Menjadi orang tua di era gempuran parenting content di TikTok itu berat. Namun, kunci membesarkan anak yang tidak mudah "kena mental" ternyata ada pada rutinitas pagi Anda. Yuk, intip lima kebiasaan sederhana tetapi berkelas ini:
1. Bangun 15 Menit Lebih Awal untuk Self-Check
Sebelum Anda mengurusi popok atau bekal, urus diri sendiri terlebih dahulu. Menurut Dr. Shefali Tsabary, pakar Conscious Parenting, orang tua harus hadir secara sadar (present). Jika Anda bangun dalam kondisi tergesa-gesa, anak akan menyerap energi stres tersebut. Di Indonesia dengan kemacetan yang sangat parah, memiliki waktu 15 menit untuk bernapas tenang atau sekadar scrolling sedikit (tanpa emosi) bisa membuat Anda lebih tenang menghadapi drama pagi.
2. Ritual Connection Before Correction
Kebanyakan dari kita membangunkan anak langsung dengan instruksi: "Mandi!", "Pakai baju!", "Cepat!". Jane Nelsen, pencetus Positive Discipline, mengatakan bahwa koneksi harus didahulukan sebelum koreksi. Luangkan dua menit untuk memeluk anak atau sekadar menanyakan mimpinya. Dalam budaya Indonesia yang kolektif, sentuhan fisik dan kehangatan pagi adalah "bahan bakar" bagi anak agar mereka merasa aman seharian di sekolah.
3. Libatkan Anak dalam Small Wins
Jangan menjadi pelayan bagi anak. Julie Lythcott-Haims, penulis How to Raise an Adult, berpendapat bahwa anak perlu diajarkan mandiri melalui tugas kecil, seperti membereskan tempat tidur. Hal ini membangun self-efficacy. Bagi keluarga muda di Indonesia yang mungkin tidak menggunakan asisten rumah tangga (ART), kebiasaan ini krusial agar anak tidak manja dan memiliki mental pejuang sejak dini.
4. Afirmasi Pagi yang Tidak Berlebihan (Cringe)
Anak butuh mendengar bahwa mereka berharga. Pakar psikologi perkembangan Dr. Becky Kennedy menekankan pentingnya memvalidasi identitas anak, bukan hanya prestasinya. Mengatakan, "I love being your mom/dad," itu lebih kuat daripada "Pintar ya kamu." Di tengah kompetisi media sosial yang sering memicu rasa rendah diri, afirmasi ini adalah tameng mental untuk anak-anak Gen Alpha kita.
5. Sarapan Tanpa Layar (No Gadget Policy)
Ini adalah tantangan terberat bagi Gen Z dan keluarga muda. Namun, menurut para ahli, makan bersama tanpa distraksi digital melatih regulasi emosi. Saat Anda mendengarkan ocehan anak tanpa mata tertuju pada ponsel, Anda sedang mengajarkan mereka bahwa mereka lebih penting daripada algoritma Instagram. Ini adalah cara paling ampuh untuk menjaga ikatan (bonding) di tengah dunia yang makin individualis.
Penutup
Menjadi orang tua tangguh bukan berarti tidak boleh lelah, melainkan tahu cara mengatur ulang energi setiap pagi. Anak yang bahagia tidak lahir dari orang tua yang sempurna, melainkan dari orang tua yang mau hadir seutuhnya meskipun mata masih mengantuk.
Bagaimana? Siap mengganti alarm besok pagi demi kesehatan mental keluarga?
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Mendidik Anak dengan Cinta yang Utuh di Buku The Happiest Kids in the World
-
Awali 2026, Lilla Perkuat Peran sebagai Trusted Mom's Companion
-
Bukan Cuma Mewah, Ini 7 Kunci Utama Rumah yang Ideal untuk Anak
-
Resmi Cerai Secara Verstek, Raisa dan Hamish Daud Sepakati Co-Parenting
-
Keterlibatan Ayah dalam Pola Asuh Anak Pengaruhi Nasib Negara, Seserius Itu?
Lifestyle
-
Review Acer Nitro V 16S AI: Laptop Gaming yang Juga Jago Buat Kerja
-
5 Promo Kuliner Valentine 2026 yang Bikin Makan Berdua Makin Hemat!
-
4 Toner Tranexamic Acid Atasi Kulit Kusam Auto Buat Wajah Cerah dan Lembap
-
Kado Valentine Anti Mainstream: 4 Hadiah Universal Biar Makin Berkesan
-
4 Rekomendasi Day Cream Vitamin C untuk Kulit Cerah Seharian, Bye Kusam!
Terkini
-
Nostalgia Moiland: Mengenang Era "Dufan Mini" di Mall of Indonesia
-
Membuka Sejarah Kelam Sekolah di Novel Efek Domino!
-
Alami Cedera Pergelangan Kaki, Dahyun Absen dari Tur Dunia TWICE di Amerika
-
Sinopsis Manager Kim, Drakor Aksi Trio Mantan Agen Elit yang Menegangkan
-
Sinopsis Phantom Lawyer, Drakor Terbaru Yoo Yeon Seok dan Esom