Hayuning Ratri Hapsari | Rizky Melinda Sari
Ilustrasi herbal (Pixabay/Leon_Ting)
Rizky Melinda Sari

Tren atau gaya hidup back to nature belakangan ini banyak mendapat perhatian oleh khalayak ramai. Termasuk dalam hal obat-obatan, banyak yang mulai menyadari bahwa produk yang berasal dari bahan alam juga tidak kalah dengan produk sintetis atau buatan.

Salah satu hasil olahan dari bahan alam yang terkenal dari zaman dulu hingga sekarang adalah jamu. Jamu sendiri merupakan campuran beberapa bahan alam dengan khasiat tertentu, biasanya diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi.

Ada banyak jenis jamu yang bisa kita jumpai di seluruh Nusantara dengan berbagai keunikan dan ciri khas masing-masing. Namun, tahukah kamu bagaimana proses sebenarnya, sehingga bahan alam seperti tumbuhan tertentu bisa diolah menjadi produk seperti jamu? 

Jamu sendiri berasal dari pengolahan simplisia. Simplisia berasal dari kata simple atau simplex yang artinya sederhana. Isitilah ini digunakan untuk merujuk pada bahan baku obat yang berasal dari bahan alam dan bentuknya masih asli tanpa mengalami perubahan apa pun.

Kamu penasaran dengan bagaimana tahapan dan prosesnya? Berdasarkan sumber dari Jurnal Kajian Veteriner yang ditulis oleh S. T. Dangur, N. H. G. Kallau, dan D. A. Wuri pada tahun 2020, berikut ini adalah beberapa tahapan dalam pengolahan simplisia.

1. Pengumpulan bahan baku simplisia

Tahapan pertama dari pengolahan simplisia adalah pengumpulan bahan baku. Biasanya, bahan baku ini dikumpulkan dari satu tempat atau satu tanaman yang sama.

Misalnya, kita ingin membuat simplisia daun singkong, maka kita harus mengusahakan untuk mengambil daun singkong dari satu pohon yang sama atau minimal berada di tempat tumbuh yang sama.

2. Sortasi basah

Tahapan yang kedua adalah sortasi basah. Tahapan ini bertujuan untuk memisahkan simplisia dari bahan pengotor yang mungkin terikut saat kita mengumpulkan bahan baku. Kita juga bisa menyingkirkan bagian tanaman yang tidak diperlukan agar tidak mengganggu proses selanjutnya.

3. Pencucian dengan air yang mengalir

Tahapan ketiga adalah pencucian dengan air yang mengalir. Tahapan ini bertujuan untuk membersihkan bahan baku yang sudah kita kumpulkan agar bebas dari zat pengotor atau zat yang tidak diinginkan. Proses ini juga dilakukan untuk memastikan bahan baku tidak tercemar.

4. Perajangan

Perajangan berasal dari kata 'rajang' yang berarti 'iris'. Tahapan ini dilakukan dengan cara memotong bahan baku sesuai dengan jenisnya untuk memudahkan proses pengeringan nantinya. Sebelum dirajang, biasanya tanaman akan dijemur terlebih dahulu selama kurang lebih satu hari.

5. Pengeringan 

Tahapan selanjutnya setelah perajangan adalah pengeringan. Proses ini bisa dilakukan dengan sinar matahari maupun menggunakan alat pengering seperti oven. Alat yang digunakan akan disesuaikan dengan bagian tanaman yang kita gunakan sebagai bahan baku. 

6. Sortasi kering

Jika sebelumnya kita sudah melakukan sortasi basah ketika bahan baku baru dipetik, maka kita juga perlu melakukan sortasi kering. Hal ini bertujuan untuk memisahkan bahan baku dari zat pengotor yang mungkin muncul saat proses pengeringan.

7. Penyimpanan dan pengepakan

Tahapan terakhir dari pembuatan simplisia adalah penyimpanan dan pengepakan. Tujuan tahapan ini adalah untuk menjaga dan melindungi kondisi simplisia agar tidak mudah rusak dan terkontaminasi. Bahan baku yang telah menjadi simplisia di simpan di tempat yang sejuk, kering, tidak lembap, serta terlindung dari cahaya matahari.

Itulah tujuh tahapan atau proses yang terdapat pada pengolahan simplisia. Nantinya, simplisia akan digunakan dan diproses lebih lanjut sesuai kebutuhan, salah satunya diolah menjadi jamu.