Candra Kartiko | šŸ€e. kusuma. nšŸ€
ilustrasi main media sosial (unsplash.com/Austin Distel)
šŸ€e. kusuma. nšŸ€

Media sosial sudah menjadi bagian dari kemajuan teknologi dan perkembangan zaman yang seolah wajib diikuti. Bahkan orang akan dianggap ketinggalan zaman jika tidak bisa mengikuti tren di media sosial. Tidak heran jika hampir semua orang memiliki akun media sosial, entah demi menjalin pertemanan atau cara menjaga komunikasi dengan banyak orang.

Walhasil, cukup banyak orang yang justru jadi sulit lepas dari media sosial. Namun, ada juga orang yang memilih menjauh dari 'budaya' bermedia sosial demi menghindari kecanduan dengan berbagai alasan.

BACA JUGA: 4 Alasan Urgensial Anak Muda Harus Melek Digital, Generasi Sekarang Wajib Bisa Jadi Solusi

Mulai dari menjaga privasi sampai kesehatan mental, berikut empat alasan utama seseorang tidak mau kecanduan media sosial. Kamu seperti itu juga?

1. Tidak ingin privasinya jadi konsumsi orang

Privasi seolah menjadi sesuatu yang mahal di media sosial. Pasalnya, semua yang dibagikan di media sosial akan menjadi jejak digital yang mudah diakses siapa pun. Kemudahan ini dianggap sebagai jalan masuk untuk berbagi kehidupan.

Semua unggahan jadi hak milik publik yang bisa dibagikan ke pihak lain tanpa izin. Bahkan pemilik asli tidak akan bisa mengendalikan penyebaran informasi tersebut. Jika sudah begini, privasi seolah hilang dan orang merasa lebih baik berhenti main media sosial demi mengurangi potensi pelanggaran privasi semacam itu. 

2. Menjaga reputasi diri

Media sosial terkadang bukan hanya tempat berkomunikasi dan berbagi informasi semata. Tidak jarang informasi pribadi juga bisa digali dari akun media sosial. Hal ini cukup sering dimanfaatkan perusahaan untuk melihat personal branding seseorang.

BACA JUGA: 4 Dampak Buruk Jika Kamu Terlalu Kompetitif, Bisa Merusak Relasi!

Perilaku bermedia sosial jadi sumber informasi terkait konten negatif, seperti pornografi dan ujaran kebencian. Indikasi negatif semacam ini tentunya berisiko mempengaruhi citra diri dan reputasi di hadapan orang lain.

3. Membangun dan meningkatkan kepercayaan diri

Cukup banyak konten di media sosial yang menunjukkan kelebihan diri seolah sedang dalam ajang kompetisi. Orang kerap pamer banyak hal, entah itu harta, pasangan, atau prestasi. Meski niatnya ingin menginspirasi, tapi tidak semua orang ikut termotivasi.

Tidak jarang kebiasaan tersebut malah memicu rasa insecure dan menurunkan kepercayaan diri. Walhasil, orang lebih memilih menjauh dari media sosial agar rasa percaya dirinya tidak diserang hingga muncul rasa minder yang sulit teratasi.

4 Manfaat Berbelanja di Thrift Shop, Surganya Barang Bekas Berkualitas

4. Menjaga kesehatan mental

Bukan hanya menyerang rasa percaya diri, terkadang rutinitas bermedia sosial juga mampu merusak mental seseorang. Orang-orang dengan mudah melontarkan komentar negatif dan ujaran kebencian yang berpotensi menimbulkan rasa cemas berlebihan, stres, hingga depresi.

Adab menjaga perasaan dari tulisan yang diunggah seolah mulai menghilang. Kalau tidak kuat mental, memaksakan diri bermain media sosial hanya akan menjadi racun bagi diri sendiri. Kestabilan mental seolah jadi taruhan saat psikologis seseorang terus diserang.

Bermain media sosial atau membatasi hingga menghindar, semua kembali pada pilihan masing-masing. Apa pun alasannya, tetap prioritaskan aspek manfaat yang didapat lebih banyak mengarah pada hal positif atau negatif.

Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS