Overthinking kini bukan lagi sekadar kebiasaan, tapi sudah jadi “menu harian” yang dialami banyak orang, termasuk Gen Z, hampir setiap hari. Dari bangun tidur sampai menjelang tidur malam, pikiran terus dipenuhi kecemasan, perbandingan hidup, dan tekanan sosial yang datang dari berbagai arah, baik lingkungan sekitar maupun media sosial.
Di tengah banjir konten tentang pencapaian, gaya hidup ideal, dan standar sukses yang terus berseliweran, muncul satu pendekatan yang mulai banyak dibicarakan sebagai cara mengelola pikiran dan emosi, yaitu stoikisme. Stoikisme dikenal sebagai aliran filsafat yang mengajarkan ketenangan batin dengan membedakan mana hal yang bisa dikendalikan dan mana yang berada di luar kendali manusia.
Pendekatan ini juga dibahas oleh Ferry Irwandi lewat salah satu video YouTube-nya. Ferry menegaskan bahwa stoikisme bukan agama atau aliran kepercayaan, melainkan cara berpikir yang membantu seseorang mengelola emosi negatif dan membangun ketenangan hidup secara lebih sadar.
“Stoikisme itu bukan aliran kepercayaan, bukan agama, tapi aliran filsafat yang membantu kita mengontrol emosi negatif, mengamplifikasi bahagia, dan rasa syukur yang kita rasakan,” ujar Ferry.
Ia menjelaskan bahwa salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menjadikan faktor eksternal sebagai standar kebahagiaan. Validasi sosial, pengakuan orang lain, reaksi publik, pencapaian yang diakui lingkungan, hingga respons di media sosial sering dijadikan tolok ukur bahagia, padahal semuanya berada di luar kendali individu.
“Masalahnya, manusia sering menaruh kepuasan dan kebahagiaan di faktor eksternal yang sebenarnya nggak bisa dikontrol sama sekali,” kata Ferry. Ketika kebahagiaan bergantung pada hal-hal tersebut, kekecewaan menjadi sulit dihindari, karena reaksi orang lain tidak pernah bisa sepenuhnya dikendalikan.
Dalam stoikisme, standar kebahagiaan justru dibangun dari faktor internal, seperti cara berpikir, sikap mental, respon terhadap masalah, usaha pribadi, dan kemampuan menerima realitas. Hal-hal ini berada dalam kendali diri, sehingga tidak bergantung pada penilaian, pengakuan, atau validasi orang lain.
Dengan membangun standar bahagia dari dalam, seseorang tidak mudah kecewa ketika tidak mendapatkan respons yang diharapkan, tidak larut dalam pikiran berlebihan karena opini publik, dan tidak menggantungkan ketenangan hidup pada reaksi sosial yang tidak bisa dikontrol.
“Gue sadar kalau rasa bahagia itu bukan terletak pada seberapa tinggi pencapaian, tapi seberapa rasional sebuah harapan,” ucap Ferry. Pernyataan ini menegaskan bahwa ketenangan bukan berasal dari pembuktian diri ke orang lain, melainkan dari kemampuan mengelola pikiran sendiri.
Dalam konteks overthinking yang sering muncul di malam hari, stoikisme menawarkan cara pandang yang lebih tenang dan rasional. Bukan dengan mengubah dunia atau orang lain, tetapi dengan mengubah cara merespons realitas, membangun kendali diri, dan menempatkan kebahagiaan pada hal-hal yang memang bisa dikontrol secara pribadi.
Dengan pendekatan ini, overthinking tidak lagi sepenuhnya menjadi beban, tetapi bisa diarahkan menjadi proses refleksi yang lebih sehat dan terkelola.
Baca Juga
-
Fakta Menarik Trofi Emas Piala Dunia: Pernah Dicuri, Bukan Milik Sang Juara
-
Timberland Boots: Berawal Dari Sepatu Tukang Jadi Ikon Rapper Dunia Hip Hop
-
JisuLife Ultra 2: Kipas Portable Premium dengan Berbagai Fungsi Menarik!
-
ROG Zephyrus Duo, Laptop Dua Layar dengan RTX 5090 Seharga Mobil Bekas!
-
Bawa Argentina Menang 3-0, Messi Cetak Hattrick Pertama di Piala Dunia 2026
Artikel Terkait
-
Stop Overthinking dengan Occam's Razor: Seni Hidup dengan Pikiran Sederhana
-
Bukan Dalang, tapi Jadi Tumbal? Drama Jeratan Hukum untuk ABK Fandi Ramadhan
-
Stoikisme di Bulan Puasa: Mengatur Hasrat, Menjaga Akal Sehat
-
Ferry Irwandi Dihujat Usai Undang Anak Koruptor ke Podcast
-
Dibela Ferry Irwandi, Beredar Jejak Digital Bigmo Ngaku Korupsi Viewers
Lifestyle
-
Skin Barrier Auto Kuat! 4 Pelembap Cream Korea Andalan Atasi Kulit Kering
-
Vivo T5 Resmi Meluncur: HP All-Rounder dengan Baterai 7.200 mAh dan Ketangguhan Tinggi
-
Haechan NCT Pamer Parfum Favorit dari Brand Lokal, Ini 7 Alternatif Lainnya
-
5 Skill Non-AI yang Wajib Dimiliki Fresh Graduate di Era Otomatisasi
-
5 Body Lotion yang Bikin Kulit Lembap dan Wangi Serasa Pakai Parfum
Terkini
-
Menikah di Usia 30-an Kian Diwajarkan, Tanda Perubahan Prioritas Anak Muda?
-
Review Serial Ballard: Adaptasi Novel Michael Connelly yang Sangat Solid!
-
Kembali Raih Juara AFF, Vietnam Memang Berjodoh dengan Pelatih Asal Korea
-
Strava dan Komodifikasi Keringat, Saat Lari Jadi Validasi Sosial
-
Dapat Komentar Jahat soal Debut 'HyoRiSoo', Begini Reaksi Menohok Yuri SNSD