M. Reza Sulaiman | e. kusuma .n
ilustrasi pasangan (Pexels.com/Ba Tik)
e. kusuma .n

Cinta sering dianggap sebagai perasaan yang rumit, sulit dijelaskan, dan penuh kontradiksi. Namun, dalam ilmu psikologi, cinta dijelaskan dalam dinamika ilmiah melalui Triangular Theory of Love yang dikemukakan oleh Robert Sternberg.

Teori ini menjelaskan bahwa cinta ideal terbentuk dari tiga komponen utama, yaitu passion (gairah), intimacy (kedekatan), dan commitment (komitmen). Menariknya lagi, dari kombinasi ketiga komponen ini, terbentuk beberapa jenis hubungan yang sering kali tanpa sadar kita jalani.

Teori ini sangat relevan untuk memahami hubungan modern, termasuk pola cinta Gen Z yang sering berada di persimpangan antara emosi, logika, dan realitas. Berikut adalah komponen cinta ideal dalam Triangular Theory of Love.

1. Intimacy (Kedekatan)

Intimacy merupakan komponen emosional atau kehangatan dalam cinta berupa koneksi perasaan, keterhubungan, dan ikatan emosional yang dalam. Biasanya, komponen cinta ini akan menunjukkan rasa percaya, keterbukaan, hingga saling menghargai.

Di fase inilah dua orang bisa menjadi diri sendiri tanpa topeng. Banyak hubungan terasa nyaman karena kuat di aspek intimacy, meski tidak selalu penuh gairah.

2. Passion (Gairah)

Passion yang dikenal sebagai fase "api" dalam cinta berkaitan dengan ketertarikan fisik, dorongan emosional, dan hasrat romantis. Dalam fase ini muncul perasaan berdebar-debar, kangen yang kuat, dan keinginan untuk bersentuhan secara fisik.

Dalam hubungan anak muda, passion sering muncul paling awal, tetapi juga paling cepat berubah. Tidak heran kalau kemudian banyak yang mengalami sensasi cinta pada pandangan pertama dalam fase ini.

3. Commitment (Komitmen)

Komitmen biasanya berhubungan dengan komponen kognitif atau keputusan dalam cinta, entah itu keputusan sadar untuk bertahan, memilih, dan membangun masa depan bersama. Cirinya berupa konsistensi dalam tindakan, bukan sekadar janji manis.

Namun, di era relationship yang serba cepat seperti sekarang, komitmen sering menjadi komponen paling menantang. Dalam perjalanan hubungan, komitmen terbagi menjadi dua, yaitu komitmen jangka pendek yang berkaitan dengan keputusan mencintai dan komitmen jangka panjang soal keputusan bertahan.

Jenis Hubungan dalam Triangular Theory of Love

Dalam perkembangannya, komponen Triangular Theory of Love menjadi dasar jenis-jenis hubungan yang terbangun, baik yang disadari maupun tidak.

Non-Love (Bukan Cinta): Hubungan jenis ini tidak disertai komponen passion, intimacy, dan commitment. Biasanya terjadi pada interaksi biasa atau hubungan formal yang tidak menyentuh ikatan emosional mendalam.

Liking (Rasa Suka): Ditandai oleh intimacy, di mana hubungan ini sering terjadi pada persahabatan dekat. Ada rasa nyaman dan saling percaya, tetapi tidak ada dorongan romantis.

Infatuation (Cinta Gila): Hubungan yang hanya berisi passion atau gairah. Perasaan intens dan cepat jatuh cinta, tetapi minim kedekatan emosional dan komitmen. Banyak hubungan "cepat jadian, cepat bubar" lahir dari fase ini.

Empty Love (Cinta Kosong): Hanya mengandalkan commitment tanpa passion dan intimacy. Biasanya terjadi pada hubungan yang bertahan karena kewajiban, tekanan sosial, atau masa lalu, bukan lagi perasaan.

Romantic Love (Cinta Romantis): Gabungan passion dan intimacy tanpa commitment. Hubungan terasa hangat, penuh perhatian, dan romantis, tetapi belum tentu punya arah jangka panjang.

Companionate Love (Cinta Persahabatan): Terbentuk dari intimacy dan commitment tanpa passion yang kuat. Hubungan ini stabil, dewasa, dan sering ditemukan pada pasangan jangka panjang yang saling menghargai.

Fatuous Love (Cinta Buta): Kombinasi passion dan commitment tanpa intimacy. Hubungan ini terlihat serius dari luar, tetapi rapuh karena kurangnya kedekatan emosional dan sering dipicu oleh keputusan impulsif.

Consummate Love (Cinta Sempurna): Inilah bentuk cinta ideal menurut Sternberg karena memadukan passion, intimacy, dan commitment. Hubungan yang hangat, bergairah, aman, dan punya arah yang jelas, meski membutuhkan usaha dan kesadaran dari kedua belah pihak.

Relevansi Triangular Theory of Love di Zaman Sekarang

Banyak anak muda merasa bingung dengan hubungan yang dijalani: nyaman tetapi hambar, intens tetapi melelahkan, atau serius tetapi terasa kosong. Teori ini membantu kita memahami bahwa tidak semua hubungan memiliki komponen yang utuh.

Dari Triangular Theory of Love, kita jadi paham bahwa cinta bukan hanya soal menemukan orang yang tepat, tetapi membangun keseimbangan antara perasaan, kedekatan, dan komitmen. Ingat, hubungan bisa berubah bentuk seiring waktu dan itu normal selama disadari serta dikomunikasikan.