Keluarga yang bahagia adalah keluarga yang dipenuhi kasih sayang. Keluarga dengan penuh kenyamanan. Orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk anak dan berharap agar hidup anak selalu diberikan kebahagiaan.
Namun, orang tua seringkali melakukan hal yang dapat menghancurkan kesehatan mental sang anak sehingga kebahagiaan yang didambakan tidak tercapai. Dengan kata lain, orang tua tidak menyadari parenting yang mereka lakukan akan sangat berdampak dalam kualitas mental anak. Pola asuh yang dilakukan dapat melemahkan mental anak.
Apa aja sih hal yang dapat melemahkan mental anak dan menghilangkan kepercayaan dirinya?
1. Terlalu Memanjakan Anak
Memanjakan seorang anak memang baik sebagai bentuk curahan kasih sayang dari orang tua, namun hal tersebut tidaklah baik jika dilakukan dengan berlebihan. Segala hal dipenuhi oleh orang tua, sehingga menghilangkan keterampilan yang berkaitan dengan kekuatan mental, seperti disiplin diri pada anak. Ia akan sulit untuk menjadi mandiri dan berkembang.
2. Menyepelekan yang Berkaitan dengan Perasaan Anak
Anak juga memiliki hati dan egonya sendiri. Misalnya, orang tua mengatakan seperti "jangan sedih/menangis karena hal itu" atau "itu bukan masalah besar," artinya orang tua mengirim pesan bahwa perasaan merupakan hal yang tidak penting dan lebih baik untuk menekan mereka.
Anak akan menekan perasaannya dan menyimpannya, hal tersebut akan merusak kesehatan mentalnya karena perasaan yang dirasakan bercampur aduk di dalam dan berpotensi untuk dipendam sang anak.
3. Menginginkan Kesempurnaan dari Anak
Menjadi yang terbaik pasti diinginkan oleh semua orang, namun jika standar yang ditetapkan orang tua terlalu tinggi akan berakibat terhadap kesehatan mental anak.
Anak akan merasa terbebani dan jika tidak berhasil akan menghilangkan kepercayaan diri sang anak. Buatlah harapan pada anak dengan memastikan harapan itu realistis. Sehingga ketika ada kegagalan akan mengajarkan sang anak pelajaran hidup yang berharga dan terus semangat berjuang bagaimana untuk berhasil di masa depan.
Jadi, sebagai orang tua kita juga harus mencoba memahami perasaan sang anak, jangan biarkan harapan orang tua membebani hati anak bahkan melemahkan kesehatan mental anak.
Apabila anak menerima hal-hal yang kurang tepat seperti itu dari orang tua, ia akan merasakan kegelisahan dan perasaan tidak puas pada diri sendiri dan kurang bersyukur. Intinya adalah bagaimana membangun komunikasi antara orang tua dan anak dengan optimal.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Dorong Ibu Atur Jarak Kehamilan, Jokowi Minta Jangan Tiap Tahun Punya Anak
-
Pesan untuk Ibu-Ibu, Jokowi: Punya Anak Tiga Boleh, Tapi Diatur Jarak Usianya
-
Jokowi Minta Atur Jarak Antarkehamilan Ibu: Jangan Tiap Tahun Punya Anak
-
Harus Nyaman, 5 Tips Memilih Baju Muslim Anak Laki-Laki
-
Mencekam, Begini Kondisi Pondok Pesantren Shiddiqiyyah Jombang saat Upaya Penangkapan DPO Kasus Pencabulan
Lifestyle
-
Mau Tampil Gentle? Intip 4 OOTD Dandy Smart Casual ala Kang Hoon
-
5 Coffee Shop 24 jam untuk Kamu yang Bosan Nugas di Kos
-
Bye Bekas Luka! 4 Brightening Body Lotion Ini Bikin Kulit Cerah dan Lembap
-
5 Pilihan Body Scrub Ekstrak Green Tea untuk Merawat Kulit Cerah dan Halus
-
Bebas Bahan Iritan, 4 Pilihan Body Lotion Fragrance-Free untuk Kulit Eksim
Terkini
-
Arti Pentingnya Peran Orang Tua dalam Film Aku Sebelum Aku
-
Home in a Lunchbox: Saat Bekal Makan Siang Menjadi Simbol Kasih Sayang
-
Ulasan Totto-Chan: Gadis Cilik di Jendela,Kisah Pendidikan yang Membebaskan
-
Ironi Ketidakadilan yang Dibiarkan Terjadi di Drama Pyramid Game
-
Ulasan Film Kado untuk Ibu: Renungan Indah Mengenai Kasih Sayang Orang Tua