M. Reza Sulaiman | Sherly Azizah
ilustrasi membaca novel [pexels/George Milton]
Sherly Azizah

Hampir setiap kali saya membuka lini masa X, yang dulunya kita sebut Twitter, halaman utama saya selalu dipenuhi oleh rekomendasi cerita Alternate Universe atau AU.

Formatnya sangat memanjakan mata, berupa potongan tangkapan layar obrolan fiktif diapit foto-foto idola K-Pop populer dengan visual menawan. Alur ceritanya biasanya renyah, manis, dan berlatar kehidupan perkotaan yang modern.

Teman-teman sebaya saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk membaca utas demi utas, tertawa sendiri, atau mendadak galau karena nasib tokoh fiksi favorit mereka. Kepopuleran fiksi buatan penggemar (fan fiction) ini memang luar biasa karena berhasil mengubah aktivitas membaca yang dulunya dianggap membosankan menjadi sebuah tren hiburan digital yang sangat adiktif di kalangan Gen Z.

Namun, di tengah keriuhan cerita manis nan ringan tersebut, ingatan saya mendadak terlempar pada rak buku di kamar yang memajang novel Lelaki Harimau dan Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan. Ada jarak estetis yang cukup lebar ketika kita berpindah dari dunia AU yang serbainstan ke dunia sastra realisme magis lokal.

Mengapa menyempatkan diri membaca novel serius seperti karya Eka Kurniawan itu tetap penting bagi generasi kita? Jawabannya melampaui sekadar urusan gengsi membaca buku tebal.

Karya-karya sastra lokal yang berbobot menyajikan kekayaan kosakata bahasa Indonesia yang jarang kita temukan dalam narasi harian media sosial yang cenderung seragam dan didominasi istilah serapan bahasa Inggris.

Lebih dari itu, sastra realisme magis mampu membedah isu sosial, sejarah kelam, patriarki, hingga ketimpangan kekuasaan dengan cara yang sangat berani sekaligus puitis. Membaca fiksi serius melatih daya kritis kita untuk tidak sekadar mengonsumsi plot, melainkan mempertanyakan motif, struktur sosial, dan psikologi manusia di balik setiap tindakan tokohnya.

Tentu saja, kita tidak perlu bersikap snob atau memusuhi keberadaan fiksi populer seperti AU di Twitter. Menghakimi bacaan orang lain sebagai karya kelas dua adalah tindakan yang kekanak-kanakan. Dunia literasi kita cukup luas untuk menampung kedua genre tersebut. Jembatan idenya justru ada pada bagaimana kita memosisikan fiksi populer ini.

Jadikan kegemaran membaca cerita AU yang ringan sebagai pintu masuk, sebuah stimulus awal untuk membangun kebiasaan membaca dan kepekaan emosional. Setelah terbiasa menikmati narasi, perlahan kita bisa menantang diri sendiri untuk masuk ke dalam bacaan yang lebih berbobot dan menuntut perenungan lebih dalam, seperti novel-novel sastra Indonesia.

Meluangkan waktu untuk membaca sastra lokal adalah cara paling seru untuk memahami carut-marut sekaligus keindahan manusia Indonesia dari dekat. Lewat goresan pena penulis seperti Eka Kurniawan, kita diajak melihat bahwa realitas bangsa ini tidak melulu seindah drama romantis perkotaan di lini masa.

Ada mitos, tradisi, luka sejarah, dan kemanusiaan kompleks yang membentuk identitas kita hari ini. Menolak lupa pada sastra lokal bukan berarti kita anti terhadap modernitas, melainkan sebuah kesadaran bahwa untuk terbang tinggi menjelajahi dunia digital, kita tetap butuh akar yang kuat pada bumi yang kita pijak.

Jadi, setelah ini, silakan saja melanjutkan maraton membaca utas AU favoritmu sampai subuh demi memuaskan asupan romansa visual di kepala. Namun, jangan lupa untuk menyisakan sedikit ruang di tas atau aplikasi bacamu untuk buku-buku seperti karya Eka Kurniawan.

Menyeimbangkan asupan bacaan antara fiksi ringan yang menghibur dan sastra lokal yang berbobot tidak akan membuatmu mendadak jadi manusia kuno yang membosankan. Sebaliknya, perpaduan itu justru akan menyelamatkan jempol dan otakmu agar tidak melulu mengonsumsi drama instan, sekaligus bonus membuatmu terlihat jauh lebih keren dan berwibawa saat diajak mengobrol di tongkrongan nyata.

Lagi pula, apa gunanya fasih berdebat tentang hubungan fiktif mas-mas idola di Twitter kalau kita sendiri gagap dan buta saat dihadapkan pada realitas carut-marut kemanusiaan di sekitar kita?