"Kamu tahu nggak? Aku tu lagi marah gara-gara bla bla bla..." (cerita panjang lebar)
"Oh, gitu. Yaudah sabar aja ya, pasti ada hikmahnya kok. Kamu nggak boleh lemah dong cuma gitu aja!"
***
Familiar dengan percakapan di atas? Well, welcome to bahasan toxic positivity!
Apa sih sebenarnya toxic positivity itu? Dikutip dari alodokter.com, istilah ini merupakan kondisi ketika seseorang menuntut diri sendiri atau orang lain untuk selalu berpikir positif dan menolak semua emosi negatif.
Hal ini tentu tidak dibenarkan karena emosi negatif juga perlu diekspresikan. Penyangkalan emosi negatif yang terus menerus dapat menjadi penyebab terjadinya masalah kesehatan mental, stres, cemas, gangguan tidur/insomnia, depresi hingga PTSD (Post Traumatic Stress Disorder).
Orang yang terjebak dalam toxic positivity ini memunculkan ciri-ciri berupa:
- Sering menyembunyikan perasaan sebenarnya
- Selalu menghindari/membiarkan masalah tanpa menyelesaikannya
- Sering melontarkan kalimat menyalahkan (ex: "udah nggak papa, coba kalau kamu nggak kayak gini pasti nggak bakal kejadian ini!"), kalimat membandingkan (ex: "Jangan lemah gini dong, di luar sana banyak yang nggak seberuntung kamu!") atau kalimat meremehkan (ex: "udah jangan nangisin ginian, lemah banget sih jadi orang!")
Toxic positivity memiliki dampah negatif yang dapat timbul. Dilansir dari ocbcnisp.com, beberapa dampak yang akan timbul antara lain:
- Susah sosialisasi
- Mudah stres
- Timbulnya gangguan mental
- Mudah gelisah/ketakutan
- Timbul perilaku merasa paling benar
Lalu bagaimana cara menghindari toxic positivity? Dikutip dari alodokter.com dan themindsjournal.com, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan yakni:
1. Rasakan dan Kelola Emosi Negatif
Kalian bisa memulai dengan menyadari bahwa emosi negatif adalah bagian dari hidup dan pengalaman kita. Coba untuk menegaskan apa yang sedang kalian rasakan saat ini, apakah itu emosi sedih, marah jengkel dan lain sebagainya, sambut semua emosi itu dengan cinta dan kebaikan, karena sangat tidak apa-apa untuk kita merasakannya.
Kamu bisa menuangkannya dengan cerita dengan orang yang kamu percaya atau melakukan journaling.
2. Coba untuk Memahami dan Bukan Menghakimi
Ketika seseorang meluapkan semua emosinya pada kita, biarkan dia meluapkannya tanpa disambut dengan komentar bernada judgemental.
3. Hindari Membandingkan Masalah
Akan sulit bagi individu yang sudah kalut dengan masalahnya sendiri jika malah dibandingkan dengan masalah orang lain. Kata lainnya adalah mengadu nasib. Cukup dengarkan cerita mereka tentang permasalahan mereka sendiri.
4. Kurangi Main Medsos
Banyak trigger yang bisa didapatkan dari postingan seseorang sehingga akan semakin membuat tertekan. Mengurangi medsos decara berkala dapat membantumu tenang dan pulih.
5. Meditasi Mindfulness
Cobalah untuk melatih ketenangan dan pernapasan dengan meditasi kesadaran diri.
6. Selalu Berpikir Positif
Pikiran yang positif akan membawa perilaku positif juga dalam kehidupan kita.
Lalu bagaimana cara memberikan respon yang tepat tanpa membandingkan, meremehkan atau menyalahkan pihak yang bercerita? Kamu bisa menggunakan beberapa contoh kalimat di bawah ini:
- Ganti kalimat "semua akan berlalu, tenang aja!" dengan "kamu udah bertahan sejauh ini dan aku percaya kamu!"
- Ganti kalimat "Udah, pikir positif aja!" dengan "aku tahu sekarang rasanya sulit banget buat kamu dan serba salah, tapi yuk kita pikirin bagaimana untuk bangkit lagi!"
- Ganti kalimat "semua pasti ada hikmahnya" dengan "nggak papa kalau kamu sekarang merasa nggak baik-baik saja, itu bukan sesuatu yang salah kok"
- Ganti kalimat "udah nggak usah nangis, gitu aja cengeng" dengan "aku tau gimana kacaunya perasaan kamu sekarang dan kadang rasanya pengen nyerah, tapi apapun yang terjadi aku di sini dan siap dengerin kamu"
- Ganti kalimat "itu doang masalahnya? aku lebih parah malah" dengan "pasti berat banget ya rasanya? Aku paham banget perasaanmu kok. Kira-kira aku harus apa biar bisa bantu kamu tenang?"
- Ganti kalimat "gimana lagi? Coba kamu nggak lakukan itu nggak bakal jadi begini!" dengan "Nggak semua hal harus berjalan mulus seperti yang kita rencanakan, nggak apa-apa untuk merasa sedih setelah apa yang kamu putuskan"
Itu dia beberapa penjelasan tentang toxic positivity dan bagaimana cara respon yang baik. Siap mempraktekkannya guys?
Baca Juga
-
Parenting Bullyproof untuk Anak Tahan Bully, Bagaimana Tanggapan Psikiater?
-
Mengenal Counterdependency: Hidup dengan Kemandirian yang Berlebihan
-
Kenali 4 Bahaya Self Diagnosis yang Harus Kalian Tahu!
-
8 Cara Ini Bisa Meredam Emosimu yang Meledak! Praktekkan Yuk!
-
15 Jurnal Prompts ini Bisa Bantu Kamu Healing Lebih Cepat! Coba Yuk!
Artikel Terkait
-
3 Ciri-Ciri Hubungan Berada dalam Fase Keraguan
-
Kamu Penggemar Wortel? Yuk, Kenali 3 Efek Samping Jika Makan Berlebih
-
3 Ciri-Ciri Teman yang Asik Diajak Ngobrol
-
Bukan Hanya Gemar Selfie, Berikut 5 Ciri Orang Narsis yang Harus Dihindari
-
4 Dampak Negatif Sering Bolos Kuliah, Bisa Bikin Enggak Boleh Ikut Ujian!
Lifestyle
-
Indonesia Masuk 6 Negara dengan Obesitas Rendah di Dunia, Apa Rahasianya?
-
Cari Laptop Rp5 Jutaan? Infinix XBOOK B15 Punya Banyak Kejutan dan Layak Dilirik
-
Bebas Kusam! Ini 5 Body Serum Efek Tone Up untuk Tampilan Kulit Cerah
-
Bye Bekas Jerawat! 4 Night Cream Arbutin Wajah Auto Glowing di Pagi Hari
-
Wajah Auto Mulus! 5 Dark Spot Correcting Serum Ampuh Samarkan Noda Hitam
Terkini
-
Sinopsis Insidious: Out of the Further, Kisah Baru Elise dengan Teror Seram
-
Rektor Ditangkap KPK: Maba Korban Pemerasan Harus Diselamatkan?
-
Karhutla Kembali Kepung Kalimantan, Ini Dampaknya bagi Iklim
-
Tarif Parkir Rp60 Ribu Jakarta: Bukan soal Angka, tapi Kepercayaan
-
5 Centimeters Per Second: Ketika Cinta Pertama Bertemu dengan Kenyataan