Bagi gamer yang mulai bermain secara lebih serius, terutama yang menghabiskan banyak waktu di game FPS, memilih mouse tidak lagi sekadar soal desain atau jumlah tombol. Bobot perangkat, akurasi sensor, respons klik, hingga latensi koneksi wireless menjadi faktor yang dapat memengaruhi kenyamanan sekaligus performa saat bermain.
Teknologi mouse gaming wireless sendiri kini berkembang semakin pesat. Koneksi 2,4 GHz dengan latensi rendah, polling rate hingga 8.000Hz, serta sensor dengan tingkat akurasi tinggi mulai tersedia pada semakin banyak produk. Bahkan, beberapa mouse gaming terbaru memiliki bobot di bawah 60 gram sehingga pergerakan tangan terasa jauh lebih ringan.
Menariknya, sejumlah produk dengan spesifikasi tersebut sudah bisa ditemukan di kisaran harga Rp1 jutaan. Berikut lima rekomendasi mouse gaming wireless ringan yang menarik untuk dipertimbangkan pada 2026.
1. ATK Blazing Sky X1 Ultimate
Rekomendasi pertama adalah ATK Blazing Sky X1 Ultimate. Mouse ini cocok bagi pengguna yang mencari perangkat dengan bobot ringan sekaligus bentuk simetris yang fleksibel untuk berbagai gaya genggaman.
Bobotnya hanya sekitar 54 gram. Angka tersebut membuat pergerakan mouse terasa lebih enteng ketika digunakan untuk melakukan flick shot, tracking lawan, maupun perpindahan posisi kursor secara cepat.
Di bagian dalam, ATK Blazing Sky X1 Ultimate mengandalkan sensor PixArt PAW3950 Ultra dengan resolusi hingga 42.000 DPI. Sensor tersebut menawarkan kecepatan tracking hingga 750 IPS dan akselerasi mencapai 70G.
Mouse ini juga menggunakan MCU Nordic 54L14 yang dipadukan dengan teknologi Smart Speed Wireless. Koneksi tersebut mendukung polling rate hingga 8.000Hz dengan latensi tombol yang diklaim hanya sekitar 0,181 ms.
ATK turut membekali perangkat ini dengan custom optical switch dan encoder TTC Gold. Bagian bodinya mendapatkan lapisan nano coating untuk memberikan grip yang lebih baik ketika telapak tangan mulai berkeringat. Untuk harganya, ATK Blazing Sky X1 Ultimate berada di kisaran Rp1,2 jutaan.
Pengguna juga dapat mengatur DPI, makro, hingga firmware melalui software bawaan. Dengan kombinasi tersebut, mouse ini tidak hanya mengejar bobot ringan, tetapi juga menawarkan fleksibilitas konfigurasi untuk kebutuhan gaming.
2. Fantech Helios II Pro S V3
Berikutnya ada Fantech Helios II Pro S V3 yang menjadi salah satu pilihan menarik dari brand lokal dengan produk berorientasi pasar internasional.
Mouse ini membawa desain simetris universal dengan bobot sekitar 55 gram. Bentuk tersebut membuatnya cukup fleksibel digunakan oleh gamer dengan berbagai gaya genggaman, termasuk palm grip maupun claw grip.
Untuk performa, Fantech Helios II Pro S V3 menggunakan sensor PixArt PAW3950 dan MCU Nordic 52840. Kombinasi keduanya dirancang untuk menghasilkan tracking yang akurat sekaligus responsif ketika digunakan dalam permainan kompetitif.
Dari sisi konektivitas, pengguna mendapatkan beberapa pilihan. Mouse ini mendukung wireless 2,4 GHz, Bluetooth, maupun koneksi kabel USB Type-C. Fantech juga menggunakan mechanical switch Huano Transparent Blue Shell Pink Dot yang dirancang untuk memiliki daya tahan tinggi.
Salah satu keunggulan lainnya berada pada paket penjualan. Fantech sudah menyertakan dongle wireless 4K di dalam kotak, sementara polling rate hingga 8.000Hz dapat digunakan melalui koneksi kabel.
Dengan harga sekitar Rp1,1 jutaan, Helios II Pro S V3 menawarkan kombinasi bobot ringan, koneksi fleksibel, serta kelengkapan aksesori yang cukup menarik untuk kelas harganya.
3. Scyrox V8
Jika bobot menjadi prioritas utama, Scyrox V8 merupakan salah satu produk yang layak diperhatikan. Mouse ini memiliki bobot hanya sekitar 40 gram sehingga pergerakannya terasa sangat ringan.
Scyrox V8 ditujukan terutama untuk pengguna claw grip dan fingertip grip. Desainnya dibuat dengan bentuk yang memberikan dukungan terhadap telapak tangan, tetapi tetap memungkinkan pergerakan mouse secara cepat.
Urusan sensor juga tidak bisa dianggap remeh. Scyrox V8 menggunakan PixArt PAW3950 dengan resolusi hingga 30.000 DPI, tracking speed 750 IPS, serta akselerasi hingga 50G.
Perangkat ini mengandalkan MCU Nordic 52840 yang mendukung polling rate hingga 8.000Hz melalui koneksi wireless. Tombol utamanya menggunakan Omron Optical Switch yang menawarkan respons klik cepat dan konsisten.
