Di kepala manusia, pikiran jarang berjalan lurus. Ia berkelok, bercabang, dan sering kali berputar-putar di tempat yang sama. Kita menyebutnya overthinking, sebuah kondisi ketika otak bekerja terlalu keras untuk hal yang sebenarnya bisa selesai dengan satu kesimpulan sederhana.
Ironisnya, manusia memang "didesain" dalam mode survival: otak selalu waspada, curiga, dan siaga terhadap ancaman. Masalahnya, dunia modern tidak lagi penuh predator dan gua gelap. Yang tersisa justru pikiran kita sendiri yang sering menjadi ancaman terbesar.
Berpikir Terlalu Jauh: Ketika Pikiran Sendiri Menjadi Beban
Secara biologis, otak manusia memproses sekitar 60.000–70.000 pikiran per hari. Menurut riset psikologi kognitif, lebih dari 70 persen di antaranya bersifat repetitif dan negatif. Artinya, sebagian besar pikiran kita bukan hal baru, bukan solusi, dan tidak produktif, melainkan pengulangan kecemasan, asumsi, dan ketakutan yang sama. Inilah ladang subur overthinking.
Ambil contoh sederhana: terdengar suara "meong" di bawah kasur pada tengah malam. Secara logis, itu hampir pasti kucing. Namun, bagi orang yang sedang overthinking, realitas sederhana ini bisa berubah menjadi film horor internal: jangan-jangan itu penampakan, maling yang menyamar, atau makhluk misterius yang meniru suara kucing. Bukan karena ada bukti, tetapi karena pikiran kita ahli menciptakan kemungkinan yang tidak perlu.
Kita sering menyangkal kesederhanaan dengan kalimat, "Masa iya sesederhana itu?" Padahal, sering kali memang sesederhana itu. Dalam psikologi, fenomena ini disebut catastrophic thinking, yaitu kecenderungan otak untuk langsung melompat ke skenario terburuk.
Penelitian dalam bidang kecemasan menunjukkan bahwa lebih dari 85 persen hal yang dikhawatirkan manusia tidak pernah benar-benar terjadi. Dari sisa yang terjadi pun, mayoritas bisa ditangani jauh lebih mudah daripada yang dibayangkan. Overthinking, dengan kata lain, lebih sering menciptakan penderitaan imajiner daripada ancaman nyata.
Overthinking Itu Melelahkan: Saatnya Berpikir Lebih Sederhana
Dalam psikologi, manusia memang punya kecenderungan merumitkan hal yang sederhana. Faktor kecemasan, trauma, pengalaman masa lalu, tekanan sosial, dan rasa takut membuat kita membangun asumsi demi asumsi. Overthinking bukan sekadar kebiasaan berpikir, melainkan mekanisme pertahanan: otak mencoba mengantisipasi semua kemungkinan buruk agar kita "siap". Sayangnya, yang terjadi justru sebaliknya. Kita lelah, cemas, dan kehilangan kejernihan berpikir.
Di sinilah sebuah prinsip lama justru terasa sangat relevan: Occam’s Razor atau Law of Parsimony. Prinsip ini diperkenalkan oleh filsuf abad ke-14, William of Ockham, seorang pendeta Ordo Fransiskus dan ahli logika dari Inggris. Ia merumuskan sebuah gagasan sederhana tetapi radikal: Entities should not be multiplied beyond necessity. Jika ada dua atau lebih penjelasan terhadap satu fenomena, pilihlah yang paling sederhana, yang membutuhkan asumsi paling sedikit.
Bukan berarti yang sederhana selalu benar, tetapi yang sederhana adalah yang paling rasional untuk dijadikan titik awal berpikir. Occam’s Razor bekerja seperti "pisau cukur" mental yang mencukur asumsi-asumsi berlebihan tanpa dasar kuat. Dalam konteks hidup modern, prinsip ini menjadi alat yang sangat efektif untuk melawan overthinking.
Menggunting Asumsi, Menyelamatkan Mental
Setiap overthinking memperbanyak kemungkinan, memperluas spekulasi, dan membangun realitas imajiner yang belum tentu pernah terjadi. Occam’s Razor justru melakukan kebalikannya: memangkas. Bukan berpikir apa skenario terburuk yang mungkin terjadi, melainkan berpikir apa yang paling mungkin terjadi berdasarkan fakta.
Dalam hidup sehari-hari, penerapannya sangat praktis:
- Pesan tidak dibalas: kemungkinan besar orangnya sibuk, bukan membenci kamu.
- Raut wajah orang datar: mungkin lelah, bukan pasti marah.
- Kamu gagal sekali: itu kesalahan, bukan identitas hidupmu.
Occam’s Razor mengajarkan kita untuk tidak membangun narasi tanpa data. William of Ockham sendiri tidak mengatakan bahwa hipotesis sederhana pasti benar, tetapi lebih baik dipilih karena tidak memerlukan asumsi berlebihan. Artinya, prinsip ini bukan tentang kebenaran mutlak, melainkan tentang kejernihan berpikir.
Overthinking membuat hidup terasa berat karena pikiran bekerja di wilayah yang tidak perlu. Occam’s Razor mengajak kita kembali ke logika dasar: cukupkan asumsi, sederhanakan penjelasan, dan fokus pada yang nyata. Terkadang, hidup memang mudah. Yang membuatnya rumit adalah pikiran kita sendiri.
Membunuh overthinking bukan tentang berpikir lebih banyak, melainkan tentang berani berpikir lebih sederhana.
Baca Juga
-
Jeratan Praktik Perburuan Rente Subsidi Pupuk: Bagaimana Kebijakan Mengkhianati Petani Kecil
-
Paspor Kuat Itu Bukan Cuma soal Visa: Tentang Privilege dan Martabat Global
-
Menggugat Beasiswa: Belajar dari DAAD, Menata Ulang Cara Pandang LPDP
-
New Wisata Wendit: Ikon Legendaris Malang yang Cocok Jadi Destinasi Liburan Keluarga
-
Membuka Portal Dunia Baru di Novel Bumi Karya Tere Liye
Artikel Terkait
-
Self Healing: Menyembuhkan Luka Masa Kecil dan Belajar Menerima Diri
-
Instagram Story dan Dialog Diam-Diam dengan Diri Sendiri
-
Topeng Sosial dan Kerapuhan Diri dalam Drama 'The Art of Sarah'
-
Childfree dalam Perspektif Psikologi: Pilihan Rasional atau Respons Trauma?
-
Domino Bukan Sekadar Permainan: Intip Transformasinya Jadi Olahraga Pikiran Profesional di Makassar
News
-
Stres Karena Potongan Lagu Terus Berputar di Kepala? Ini Penjelasannya!
-
Jeratan Praktik Perburuan Rente Subsidi Pupuk: Bagaimana Kebijakan Mengkhianati Petani Kecil
-
Belajar dari China, Sampah Makanan MBG Berpotensi Jadi Biodiesel
-
Miskin Itu Bukan Takdir, Tapi Warisan yang Lupa Ditolak
-
Ramadan Jadi Musim Diskon, Pakar Ingatkan 5 Cara Belanja Aman