Hayuning Ratri Hapsari | Fairus Farizki
Tangkapan layar sesi foto bersama secara virtual dalam gelaran Yoursay Writing Class bertajuk “Find Your Story, Write Your Content”, Sabtu (19/9/2026). Pelatihan daring ini menghadirkan penulis novel fiksi sekaligus kreator konten kebaya, Ayu Rianna, sebagai narasumber. (Foto: Tim Yoursay.id)
Fairus Farizki

Penulis novel fiksi sekaligus konten kreator, Ayu Rianna, membagikan pengalaman mengolah keresahan menjadi karya dalam Yoursay Writing Class bertema “Find Your Story, Write Your Content” pada Sabtu (19/9/2026).

Kegiatan yang diselenggarakan Yoursay.id tersebut berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting pada pukul 10.30–12.00 WIB. Sesi dipandu oleh Fairus Farizki, jurnalis Yoursay sebagai moderator.

“Selama sesi berlangsung, kita akan mendengarkan pemaparan materi kepenulisan dan pembuatan konten dari Mbak Ayu,” ujar Fairus saat membuka kegiatan. Acara kemudian dilanjutkan dengan mini writing challenge dan sesi tanya jawab bersama peserta.

Ayu hadir dengan pengalaman lebih dari satu dekade sebagai penulis fiksi. Sejumlah karyanya mencakup Daisy, Teater Boneka, Definite Love, dan Kota-Kota Kita. Ia juga mengembangkan aktivitas sebagai konten kreator yang membahas wacana kebaya dan gaya hidup.

Dalam pemaparannya, Ayu menjelaskan bahwa pengalaman panjang menulis fiksi membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan pribadi dan proses kreatifnya. Ia mengaku perlu menjaga jarak agar cerita yang dibuat tidak sekadar menjadi pengulangan pengalaman hidupnya sendiri.

“Identitasku bermula dari seorang penulis fiksi. Menulis fiksi selama belasan tahun telah mendarah daging dan membentuk cara berpikirku,” ujar Ayu saat memperkenalkan diri dalam acara Yoursay Writing Class pada Sabtu (19/9/2026).

“Salah satu hal terpenting yang aku pelajari dari menulis fiksi adalah melatih diri untuk tidak oversharing. Aku selalu berusaha menjaga agar kepribadian atau kehidupan pribadiku tidak ‘bocor’ ke dalam cerita fiksi,” lanjutnya.

Ayu kemudian menceritakan perubahan pendekatan dalam menulis sejak 2023–2024. Ia mulai menjadikan pertanyaan, keresahan, dan emosi dari diri sendiri maupun lingkungan sekitar sebagai bahan awal untuk mengembangkan cerita.

“Tokohnya tetap karakter fiktif berwarga negara Indonesia dengan masalah yang dekat, tetapi karakter tersebut bukan mewakili diriku yang sekadar diganti nama,” jelas Ayu.

Salah satu contoh yang ia berikan adalah gagasan tentang seorang penari yang dipaksa berhenti menari akibat suatu peristiwa hingga kehilangan identitasnya. Ide tersebut berangkat dari kecemasan Ayu mengenai masa depan karier penulis di tengah kenaikan harga kertas dan buku.

“Aku tidak menulis cerita tentang penulis yang putus asa. Keresahan tersebut diterjemahkan menjadi kisah seorang penari yang dipaksa berhenti menari akibat suatu peristiwa dan kehilangan identitasnya,” ungkap Ayu.

Menurutnya, pertanyaan yang mendasari cerita tersebut berkaitan dengan pengalaman kehilangan sesuatu yang paling dicintai. “Bagaimana jika seseorang dipaksa meninggalkan hal yang paling dicintainya?” ujar Ayu saat menjelaskan inti gagasan tersebut.

Ayu juga membandingkan dinamika penulisan fiksi dengan pembuatan konten digital. Dalam fiksi, penulis menciptakan dan menjaga jarak melalui imajinasi, karakter, serta dunia cerita. Pembuatan konten justru menuntut kreator untuk mendekatkan jarak dengan audiens melalui pengalaman dan pemikiran personal.

“Dalam membuat konten, kita harus memulai dari pemikiran yang jujur. Namun, sebelum memutuskan untuk menjadikan suatu topik sebagai fondasi branding, tanyakan pada diri sendiri: ‘Sanggupkah aku membicarakan topik ini berulang kali?’” tuturnya.

Ayu mengingatkan peserta agar tidak menjadikan kejujuran sebagai alasan untuk membagikan seluruh kehidupan pribadi. Kreator perlu memilah informasi yang layak dikonsumsi publik dan hal-hal yang sebaiknya tetap menjadi ranah personal.

“Penting untuk diingat bahwa kejujuran tidak sama dengan oversharing. Sebagai netizen dan kreator yang bertanggung jawab, kita wajib memilah informasi mana yang layak dibagikan ke publik dan mana yang harus disimpan sebagai ranah pribadi,” tegas Ayu.

Ia juga menekankan prinsip responsible storytelling. Keresahan personal dapat menjadi pintu masuk sebuah konten, tetapi data yang disampaikan tetap harus melalui proses pemeriksaan.

“Sekalipun konten berangkat dari keresahan pribadi, kita bertanggung jawab atas validitas data yang dibagikan. Jangan terburu-buru upload hanya demi mengejar viralitas,” jelasnya.

Untuk membantu peserta menemukan ide, Ayu memperkenalkan empat tahapan, yaitu observasi, refleksi, koneksi, dan eksekusi. Peserta diminta memperhatikan hal-hal kecil di sekitar, memahami alasan sesuatu menarik perhatian, menghubungkannya dengan pengalaman pribadi, lalu menuliskannya secara jelas.

Materi dilanjutkan dengan mini writing challenge selama tiga hingga lima menit. Peserta diminta memilih persoalan yang mengganggu pikiran mereka sepanjang minggu, merumuskan sudut pandang, serta membuat satu kalimat pembuka atau hook.

Sesi tanya jawab membahas writer’s block, penyusunan judul, pembuatan blurb, hingga teknik memilih materi liputan seminar. Ayu juga mengingatkan bahwa proses belajar menulis memerlukan praktik yang berulang.

“Menulis adalah sebuah keterampilan otot yang harus terus dilatih secara konsisten. Tingkatkan kemampuan melalui membaca, menulis ulang, mengobservasi, dan menyunting karya sendiri,” ujarnya.

Dalam pernyataan penutup, Ayu mengajak peserta mengurangi ketakutan yang sering menghambat proses berkarya. Mengikuti kelas kepenulisan, menurutnya, perlu disertai keberanian untuk mengeksekusi tulisan.

“Kendala utama penulis pemula adalah terlalu banyak ketakutan, terlalu banyak merenung, atau sering mengikuti kelas kepenulisan setiap minggu tetapi tidak pernah mengeksekusi tulisannya,” kata Ayu.

Ia menutup sesi dengan pesan kepada para peserta. “Mulai saja ditulis, selesaikan project-mu, dan terus berlatih,” pungkasnya.