Rivalitas Lewis Hamilton dan Max Verstappen kembali mencuri perhatian penggemar Formula 1. Dua pembalap beda generasi tersebut disebut telah mencatat 61 shared podium sepanjang karier mereka di ajang F1.
Melihat unggahan akun Instagram resmi Formula 1 pada Jumat (29/5/2026), Hamilton dan Verstappen menjadi duo dengan jumlah shared podium terbanyak dalam sejarah Formula 1. Statistik tersebut menunjukkan betapa sering keduanya finis di posisi tiga besar dalam balapan yang sama.
Istilah shared podium sendiri merujuk pada kondisi ketika dua pembalap sama-sama finis di posisi podium dalam satu Grand Prix. Artinya, Hamilton dan Verstappen sudah 61 kali berdiri bersama di podium Formula 1, baik sebagai juara, runner-up, maupun posisi ketiga.
Catatan tersebut terasa spesial mengingat keduanya datang dari era dominasi yang berbeda. Lewis Hamilton dikenal sebagai simbol kejayaan Mercedes pada era hybrid, sementara Max Verstappen menjadi wajah dominasi baru Red Bull Racing dalam beberapa musim terakhir.
Rivalitas keduanya mulai benar-benar memanas sejak musim 2021. Saat itu, Hamilton dan Verstappen terlibat duel sengit dalam perebutan gelar juara dunia hingga seri terakhir di Abu Dhabi.
Musim tersebut bahkan dianggap sebagai salah satu persaingan paling dramatis dalam sejarah Formula 1 modern. Kontak di Silverstone, duel agresif di Monza, hingga kontroversi penutup musim di Abu Dhabi membuat rivalitas keduanya terus menjadi pembicaraan penggemar F1 hingga sekarang.
Meski beberapa kali terlihat memanas di lintasan, Hamilton dan Verstappen justru menciptakan salah satu statistik paling ikonik dalam sejarah Formula 1. Angka 61 shared podium menunjukkan bagaimana dua pembalap elite ini terus berada di level tertinggi dalam waktu yang cukup panjang.
Tak sedikit penggemar di media sosial menyebut rivalitas Hamilton dan Verstappen sebagai penerus persaingan legendaris Formula 1 seperti Ayrton Senna vs Alain Prost maupun Michael Schumacher vs Mika Hakkinen.
Menariknya, statistik ini juga memperlihatkan bagaimana dua generasi berbeda sempat bertabrakan di era yang sama. Hamilton datang sebagai juara dunia tujuh kali dengan pengalaman panjang, sementara Verstappen hadir sebagai pembalap muda agresif yang perlahan mengambil alih dominasi Formula 1 modern.
Kini, meski arah karier keduanya mulai bergerak ke fase berbeda, nama Hamilton dan Verstappen telanjur menjadi bagian penting dalam sejarah Formula 1. Rivalitas mereka bukan hanya soal perebutan gelar juara, tetapi juga simbol pergantian era di puncak balapan paling bergengsi di dunia tersebut.
Baca Juga
-
Fakta Menarik Trofi Emas Piala Dunia: Pernah Dicuri, Bukan Milik Sang Juara
-
Timberland Boots: Berawal Dari Sepatu Tukang Jadi Ikon Rapper Dunia Hip Hop
-
JisuLife Ultra 2: Kipas Portable Premium dengan Berbagai Fungsi Menarik!
-
ROG Zephyrus Duo, Laptop Dua Layar dengan RTX 5090 Seharga Mobil Bekas!
-
Bawa Argentina Menang 3-0, Messi Cetak Hattrick Pertama di Piala Dunia 2026
Artikel Terkait
-
Gucci Resmi Masuk Formula 1! Brand Fashion Mewah Kini Ramaikan Dunia Balap
-
Kimi Antonelli Juara GP Kanada 2026, Perlebar Keunggulan di Klasemen F1
-
F1 GP Kanada: George Russell Menangi Sprint Race, Lando Norris Salip Kimi Antonelli!
-
Drama Nurburgring 24H: Mercedes Juara dan Max Verstappen Tumbang Jelang Finis
-
Long Weekend Belum Usai, Coba Sensasi Jadi Pembalap F1 Mulai Rp35 Ribu
Hobi
-
Cetak Brace, Jude Bellingham Bisa Kejar Rekor Messi?
-
Dari Euro 1992 ke Piala Dunia 2026: Benarkah Skandinavia Sedang Menuju Masa Kejayaan Baru?
-
Inggris vs Argentina: Semifinal yang Lebih dari Sekadar Sepak Bola
-
Piala Dunia 2026: Ada 2 Alasan Mengapa Saya Tak Heran Argentina Bisa Lolos ke Babak Semifinal
-
Rivalitas Inggris vs Argentina: Sejarah, Gengsi hingga Hand of God
Terkini
-
Koperasi Mendahului Aspal, Membedah Paradoks Desa Kelok Sunyi
-
Sinopsis Legal Beat: Gyakuten no Houtei, Drama Jepang Terbaru Suzuka Ouji
-
Review Novel Octopus Moon: Kisah Menyentuh tentang Depresi pada Anak
-
4 Daily OOTD Urban Streetwear ala Choi San ATEEZ, Nyaman dan Fashionable!
-
Kritik kepada Pemerintah Bukan Berarti Sedang Mencari Pengganti Presiden