Menariknya, pengaturan DPI dan makro tidak mengharuskan pengguna memasang software berukuran besar. Konfigurasi dapat dilakukan melalui browser menggunakan S-Center. Harga Scyrox V8 berada di kisaran Rp1,2 jutaan.
4. Lamzu Maya X
Beralih ke kelas yang lebih premium, ada Lamzu Maya X. Mouse ini menawarkan desain simetris dengan tampilan minimalis dan bobot sekitar 47 gram.
Lamzu membekalinya dengan sensor PixArt PAW3950 yang memiliki resolusi hingga 30.000 DPI, kecepatan tracking 750 IPS, serta akselerasi mencapai 50G. Spesifikasi tersebut membuatnya cocok untuk pengguna yang membutuhkan kontrol presisi dalam permainan FPS.
Lamzu Maya X juga mendukung polling rate hingga 8.000Hz menggunakan dongle khusus. Konektivitasnya mencakup wireless 2,4 GHz dan koneksi kabel USB sehingga pengguna dapat menyesuaikannya dengan kebutuhan.
Pada bagian tombol, perangkat ini menggunakan Omron Optical Switch. Sementara itu, scroll wheel mengandalkan encoder khusus Lamzu yang dirancang untuk menghasilkan gerakan scrolling lebih presisi.
Dengan distribusi resmi dan dukungan garansi, Lamzu Maya X juga menjadi pilihan yang menarik bagi pengguna yang mempertimbangkan pemakaian jangka panjang. Harganya berada di kisaran Rp2 jutaan.
5. Logitech G Pro X Superlight 2
Pilihan terakhir adalah Logitech G Pro X Superlight 2. Berbeda dari beberapa produk sebelumnya, mouse ini lebih menonjolkan kombinasi performa, reliabilitas, ekosistem software, serta daya tahan baterai.
Bobotnya berada di angka sekitar 60 gram dengan bentuk simetris yang dirancang agar dapat digunakan oleh berbagai bentuk dan ukuran tangan. Di dalamnya terdapat sensor HERO 2 dengan resolusi hingga 44.000 DPI, tracking speed lebih dari 500 IPS, serta akselerasi lebih dari 40G.
Logitech juga menggunakan LIGHTFORCE Hybrid Switch yang menggabungkan karakteristik switch optik dan mekanis. Teknologi tersebut dirancang untuk menghasilkan klik yang responsif sekaligus memiliki daya tahan tinggi.
Untuk konektivitas, teknologi LIGHTSPEED Wireless mendukung report rate hingga 8.000Hz melalui pembaruan pada Logitech G HUB. Mouse ini juga menggunakan kaki PTFE untuk menghasilkan pergerakan yang lebih mulus serta sudah menyediakan port USB Type-C.
Salah satu keunggulan terbesarnya berada pada daya tahan baterai. Logitech mengklaim G Pro X Superlight 2 mampu digunakan hingga 95 jam dalam sekali pengisian daya. Dengan berbagai keunggulan tersebut, mouse ini dibanderol sekitar Rp2,5 jutaan.
Kelima mouse tersebut menawarkan keunggulan yang berbeda. ATK Blazing Sky X1 Ultimate dan Fantech Helios II Pro S V3 menarik untuk pengguna yang mencari mouse ringan dengan harga sekitar Rp1 jutaan. Scyrox V8 lebih menonjolkan bobot ekstrem ringan, sedangkan Lamzu Maya X menawarkan pengalaman premium dalam bodi 47 gram.
Sementara itu, Logitech G Pro X Superlight 2 bisa menjadi pilihan bagi gamer yang lebih mengutamakan reliabilitas, daya tahan baterai, dan dukungan ekosistem software.
Baca Juga
-
GPU dan Motherboard AMD Bakal Naik Harga, Apakah Ryzen Ikut Terdampak?
-
6 HP Samsung Terbaik 2026! Mulai dari Kelas Flagship Hingga Entry-level
-
5 Sepatu Lari Lokal yang Cocok untuk Maraton, Ada di Bawah Rp1 Juta
-
Tak Perlu Mesin POS Mahal, 5 Tablet LTE Ini Cocok untuk Kasir Cafe dan UMKM
-
iPhone Duo Akhirnya Rilis, Apple Siap Tantang Samsung di HP Foldable
Artikel Terkait
Lifestyle
-
GPU dan Motherboard AMD Bakal Naik Harga, Apakah Ryzen Ikut Terdampak?
-
Gak Bikin Iritasi! 5 Invisible Acne Patch yang Aman untuk Kulit Sensitif
-
Bye Warna Kalem! Tren Cewek Buah Bikin Tampilan jadi Lebih Segar
-
4 Calming Sunscreen Korea Lawan Kemerahan dan Dehidrasi pada Kulit Sensitif
-
Mitos Photographic Memory ala Sherlock: Menguji Klaim Brain Hacks
Terkini
-
Drakor What a Boss Wants Tayang November, Ini Daftar Pemain Utamanya!
-
Kim Ji-Yeong, Lahir Tahun 1982: Potret Sunyi Perempuan dalam Belenggu Patriarki
-
Franchise Sgt. Frog Rilis Anime TV Baru Oktober 2026, Hadirkan Seiyu Baru
-
Review Call My Agent! The Movie: Nostalgia Satir Industri Perfilman Prancis
-
Petualangan Ajaib Bersama Gurita dalam The Octopus Karya Guojing