Tidak hanya body shaming, ada juga istilah book shaming yang sering kita temui. Seperti body shaming yang mengolok-olok bentuk tubuh, istilah book shaming sering digunakan untuk merujuk pada tindakan mengolok-olok atau meremehkan suatu jenis atau judul buku tertentu.
Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa sebab, tergantung siap pelakunya. Ada yang melakukannya karena tidak suka terhadap genre buku tertentu, tidak suka penulisnya, sudah membaca namun tidak puas dengan isi bukunya, dan lain sebagainya. Hal ini kerap dilakukan orang-orang untuk menunjukkan betapa jeleknya sebuah buku.
Tindakan seperti ini tentu kurang bijak serta merugikan beberapa pihak, mulai dari penulis, penerbit, hingga penjual buku tersebut. Tindakan ini juga bisa membuat dakit hati orang yang membaca dan menyukai buku tersebut. Berikut lima contoh tindakan book shaming yang sering dilakukan.
1. Merasa Bacaannya Paling Bagus
Tindakan book shaming biasanya diawali dari anggapan bahwa buku bacaannya paling bagus dibanding yang lainnya. Dengan begitu, dia akan menganggap bahwa buku lain kurang bagus dan pantas untuk dihina-hina.
Orang-orang seperti ini sering membanggakan buku yang sudah dibacanya sambil merendahkan buku yang lain. Biasanya karena menganggap bukunya lebih berbobot.
2. Merendahkan Genre Tertentu
Tindakan book shaming yang juga sering terjadi adalah merendahkan genre tertentu karena merasa genre kesukaannya jauh lebih baik. Tindakan seperti ini sering terjadi pada orang-orang yang suka membaca buku non-fiksi seperti buku filsafat, keilmuan, dan lain-lain yang meremehkan bacaan fiksi seperti novel dan kumpulan cerpen.
3. Merendahkan Penulis Tertentu
Selain genre tertentu, banyak orang yang juga suka merendahkan penulis tertentu. Hal ini biasanya terjadi pada penulis yang memiliki stigma tertentu. Misalnya bahasanya yang alay, pendapat yang berbeda, dan lain sebagainya. Padahal, setiap penulis umumnya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
4. Meremehkan Bacaan Orang Lain
Karena merasa bacaannya paling bagus, maka oang akan meremehkan bacaan orang lain. Orang-orang seperti ini akan menganggap bacaan orang lain tidak penting, kekanak-kanakan, dan lain sebagainya. Padahal, selera tiap orang berbeda-beda, termasuk dalam memilih buku bacaan.
5. Tidak Mau Menerima Pendapat dari Suatu Buku
Sudah menjadi kebiasaan umum kalau buku menjadi sumber diskusi. Biasanya pendapat atau kutipan yang tertulis dalam buku menjadi landasan untuk berargumen. Namun seringkali ada orang yang tidak mau menerima argumen yang berasal dari buku tertentu. Padahal jika ingin menolak argumen, bisa dengan argumen lainnya.
Demikian 5 contoh tindakan book shaming yang sering terjadi. Pernah menemukannya? Jadi korban atau pelaku?
Baca Juga
-
Merenungkan Makna Hidup Melalui Novel Khutbah di Atas Bukit
-
Viral Isi Minyakita Hanya 750 ML, Bagaimana Hukumnya dalam Islam?
-
Mobil Terendam Banjir? Cegah Kerusakan dengan 5 Tips ini
-
Bapak Presiden, Buzzer adalah Musuh Besar Pendidikan Kita
-
Juara eAsian Cup, Berikut ini Profil 3 Pemain Timnas eFootball Indonesia
Artikel Terkait
Lifestyle
-
Bikin Plump dan Glowing! 4 Jelly Pad untuk Lengkapi Skincare Routine
-
iQOO 16 Hadir dengan Tenaga Buas, Tiga Kamera 50 MP dan Pengisian Daya 100W
-
Bye Skin Barrier Rewel! 4 Hydrating Toner Tanpa Pewangi Buat Kulit Sensitif
-
OPPO F35 Pro 5G Resmi Meluncur, Baterai 8.000 mAh dan Kamera Selfie 50 MP Jadi Andalan
-
Padukan Gaya Klasik dan Modern, Intip 4 OOTD Sophisticated ala Kim You Jung
Terkini
-
Review Film Siti Si Vampir: Satir Kelas Sosial yang Kurang Menggigit?
-
Trauma Nyata Perempuan Korban Perang Dunia I dalam Buku Testament of Youth
-
Dari Cegil hingga Rizz: Fenomena Algoritma Medsos Mengubah Gaya Bahasa Gen Z
-
Review Film Wonderland: Dunia Kecil untuk Mereka yang Belum Rela Kehilangan
-
The One About Matthew Perry: Menguak Sisi Lain Bintang Friends Lawan Kecanduan