Hayuning Ratri Hapsari | Sherly Azizah
Ilustrasi mahasiswa pendidikan bahasa dan sastra Indonesia [pexels/Andrea Piacquadio]
Sherly Azizah

Melansir dari Journal of Applied Psychology mengenai manajemen waktu dan kesejahteraan mental, kemampuan seseorang dalam melakukan pemrioritasan tugas berdasarkan ritme sirkadian tubuh, terutama saat pola tidur berubah di bulan puasa—sangat menentukan tingkat produktivitas dan kepuasan hidup.

Sebagai mahasiswa yang merangkap peran sebagai asisten dosen, saya sering kali merasa terjebak dalam "keranjang belanja" aktivitas yang terlalu penuh. Di satu sisi, tumpukan koreksian mahasiswa dan deadline tugas mata kuliah menuntut perhatian penuh, namun di sisi lain, kerinduan untuk memaksimalkan ibadah di bulan suci ini begitu kuat.

Keresahan saya memuncak saat menyadari bahwa waktu adalah sumber daya paling langka yang sering kali saya konsumsi secara sembarangan untuk hal-hal yang tidak produktif, seperti scrolling media sosial saat menunggu waktu berbuka. Ramadan tahun ini, saya memutuskan untuk menerapkan prinsip bijak berkonsumsi waktu; sebuah metode untuk mengalokasikan energi saya secara presisi antara tanggung jawab akademis dan kebutuhan spiritual.

Keputusan saya untuk menerapkan "Diet Distraksi" adalah bentuk nyata dari kemandirian manajemen diri. Saya mulai menyadari bahwa sering kali kita merasa tidak punya waktu, padahal kita hanya tidak bijak dalam "membelanjakan" menit demi menit yang kita miliki.

Sedangkan bijak berkonsumsi versi saya adalah dengan memanfaatkan jendela waktu "emas" setelah sahur dan shalat Subuh untuk mengerjakan tugas-tugas berat yang membutuhkan konsentrasi tinggi (deep work). Di jam-jam ini, otak masih segar dan perut belum terasa terlalu kosong.

Dengan menyelesaikan tugas dosen lebih awal, saya telah menghemat stok energi mental saya untuk digunakan pada malam hari saat melaksanakan salat Tarawih atau tadarus Al-Qur'an. Saya belajar bahwa menjadi mahasiswa yang produktif tidak berarti harus begadang semalaman, melainkan tahu kapan harus menekan tombol pause untuk memberikan hak bagi jiwa berkomunikasi dengan Sang Pencipta.

Keresahan yang sering saya jumpai di kalangan teman sebaya adalah fenomena "kelelahan semu". Banyak mahasiswa merasa sangat sibuk namun sebenarnya mereka hanya tidak mampu mengonsumsi prioritas dengan benar. Sering kali, kita lebih memilih mengonsumsi drama di grup WhatsApp daripada mencicil tugas, yang akhirnya berujung pada sistem kebut semalam yang merusak jadwal ibadah.

Namun, saya memilih jalan berbeda. Saya mulai menerapkan teknik time-boxing, di mana saya memberikan durasi ketat untuk setiap pekerjaan asisten dosen saya. Setelah kotak waktu itu habis, saya harus berpindah pada agenda berikutnya, termasuk agenda spiritual. Inilah gaya hidup bijak yang sesungguhnya: kita yang mendikte waktu, bukan waktu yang menyeret kita dalam kepanikan deadline. Dengan cara ini, saya merasa jauh lebih tenang dan tidak lagi dihantui rasa bersalah karena meninggalkan tugas demi berlama-lama di masjid.

Selain soal efisiensi, manajemen waktu ini adalah bentuk apresiasi saya terhadap amanah yang diberikan. Sebagai asisten dosen, saya harus memberikan contoh yang baik dalam hal disiplin. Namun, saya juga ingin memberikan contoh bahwa kesuksesan akademik tidak seharusnya menomorduakan nilai-nilai agama.

Saya mengedukasi diri sendiri bahwa setiap detik yang saya gunakan untuk belajar atau membantu dosen adalah bagian dari ibadah, asalkan diniatkan dengan benar. Inilah bentuk konsumsi waktu yang holistik; menyatukan antara dunia pendidikan dan spiritualitas dalam satu tarikan napas. Saya merasa jauh lebih berenergi dan memiliki motivasi yang lebih murni ketika tujuan saya bukan sekadar nilai atau upah, melainkan keberkahan di setiap langkah yang saya ambil selama bulan Ramadan ini.

Kemenangan Ramadan bagi seorang mahasiswa sekaligus asisten dosen seperti saya adalah saat berhasil menutup bulan suci dengan nilai yang memuaskan dan hati yang lebih dekat kepada-Nya. Bijak berkonsumsi waktu adalah investasi terbesar yang bisa saya lakukan untuk masa depan karier dan ketenangan batin saya.

Saya merasa jauh lebih berdaya saat menyadari bahwa dengan pengaturan yang tepat, tidak ada tugas yang terlalu berat dan tidak ada ibadah yang terabaikan. Bagaimana dengan kalian, apakah waktu kalian masih habis untuk "belanja" tontonan yang tidak perlu, atau sudah mulai cerdas membagi porsi antara buku dan sajadah seperti saya?

Yuk, kita saling berbagi tips produktif agar Ramadan kita tetap maksimal dan tugas-tugas kuliah tetap tuntas sebelum gema takbir berkumandang!