR yang tidak sedikit. Selain uang muka, membeli rumah juga melibatkan biaya administrasi, bunga, hingga pajak. Bank Indonesia melalui Survei Harga Properti Residensial Triwulan II 2026 mencatat bahwa 70,05 persen pembelian rumah di pasar primer masih menggunakan skema KPR, yang menegaskan betapa besarnya ketergantungan pada pembiayaan jangka panjang ini.
Ketiga, faktor ketidakpastian pekerjaan dan pentingnya menjaga arus kas keuangan. Mengingat tidak semua pekerja muda memiliki penghasilan yang selalu stabil untuk komitmen jangka panjang, sebagian dari mereka memilih menyewa agar memiliki ruang gerak yang lebih longgar dalam mengatur pengeluaran, menabung, atau memenuhi kebutuhan hidup lainnya.
Meski demikian, menyewa hunian tentu memiliki tantangannya sendiri. Uang sewa yang dibayarkan setiap bulan tidak akan berubah menjadi kepemilikan aset, dan penyewa juga harus siap dengan risiko kenaikan harga sewaktu-waktu serta perubahan ketentuan kontrak. Sebaliknya, KPR memberikan kesempatan untuk membangun kepemilikan rumah secara bertahap, walaupun memang menuntut komitmen finansial yang panjang.
Pada intinya, tren Renting Generation ini menunjukkan bahwa standar kemapanan perlahan mulai bergeser. Memiliki rumah sendiri tetap menjadi impian yang wajar, tetapi menyewa juga bisa menjadi pilihan yang rasional sesuai dengan kebutuhan keuangan masing-masing. Sebab, fungsi utama rumah adalah sebagai tempat tinggal yang aman, layak, dan terjangkau, sehingga kemapanan hidup tidak selalu harus diukur dari kepemilikan sebuah bangunan.
Baca Juga
-
Soroti Aksi 28 Oktober, LBH Yogyakarta Ungkap 32 Korban dan Dugaan Kekerasan
-
Fenomena Thrifting: Antara Gaya Hidup dan Ancaman Limbah Tekstil
-
Dune 3 hingga Avengers: Doomsday, Ini 5 Tontonan yang Rilis di Akhir Tahun 2026
-
Stop Tunggu Mood, Ini Lima Insight Disiplin Menulis dari J.S. Khairen
-
Di Balik Drakor Pinocchio: Membeda Cermin Buram Industri Media Masa Kini
Artikel Terkait
-
Dari Gaya Hidup hingga Cek Kesehatan, Langkah Preventif Bisa Dimulai dari Kebiasaan Sehari-hari
-
BRI Hadirkan Kemudahan Transaksi dan Pengajuan KPR di Tengah Mobilitas Pekerja Dukuh Atas
-
Fenomena Thrifting: Antara Gaya Hidup dan Ancaman Limbah Tekstil
-
Sudah Rajin Olahraga dan Jaga Pola Makan, Mengapa Dampaknya Belum Maksimal?
-
Menabung Tanpa Kehilangan Masa Muda: Bisakah Gen Z Temukan Keseimbangan?
Kolom
-
Sisi Gelap 'Magang': Kerja Profesional, Kenapa Dihargai Upah Sukarela?
-
Rakyat Diminta Berhemat, Pejabat Menikmati Fasilitas Negara?
-
MA Batalkan Suket SMA Gibran, Ada Apa dengan Syarat Cawapres 2024?
-
Fenomena Thrifting: Antara Gaya Hidup dan Ancaman Limbah Tekstil
-
Salam Tiga Jari Menggema, Simbol Perlawanan yang Menyimpan Pesan Besar
Terkini
-
Sinopsis Akka, Series Kriminal India Terbaru Radhika Apte di Netflix
-
Jadwal dan Prediksi Liga Champions: Misi Bangkit Barcelona hingga Manchester United
-
Menguliti Sisi Gelap Dunia Kerja di Novel Kami (Bukan) Jongos Berdasi
-
Soroti Aksi 28 Oktober, LBH Yogyakarta Ungkap 32 Korban dan Dugaan Kekerasan
-
Mengungkap Wajah Kelam Kemiskinan dan Ketidakadilan di Buku Oliver Twist