Sekar Anindyah Lamase | Rie Kusuma
Ilustrasi Hujan Lebat (Pixabay)
Rie Kusuma

Tidak semua cinta bisa disentuh. Ada yang hanya bisa dipandangi dari kejauhan, sambil menahan gemuruh yang tak pernah benar-benar reda.

"Akui saja, Rain. Kau mencintai Earth, bukan?"

Sky menatapnya lama, seolah berharap kebohongan kecil saja akan cukup menyelamatkannya.

"Untuk apa kau tahu?" jawab Rain.

"Aku butuh jawaban, bukan pertanyaan."

Rain tersenyum pahit. "Lalu apa? Belum cukupkah luka yang kami tanamkan di hatimu?"

"Ah, kami!” Sky tertawa singkat. “Kau dan Earth. Itu sudah menjawab semuanya."

"Sudahlah, Sky. Aku muak. Kau hanya akan terus menyiksa dirimu sendiri di tempat ini.”

***

Mereka pernah hidup sebelum manusia diciptakan. Saat itu, dunia hanya mengenal Langit, Bumi, dan Hujan.

Dahulu Langit begitu dekat hingga awan-awan menggantung rendah di pucuk pepohonan. Mereka bercengkerama dalam bahasa puisi—bahasa purba yang terlalu pekat untuk ditanggung telinga manusia.

Di zaman yang lebih baru, mereka memanggil diri dengan cara berbeda. Sky adalah Langit. Rain adalah Hujan. Earth tetaplah Bumi—kekasih yang sama, dalam nama yang berubah.

Lalu bagaimana langit menjadi jauh, hujan begitu muram, dan bumi teramat diam? Mendekatlah. Simak ceritaku.

***

"Langit, himpunlah awan-awanmu lalu kejarlah aku ... tangkap aku!"

Bumi berlarian menerjang angin. Rambut ikal kecokelatannya bergoyang mengikuti setiap derap langkah kakinya.

"Jangan menyusahkanku, Mi! Bagaimana caraku untuk mengejar dan menangkap geriap tubuhmu, sedangkan kita tersekat jarak?"

"Aih, rupanya kabut telah bergelung di akar kepalaku sampai aku melupakan hal itu.” 

Bumi berhenti berlari, lalu merebahkan tubuh. Ia menatap Langit dengan mata bulat penuh penyesalan.

"Maafkan aku, Langit. Tubuhku terlampau sunyi bila hanya berdiam diri. Tebing mata ini ingin menjangkau tempat lain. Hutan yang menyemak di tangan dan kakiku kerap ingin bermain dengan kelangkang sungai dan danau."

Langit bergemuruh pelan. "Aku memahamimu, Mi. Tapi, hanya awan-awan di sekeliling tubuhku yang bisa mendekatimu. Sedangkan aku tak mampu beranjak meski hanya sejengkal udara. Mengapa kau terus-menerus lupa?”

"Aku bisa bermain bersamamu, Mi!"

Suara itu datang bersama hawa sejuk. Hujan hadir, menderas lembut. Bumi tertawa dan kembali berlari.

"Ayo, pacu langkahmu, Mi!"

Hujan berteriak penuh semangat. Bumi melonjak girang, lalu secepat kilat berlarian ke sana-sini. Tawa cerianya memenuhi udara, menghunjami hati Langit lebih dalam dengan cemburu yang semakin besar.

"Kau hampir tertangkap!” seru Hujan, lalu menguyupi Bumi dengan rinainya. Tubuh Bumi menggigil, tapi hatinya menghangat.

***

"Kau ingat, saat kau membunuhku, Sky?"

“Selalu,” jawab Sky. “Tak akan kulupa sorot mata penuh permohonan itu.”

“Itu bukan memohon. Itu bahagia,” kata Rain pelan, “aku mati untuk Earth.”

“Aku membencimu.”

“Dan aku memaafkanmu.”

***

"Ah, aku telah melukaimu. Aku membuat tubuhmu membiru karena tertikam dinginku."

Hujan lalu menggerimiskan tetesnya hingga tersisa rinai. Tangannya mengusap wajah Bumi yang basah.

"Aku baik-baik saja. Aku selalu gembira acapkali kau kuyupi hutan-hutan di tubuhku. Danau dan sungai-sungai kau penuhi. Gigir bukitku ditumbuhi tunas-tunas baru. Aku bahagia setiap kali kau datang."

Hujan mendekat. Rinainya mengecup bibir Bumi sesaat.

Langit mengaum. Kilat memecah udara. Api membakar hutan di lengan Bumi.

"Langit! Apa yang kau lakukan?!"

Hujan kembali menderaskan tubuhnya, mematikan api yang membakar hutan di lengan Bumi yang merintih kesakitan.

"Jangan bersalin rupa. Berpura-pura tak tahu apa-apa!” bentak Langit, “kau pikir bagaimana perasaanku melihat kalian berdekapan, sementara aku tak bisa menyentuhnya?”

"Kau cemburu?” Hujan tergeragap.

"Masih perlukah kujawab?!"

Langit meluapkan amarah. Wajahnya mengelam. Gemuruh meraung-raung. Seluruh tubuh Langit mengerjapkan kilat bertubi-tubi, membelit dan menghunjam Hujan.

"Langit, hentikaaann ...!" Bumi menjerit, tapi teriakannya tak diindahkan Langit yang telah dirasuki cemburu.

Derai melawan kilat. Dingin melawan api. Berdua mereka bertarung. Saling mendesak. Menghentak. Hujan mendorong Langit kuat-kuat, hingga tiba-tiba tubuh Langit menekan udara ke atas.

Langit terpental, tapi lengan-lengan petirnya berhasil menarik Hujan bersamanya. Mereka meluncur, menabraki galaksi dan bintang-bintang. Semakin tinggi. Semakin jauh meninggalkan Bumi yang merintih.

“Langit …,” bisik Hujan.

Hujan menatap Langit yang terus-menerus melecutkan guntur dan kilat hingga tubuhnya menghitam. Perlahan-lahan Hujan menutup mata. Senyum tipis tertinggal di wajahnya.

***

"Pengorbanan cinta yang sia-sia, Rain,” cibir Sky.

“Tak ada pengorbanan yang sia-sia,” jawab Rain. “Akulah yang masih diberi jalan pulang. Musim penghujan diciptakan agar aku bisa kembali menemui Earth.”

"Berengsek kau, Rain. Sudah mati pun kau masih saja berengsek!"

“Musim itu telah datang. Itu sebabnya kau meradang bukan, Sky? Aku akan pergi menjumpai Earth.”

Sky menggeram, “Pergilah.”

Rain tersenyum. “Aku akan selalu datang. Dan kau akan selalu bergemuruh.”

***

Kini kalian mengerti. Langit menyimpan petir dan gemuruh. Hujan hanya membawa kerinduan.

Saat aroma tanah menyergap setelah hujan kali pertama, itulah luapan kerinduan bumi yang kembali bertemu kekasihnya.

Lihatlah, hujan mulai mampir di jendela. Gemerisik derainya mengalun mencumbui gelepar aroma bumi. Bergegaslah bila kalian ingin menyimaknya, tapi jangan ganggu mereka.