Memulai suatu pekerjaan bukanlah perkara gampang. Begitu pun ketika mempertahankan sebuah pekerjaan, tentu juga banyak remeh temehnya yang mesti harus ditanggung. Asalkan bukan mempertahankan orang yang kita sayang, karena bisa saja nyawa dapat menjadi taruhannya. Canda kale, wqwqwq.
Maksudnya saya adalah pekerjaan yang di rumah saat waktu makan, tak lain ialah dengan mencoba mempertahankan atau membudayakan bersih-bersih saat usai makan, ya mungkin agak klise dan masalah kecil sih. Oke, ngomong-ngomong terkait budaya, berarti sederhananya: sesuatu itu pernah dilakukan sebelumnya atau bahkan pernah menjadi nilai moral, akan tetapi mengalami pergeseran seiring berjalannya waktu. Mungkin begitu juga dengan budaya bersih-bersih saat selesai makan, iya kalau pun tidak, maka kini saatnya membudayakannya. Iya kan, dengan memulai pada diri sendiri, mencontohkan di dalam anggota keluarga, dan kalau bisa ada efek perubahan yang dapat diberikan pada orang lain.
Masalahnya sering saya temui, orang-orang saat selesai makan sangat jarang membersihkan sisa-sisa makanannya yang tergeletak di meja, parahnya jika piring kotornya dibiarkan jadi pemandangan di meja (alias tidak langsung disimpan di tempat nyuci piring). Bahkan, di kalangan keluarga sendiri pun, mohon maaf, kadang kala menyepelekan hal seperti itu. Beruntung sih kalau tidak ada piring kotor tergeletak di meja, namun kalau di tempat nyuci seperti piring, sendok dan kotoran lainnya justru dibiarkan menumpuk dan terus menumpuk. Entah, besoknya atau pun lusa barulah dicuci ketika piring sudah tidak ada lagi piring yang bisa dipakai karena kotor semua. Maka barulah bergegas untuk mencuci piring.
Dan sering juga tidak membersihkan sisa-sisa makanan di meja makan. Tidak dilap atau disapu, bahkan meninggalkannya seakan tidak ada bebannya dengan itu. Meskipun tidak salah sih, akan tetapi perilaku seperti itu sangatlah mencerminkan sebagai sosok orang yang pemalas dan juga memang tidak baik.
Hal seperti itu biasaya terjadi, karena di dalam anggota keluarga sangat kental dengan sistem patriarki. Di mana segala pekerjaan rumah adalah tanggungan dari perempuan. Ya, termasuk pekerjaan cuci piring dan bersih-bersih saat usai makan. Seperti anak perempuan atau ibu yang memang diidentikan untuk mengurus segala pekerjaan rumah dan logistik, serta bersih-bersih pun saat anggota keluarga selesai makan.
Saya sendiri adalah anak laki-laki, namun tidak juga sepaham kalau semua pekerjaan rumah semuanya harus ditanggung oleh anak perempuan atau pun ibu. Setidaknya memulai dari diri sendiri dengan sederhana yakni langsung menyimpan piring kotor kita ke tempat cucian.
Apalagi, kalau sementara tidak ada anak perempuan atau ibu di rumah, maka mesti anak laki-laki juga dong bergegas untuk bersih-bersih ketika selesai makan, kan itu uga kotoran makanan kita sendiri. Bukan malah menunggu anak perempuan atau ibu yang mesti melakukannya, walaupun nanti.
Hal serupa juga saat berada di komunitas seperti perkumpulan organisasi mahasiswa. Saya melihat bahwa masih kurang budaya bersih-bersih dari anggota organisasi ketika selesai makan. Justru sudah membudaya kalau selesai makan seakan tidak ada lagi aktivitas lain, biarlah piring kotor menumpuk dan sisa makanan berhamburan. Artinya, ketika selesai makan, maka istrihat atau baring-baring.
Nah, pada dasarnya itu terjadi karena kesadaran yang kurang akan kebersihan. Walaupun memang sepele sih, atau mungkin karena saking sepelenya, sehingga budaya bersih-bersih diabaikan dan bukan suatu tuntutan moral.
Oleh karena itu, penting kiranya untuk memulai budayakan bersih-bersih saat selesai makan. Selain kegiatan itu dapat melatih kedisiplinan, juga sebagai bentuk penghargaan terhadap makanan, dan dapat terlebih menjaga keberhasilan. Bukankah kebersihan adalah bagian dari iman, kan gitu. Apalagi Tuhan hanya bisa dekat dengan orang-orang bersih, emangnya kita nggak mau dekat dengan Tuhan?
Kalau ditanya efeknya, pasti amatlah besar. Selain pada kebaikan diri sendiri, juga dapat menjadi contoh di dalam anggota keluarga, terlebih berpengaruh besar pada keturunan nanti. Intinya kembali pada diri sendiri. Bukankah suatu kaum tidak akan berubah, kecuali ia sendiri yang merubahnya. Saya pikir seperti itu ya bro.
Baca Juga
-
Upgrade Instan ala Naturalisasi: Jalan Pintas yang Kadang Nggak Sesingkat Itu
-
Bukan Kurang Doa, Tapi Memang Sistemnya yang Gak Rata: Curhat Kelas Proletar
-
Sound Horeg: Antara Kebisingan dan Hiburan
-
Dari Eco-Pesantren Hingga Teologi Hijau: Cara NU dan Muhammadiyah Mengubah Iman Jadi Aksi Lingkungan
-
Produk Desa Masuk Marketplace: Rahasia Produk Naik Kelas Jalur Branding
Artikel Terkait
-
Purbaya Sempat Tolak Pengadaan Motor untuk Kepala SPPG
-
Air Bersih Berkelanjutan Jadi Kunci Hidup Sehat: Lebih Aman untuk Masa Depan
-
Tradisi Jadi Kekuatan Baru, Fashion Indonesia Ikuti Transformasi Global ala Moscow Fashion Week
-
Anggaran Makan Bergizi Gratis Mengalir Ke Motor Listrik Trail Seharga Puluhan Juta Rupiah
-
Ngebulnya Pasar Rokok Ilegal di RI
Lifestyle
-
Cari HP Samsung Awet dan Murah? Ini 7 Pilihan RAM 8/256 GB Terbaik
-
Dompet Siswa Senyum, Jerawat Kabur: 5 Sabun Muka Murah yang Hasilnya Mewah!
-
Rekomendasi HP Rp7 Jutaan Terbaik 2026, Gaming dan Kamera Oke
-
5 Sunscreen SPF 50 untuk Perlindungan Maksimal Kulit Wajah dan Tubuh
-
Serum Retinol Aman untuk Kulit Sensitif? Ini 5 Pilihan yang Minim Iritasi
Terkini
-
Dilema Pengantin Baru dan Anekdot Misterius dalam Perempuan Kelabu
-
Rami Malek Jadi Freddie: Mengulik Pesan Keberanian Jadi Diri Sendiri di Film Bohemian Rhapsody
-
Kaget Pas Lagi Jalan? Drama Baliho "Aku Harus Mati" yang Berujung Turun Panggung
-
Buku Max Havelaar: Suara dari Lebak 1860 yang Mengguncang Kolonialisme
-
Sentuhan Fisik untuk Perempuan: Bikin Gagal Move On atau Cuma Reaksi Oksitosin?