M. Reza Sulaiman | Rahel Ulina Br Sembiring
Ilustrasi Stoikisme (Unsplash/Getty Images)
Rahel Ulina Br Sembiring

Bulan puasa kerap dipahami sebatas menahan lapar dan dahaga. Padahal, baik bagi muslim yang menjalani Ramadan maupun non-muslim yang menjalani puasa Prapaskah, inti latihan ini jauh lebih dalam: mengelola hasrat dan menata batin. Di titik inilah stoikisme terasa relevan. Filsafat kuno ini tidak meminta kita kebal emosi, melainkan mengajarkan kewarasan—bagaimana tetap jernih di tengah dorongan, godaan, dan hiruk-pikuk dunia.

Puasa, apa pun tradisinya, adalah momen yang adil untuk semua. Tubuh dilatih, pikiran diuji, dan sikap hidup dipertaruhkan. Stoikisme memberi kerangka sederhana namun tajam agar puasa tidak berhenti sebagai rutinitas, melainkan berubah menjadi latihan karakter. Berikut beberapa prinsip dalam stoikisme yang dapat kita terapkan selama menjalankan puasa.

Puasa sebagai Latihan Mengendalikan Hasrat

Stoikisme menekankan penguasaan diri. Menurut ajaran Epictetus, kebebasan sejati muncul ketika kita tidak diperbudak oleh keinginan. Puasa menghadirkan panggung nyata untuk itu: lapar datang, emosi naik, tetapi kita belajar tidak bereaksi berlebihan. Menahan diri bukan berarti memusuhi keinginan, melainkan menempatkannya pada porsi yang tepat.

Membedakan yang Bisa dan Tidak Bisa Kita Kendalikan

Prinsip stoik paling terkenal adalah dikotomi kendali. Kita tidak bisa mengatur cuaca, antrean panjang, atau komentar orang lain. Namun, kita bisa mengatur respons. Di bulan puasa, energi terbatas sering memicu rasa sensitif. Stoikisme mengingatkan: fokuslah pada sikap—bukan keadaan. Di sini, puasa menjadi ruang latihan untuk memilih tenang alih-alih meledak.

Menjaga Akal Sehat di Tengah Kesibukan Spiritual

Banyak orang terjebak paradoks: ibadah meningkat, tetapi emosi justru menegang. Marcus Aurelius menulis bahwa ketenangan lahir dari pikiran yang tertib. Puasa ala stoik mendorong kita menyederhanakan—mengurangi distraksi, menata jadwal, dan memberi jeda untuk refleksi. Akal sehat tumbuh saat kita tidak memaksakan diri menjadi "sempurna", melainkan konsisten.

Puasa untuk Semua: Melampaui Identitas

Menariknya, praktik puasa lintas iman menunjukkan nilai universal: disiplin, empati, dan kesadaran diri. Stoikisme menjembatani pengalaman ini tanpa meniadakan makna spiritual masing-masing. Baik puasa Ramadan maupun Prapaskah, keduanya mengarah pada pembaruan batin—sebuah pengakuan bahwa manusia perlu berhenti sejenak untuk menata ulang hidupnya.

Mengelola Emosi, Bukan Menekannya

Stoikisme sering disalahpahami sebagai antiemosi. Padahal, Seneca menekankan kebijaksanaan dalam merespons perasaan. Puasa mengungkap emosi mentah—lelah, marah, iri. Tugas kita bukan meniadakan, melainkan mengolahnya agar tidak merusak relasi dan keputusan.

Saran

Berikut beberapa saran realistis yang dapat kita lakukan agar ibadah kita semakin lancar:

  • Mulai dari yang kecil: atur respons saat lapar—tunda reaksi, tarik napas, beri jeda.
  • Kurangi keluhan: jadikan puasa sebagai pengingat untuk berhenti mengeluh atas hal sepele.
  • Refleksi harian singkat: tanyakan, "Apa yang berhasil kukendalikan hari ini?"
  • Jaga keseimbangan: istirahat cukup agar emosi tidak memimpin akal.

Penutup

Bulan puasa memberi kesempatan langka untuk melambat. Dengan lensa stoikisme, kita belajar bahwa ketenangan bukan hadiah dari keadaan ideal, melainkan hasil pilihan sadar. Puasa menjadi latihan kewarasan—menata hasrat, menjaga akal, dan memperhalus sikap.

Kesimpulan

Stoikisme dan puasa bertemu pada satu tujuan: membentuk manusia yang lebih sadar. Lintas iman, lintas tradisi, puasa mengajarkan hal yang sama—kendalikan diri, jernihkan pikiran, dan hidupi hari dengan sikap yang lebih bijak.