Sekar Anindyah Lamase | e. kusuma .n
Ilustrasi perempuan merasa dihakimi (Pexels/Rizky Motion)
e. kusuma .n

Saya sering mendengar kalimat ini: “Perempuan sekarang harus mandiri.” Terdengar seperti dukungan, bahkan dorongan untuk berkembang. Akan tetapi, semakin menjalani hidup sebagai perempuan di era sekarang, saya mulai melihat sisi lain dari kalimat itu.

Mandiri menjadi keharusan, tapi ternyata apa pun pilihan yang diambil selalu ada ruang untuk dihakimi. Dan itu melelahkan. Seolah dukungan dan dorongan untuk menjadi independen woman hanya basa-basi emansipasi.

Mandiri Secara Finansial: Dibilang Terlalu Ambisius

Saat saya fokus bekerja, mengejar karier, dan berusaha mandiri secara finansial, respons yang saya terima tidak selalu positif. Ada yang bilang saya hebat, tapi tidak sedikit juga yang berkomentar sumbang.

“Jangan terlalu sibuk kerja, nanti lupa kodrat,” atau “Perempuan itu jangan terlalu ambisius” sering terdengar dan terkesan membatasi ruang aktualisasi. Katanya disuruh mandiri, tapi mengapa saat benar-benar dijalani, justru dipertanyakan?

Seolah-olah ada batas tak terlihat tentang seberapa jauh perempuan boleh melangkah. Perempuan didorong agar maju sekaligus diberi “garis finish” berbeda dari laki-laki, dan seolah tidak boleh melebihinya.

Di sisi lain, saya juga melihat perempuan yang memilih fokus pada keluarga sering kali mendapatkan penilaian yang berbeda. Dibilang kurang berkembang, kurang memaksimalkan potensi, atau terlalu “bergantung”.

Padahal, memilih peran domestik juga bukan keputusan yang mudah. Ada pertimbangan, ada pengorbanan, dan ada nilai yang tidak selalu terlihat. Lagi-lagi, apa pun pilihannya, selalu ada yang salah di mata orang lain.

Ada ekspektasi yang menurut saya cukup membingungkan: perempuan harus mandiri, tapi tidak boleh terlihat terlalu kuat. Harus bisa mengurus diri sendiri, tapi tetap lembut. Harus bisa berdiri sendiri, tapi tidak boleh terlihat “tidak butuh siapa-siapa”.

Saya sering merasa seperti berjalan di garis tipis. Terlalu ini salah, terlalu itu juga salah. Dan jujur, menjaga keseimbangan itu tidak selalu mudah. Bukan karena tidak bisa, tapi karena standar sosial serba membatasi.

Yang membuat semua ini lebih kompleks adalah tekanan yang sering datang dari berbagai arah. Dari lingkungan sekitar, media sosial, bahkan dari sesama perempuan. Standar yang berbeda-beda ini membuat saya kadang merasa lelah untuk terus menyesuaikan diri.

Seolah-olah selalu ada ekspektasi yang harus dipenuhi, tanpa pernah benar-benar jelas apa yang sebenarnya diinginkan. Dan pada akhirnya saya sadar kalau memang tidak ada cara untuk menyenangkan semua orang.

Di tengah kontradiksi ini, saya mulai mencoba menarik diri dari standar luar. Saya mulai bertanya: mandiri versi saya itu seperti apa? Apakah itu tentang finansial, keputusan hidup, atau keberanian untuk memilih jalan sendiri?

Jawabannya bisa berbeda untuk setiap orang, dan itu tidak masalah. Saya mulai belajar bahwa mandiri bukan tentang memenuhi ekspektasi orang lain, tapi tentang punya kendali atas hidup sendiri.

Salah satu hal yang paling sulit adalah belajar tidak terlalu terpengaruh oleh penilaian orang lain. Saya sadar tidak bisa mengontrol apa yang orang lain pikirkan atau katakan. Jadi, saya memilih mana yang perlu saya dengar dan mana yang bisa saya lepaskan.

Tidak semua opini harus jadi beban. Tidak semua kritik harus diterima sebagai kebenaran. Dan itu memberi saya ruang untuk bernapas lebih lega.

Sekarang, saya tidak lagi terlalu sibuk membuktikan bahwa saya “mandiri” sesuai standar orang lain. Saya hanya ingin menjalani hidup dengan cara yang paling jujur untuk diri saya sendiri.

Tidak masalah jika saya tetap dihakimi. Mungkin akan selalu ada komentar, saran, atau ekspektasi yang tidak bisa saya penuhi. Tapi saya mulai menerima kalau itu bagian dari perjalanan.

Karena pada akhirnya, menjadi perempuan bukan tentang memenuhi semua standar yang ada—tapi tentang berani menentukan arah, meski tidak semua orang akan setuju.