M. Reza Sulaiman | Yayang Nanda Budiman
Generasi muda alami climate anxiety (RoonzNL/Pixabay.com)
Yayang Nanda Budiman

Krisis iklim bukan lagi wacana abstrak yang hanya hidup dalam laporan ilmiah atau forum internasional. Bagi generasi muda, ancaman perubahan iklim hadir sebagai pengalaman sehari-hari: cuaca ekstrem, banjir yang berulang, gelombang panas, hingga ketidakpastian masa depan. Di tengah situasi ini, muncul fenomena yang semakin banyak dibicarakan, yakni kecemasan iklim atau climate anxiety.

Kecemasan iklim merujuk pada perasaan takut, cemas, bahkan putus asa yang muncul akibat kesadaran akan krisis lingkungan dan dampaknya bagi masa depan. Generasi muda, khususnya Gen Z dan milenial, menjadi kelompok yang paling rentan mengalami kondisi ini. Mereka tumbuh dengan informasi yang melimpah tentang perubahan iklim, tetapi juga dengan keterbatasan kuasa untuk menentukan arah kebijakan.

Berbeda dengan generasi sebelumnya, anak muda hari ini menyadari bahwa krisis iklim bukan sekadar masalah lingkungan, melainkan krisis multidimensi yang menyentuh ekonomi, kesehatan, pangan, dan keadilan sosial. Mereka melihat bagaimana bencana ekologis kerap berdampak lebih berat pada kelompok rentan, sementara kontribusi terbesar terhadap kerusakan lingkungan justru berasal dari pola produksi dan konsumsi yang tidak mereka kendalikan.

Kecemasan ini sering kali bersifat paradoksal. Di satu sisi, generasi muda didorong untuk optimistis, produktif, dan merancang masa depan. Di sisi lain, mereka dibayangi narasi tentang bumi yang kian rusak dan kemungkinan hidup yang semakin tidak layak. Tidak sedikit anak muda yang mempertanyakan makna perencanaan jangka panjang di tengah ancaman krisis iklim yang terus memburuk.

Sayangnya, climate anxiety kerap disalahpahami sebagai persoalan psikologis individual semata. Padahal, kecemasan ini berakar pada realitas struktural. Ketika kebijakan lingkungan berjalan lamban, komitmen iklim tidak konsisten, dan eksploitasi sumber daya terus dilegitimasi atas nama pertumbuhan ekonomi, rasa cemas menjadi respons yang rasional. Hal ini adalah ekspresi kegelisahan moral sekaligus politik.

Dalam konteks ini, generasi muda sering berada pada posisi serba salah. Mereka didorong untuk mengubah gaya hidup menjadi lebih ramah lingkungan, tetapi dihadapkan pada sistem yang tidak mendukung. Pilihan transportasi publik terbatas, energi bersih belum terjangkau, dan produk berkelanjutan sering kali lebih mahal. Beban tanggung jawab pun secara tidak adil dialihkan kepada individu, bukan pada pembenahan sistemik.

Namun, kecemasan iklim tidak selalu berujung pada kepasrahan. Bagi sebagian anak muda, kegelisahan justru menjadi sumber energi kolektif. Gerakan iklim yang dipelopori generasi muda, baik melalui advokasi kebijakan, aksi komunitas, maupun inovasi sosial, menunjukkan bahwa climate anxiety dapat bermetamorfosis menjadi kesadaran kritis dan tindakan nyata. Dari kampanye pengurangan sampah hingga gugatan iklim, suara anak muda kian terdengar di ruang publik.

Meski demikian, tidak semua kecemasan dapat disublimasikan menjadi aktivisme. Banyak generasi muda yang mengalami kelelahan emosional, merasa suaranya tidak didengar, dan akhirnya menarik diri. Di titik inilah negara dan masyarakat memiliki tanggung jawab untuk hadir. Kesehatan mental generasi muda tidak dapat dilepaskan dari kebijakan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Pemerintah perlu menyadari bahwa krisis iklim juga merupakan krisis kepercayaan antargenerasi. Ketika keputusan hari ini mengorbankan masa depan, generasi muda akan terus hidup dalam kecemasan. Pelibatan bermakna anak muda dalam perumusan kebijakan iklim, transparansi komitmen lingkungan, serta transisi energi yang adil bukan sekadar agenda teknokratis, melainkan kebutuhan psikososial.

Di sisi lain, ruang pendidikan dan media juga memegang peran penting. Literasi iklim perlu dibangun dengan pendekatan yang jujur, tetapi tidak apokaliptik. Harapan harus dirawat tanpa menutup mata terhadap kenyataan. Generasi muda membutuhkan narasi yang memberdayakan, bukan sekadar menakut-nakuti atau membebani rasa bersalah.

Pada akhirnya, climate anxiety adalah sinyal zaman. Hal ini menandakan bahwa generasi muda tidak apatis terhadap masa depan bumi. Tantangannya adalah memastikan bahwa kecemasan ini tidak berubah menjadi keputusasaan kolektif. Masa depan yang layak huni bukan hanya janji moral bagi generasi mendatang, melainkan tanggung jawab nyata bagi generasi yang hari ini memegang kendali.