Kamu sering merasa kudet sama bahasa gaul? Tenang, itu hal yang wajar banget. Di era media sosial, sebuah slang bisa lahir, viral, dipakai ramai-ramai, lalu dianggap basi hanya dalam hitungan minggu.
Prosesnya cepat banget, sampai kadang kita bingung mengikutinya dan merasa tidak update sama tren terbaru. Kenapa bisa begitu, ya? Yuk, kita simak bareng!
TikTok dan Kawan-kawan: Mesin Percepatan Bahasa
Dulu, bahasa gaul menyebarnya pelan-pelan, lewat obrolan di sekolah, tongkrongan, atau TV. Sekarang? Cukup satu video TikTok atau meme viral, kata baru seperti "cegil", "YTTA", atau "TBL" langsung ramai dipakai semua orang dalam semalam.
Language Magazine bilang, media sosial membuat evolusi bahasa jadi makin ngebut: cepat naik, cepat juga ditinggalkan pas orang sudah bosan.
Gak Cuma Punya 'Anak Jaksel' Lagi
Jika dulunya bahasa gaul menjadi tanda identitas suatu kelompok tertentu. Misalnya, komunitas musik yang punya bahasanya sendiri atau komunitas K-Pop yang menggunakan istilah tertentu, sekarang sudah beda.
Semua orang punya akses ke kosakata yang sama melalui media sosial. Istilah-istilah seperti “yapping”, “GOAT”, atau “sigma” yang awalnya populer di kalangan Gen Z di luar negeri, kini dengan cepat menjadi bagian dari percakapan sehari-hari di sini.
Ketika Algoritma Jadi 'Kamus Berjalan'
Uniknya, penggunaan istilah-istilah baru sering kali muncul karena "perlawanan" terhadap algoritma. Banyak kreator yang sengaja membuat variasi kata untuk menghindari shadowban atau sensor dari platform.
Scientific American menjelaskan bahwa slang hadir sebagai bahasa baru demi melawan aturan algoritma. Misalnya, kata "bunuh diri" diubah menjadi "bundir" atau "unalive". Awalnya, ini hanyalah trik kecil dari para kreator, tapi lama-kelamaan berubah menjadi kosakata populer.
Siklus Hidup-Mati yang Super Singkat
Beda generasi, beda juga penggunaan istilahnya. Slang yang awalnya masih terdengar fresh dan viral dipakai di mana-mana, akhirnya dengan cepat bergeser dan digantikan oleh kosakata yang baru.
Menurut Upworthy, siklus penggunaan istilah jadi semakin singkat karena kecepatan penyebarannya di media sosial. Ketika sebuah kata menjadi mainstream dan mulai dipakai oleh "om dan tante", tidak lama kemudian akan muncul istilah baru yang lebih eksklusif.
Makin 'Gado-gado' dengan Bahasa Asing
Berkat media sosial, bahasa saat ini juga semakin campur aduk. Dalam percakapan sehari-hari, bahasa asing jadi sangat mudah masuk. Istilah seperti “healing”, “flexing”, “spill the tea”, atau “it’s giving” kini sudah menjadi bahasa sehari-hari Gen Z, bahkan seringkali dicampur dengan bahasa Indonesia.
Bahasa gaul di era digital ini memang seperti tren fashion: cepat banget berubah. Jadi, tidak heran kalau kamu merasa pusing mengikutinya. Yang penting, kamu tetap bisa nyambung, kan?
Penulis: Flovian Aiko
Baca Juga
-
Jelang Comeback Maret, NouerA Gandeng Lay EXO sebagai Produser Utama
-
Mahasiswa KKN UIN Walisongo Tebarkan 450 Bibit Tumbuhan
-
Hidangan Imlek, Pahami Perbedaan Kue Keranjang dan Kue Bulan
-
Bukan Asal Bikin Prompt: Cara Menghasilkan Tulisan AI yang Berjiwa dan Berkualitas
-
Menggugat Eksploitasi Alam di Novel Jejak Balak Karya Ayu Welirang
Artikel Terkait
-
Olahraga Baru Anti Mainstream Warga Jaksel: Fitness Sambil Main Padel!
-
Viral Olahraga Kombinasi Pilates dan Padel ala Warga Jaksel, Tuai Pro Kontra
-
Dari Gamifikasi Hingga Live Streaming: Intip Tren Filantropi Digital yang Digandrungi Gen Z
-
Futsal dan Leadership Skills Gen Z
-
Menkeu Purbaya Bikin Gempar Muncul di TikTok: Kita Akan Kaya Bersama
Lifestyle
-
Hidangan Imlek, Pahami Perbedaan Kue Keranjang dan Kue Bulan
-
4 Mix & Match Outfit Boyish ala Zee Asadel, Keren Maksimal Tanpa Ribet!
-
7 Cleansing Balm Korea Terbaik 2026 untuk Semua Jenis Kulit
-
5 Rahasia Pola Asuh Gen Alpha: Mulai dari Kebiasaan Pagi
-
Review Acer Nitro V 16S AI: Laptop Gaming yang Juga Jago Buat Kerja
Terkini
-
Jelang Comeback Maret, NouerA Gandeng Lay EXO sebagai Produser Utama
-
Mahasiswa KKN UIN Walisongo Tebarkan 450 Bibit Tumbuhan
-
Bukan Asal Bikin Prompt: Cara Menghasilkan Tulisan AI yang Berjiwa dan Berkualitas
-
Menggugat Eksploitasi Alam di Novel Jejak Balak Karya Ayu Welirang
-
Sisi Gelap Edo Tensei, Senjata Psikologis di Perang Dunia Ninja Anime Naruto