Kita sering diajarkan cara menjaga hubungan dengan orang lain, mulai dari menjadi pasangan yang baik, teman yang suportif, atau anak yang berbakti. Namun, ada satu relasi penting yang justru paling sering diabaikan, yaitu hubungan dengan diri sendiri.
Ironisnya, banyak orang terlihat ramah, empatik, dan perhatian pada sekitar, tetapi diam-diam sangat keras pada dirinya sendiri. Standarnya tinggi, kritiknya kejam, dan jarang memberi ruang istirahat. Dari luar terlihat “kuat”, padahal di dalamnya lelah.
Kalau belakangan kamu sering merasa lelah secara mental tanpa alasan jelas, bisa jadi masalahnya bukan pekerjaan, bukan orang lain, melainkan cara kamu memperlakukan dirimu sendiri. Poor self-relationship ini bahkan bisa mengarah pada self-sabotage.
1. Self-talk lebih kejam daripada caramu memperlakukan orang lain
Coba perhatikan suara di kepalamu saat kamu melakukan kesalahan. Apakah muncul kalimat-kalimat seperti “Aku bodoh banget sih”, “Kenapa selalu gagal?”, atau bahkan “Memalukan banget” di kepalamu?
Sekarang bandingkan, apakah kamu akan mengatakan hal yang sama kepada sahabatmu? Kemungkinan besar tidak. Hal ini menjadi bukti kalau kamu punya self-talk yang kejam pada diri sendiri karena jauh lebih lembut pada orang lain, tetapi sangat brutal pada diri sendiri.
Kondisi ini mengarah pada negative self-talk. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini bisa menurunkan harga diri, meningkatkan kecemasan, bahkan memicu overthinking berlebihan.
Padahal, kesalahan adalah bagian alami untuk belajar dan berproses dalam hidup. Kalau saja kamu bisa memaafkan orang lain, lalu kenapa tidak memberi toleransi yang sama untuk diri sendiri?
2. Nilai diri bergantung pada validasi eksternal
Mood kamu naik turun tergantung berapa banyak like di media sosial, pujian dari atasan, atau pengakuan dari orang lain? Kalau iya, ini tanda bahwa self-worth kamu masih bersandar pada validasi eksternal.
Masalahnya, validasi dari luar itu tidak stabil. Hari ini dipuji, besok bisa dikritik. Kalau harga diri kamu bergantung pada itu, emosimu akan ikut jungkir balik. Hubungan yang sehat dengan diri sendiri berarti kamu tetap merasa berharga tanpa dipuji sebab tahu nilai dirimu bukan hanya dari pencapaian atau komentar orang.
3. Sulit beristirahat tanpa merasa bersalah
Sedang rebahan, tetapi malah sering kepikiran, “Aduh, harusnya produktif,” atau “Sepertinya aku malas banget deh.” Padahal, kamu hanya istirahat karena lelah dan butuh jeda sebentar.
Kalau situasi ini kamu rasakan, artinya kamu memandang diri sebagai “mesin”, bukan manusia. Seolah-olah nilai kamu hanya diukur dari seberapa sibuk dan produktif yang akhirnya mengarah pada toxic productivity.
Padahal, istirahat itu bukan kemewahan, melainkan kebutuhan biologis dan mental. Tanpa jeda, burnout hanya tinggal menunggu waktu. Beri juga waktu pada diri sendiri untuk bernapas tanpa harus ada rasa bersalah.
4. Peka pada emosi orang lain, tetapi menyangkal emosi sendiri
Kamu cepat sadar jika temanmu sedih dan selalu jago menenangkan orang lain. Namun, giliran ditanya, “Kamu sendiri bagaimana?” jawabannya selalu, “Tidak apa-apa kok,” bahkan saat jelas-jelas lelah.
Ini tanda self-neglect emosional. Kamu terlalu sibuk merawat perasaan orang lain sampai lupa mendengarkan dirimu sendiri. Emosi sendiri yang ditekan bukan hilang, melainkan hanya menumpuk.
Suatu hari tumpukan ini bisa meledak dalam bentuk stres, mudah marah, atau merasa hampa. Padahal, belajar mengenali dan menerima emosi sendiri sama pentingnya dengan berempati pada orang lain.
5. Terus mengulang pola hubungan yang menyakitkan
Pernah sadar kamu sering terjebak di tipe hubungan yang sama? Disakiti orang yang mirip atau diperlakukan tidak adil, tetapi tetap bertahan? Terkadang ini bukan soal “salah pilih orang”, melainkan standar diri yang terlalu rendah.
Kalau di dalam hati kamu merasa tidak cukup berharga, kamu cenderung menerima perlakuan buruk karena merasa “begini saja sudah bersyukur”. Kalau kamu tidak menghargai dirimu, orang lain pun belajar memperlakukanmu seadanya.
6. Sulit memaafkan diri atas kesalahan masa lalu
Kamu masih mengingat kesalahan bertahun-tahun lalu dan merasa malu setiap kali teringat juga menjadi tanda bahwa kamu punya hubungan buruk dengan diri sendiri. Padahal, orang lain mungkin saja sudah lupa dengan kesalahanmu.
Terlalu lama menyalahkan diri sendiri bisa membuat kamu terjebak di masa lalu. Fenomena ini disebut self-blame rumination, mengulang-ulang penyesalan tanpa solusi.
Belajar dari kesalahan itu penting. Hanya saja, menghukum diri tanpa henti bukanlah pertumbuhan, melainkan penyiksaan. Memaafkan diri bukan berarti membenarkan kesalahan. Itu berarti memberi diri kesempatan kedua untuk menjadi lebih baik.
Baca Juga
-
5 Zodiak yang Selalu Dahulukan Orang Lain, Terlalu Baik atau Kelewat Tulus?
-
Akhiri Puasa Gelar, Leo/Bagas Juara Thailand Masters 2026: Rasa Kebangkitan!
-
Adnan/Indah Juara Thailand Masters 2026: Keyakinan Jadi Kunci Kemenangan
-
6 Zodiak yang Punya Aura Mahal Alami: Tetap Berkelas Meski Tampil Sederhana!
-
Ubed Juara Thailand Masters 2026, Taklukkan Tuan Rumah Lewat Laga Dramatis
Artikel Terkait
-
Kesehatan Mental Generasi Muda: Antara Tantangan dan Layanan Pemerintah
-
7 Manfaat Menghirup Udara Pagi Hari untuk Kesehatan Tubuh dan Mental
-
Normal atau Tidak? Memahami Pergolakan Batin dan Lelah Mental di Usia 20-an
-
KUIS: Apakah Kamu Terjebak 'Mental Miskin'?
-
Healing ke Mana-mana, Pulang-pulang Tetap Ingin Resign
Lifestyle
-
Resep Roti Goreng Krispi di Luar Lembut di Dalam, Cocok Buat Teman Ngopi di Tanggal Tua
-
4 Peeling Serum Konsentrasi Rendah, Eksfoliasi Kulit Sensitif dan Pemula
-
4 Sheet Mask dengan Efek Poremizing Bikin Pori-Pori Kecil dan Kontrol Sebum
-
Youthful Vibes, 4 Ide OOTD Kekinian ala Kya KiiiKiii Wajib Kamu Sontek!
-
4 Rekomendasi HP Layar Lengkung Terbaik 2026, RAM Besar Harga Mulai Rp 2 Jutaan