Hayuning Ratri Hapsari | Sri Rahayu
Ilustrasi rumah (pexels/Tho Ta)
Sri Rahayu

Melansir laporan dari Consumer Culture Theory mengenai perilaku konsumsi musiman, tekanan untuk melakukan pembaruan materi di lingkungan rumah menjelang hari raya sering kali dipicu oleh kebutuhan akan validasi sosial dan standar "kepatutan" yang dikonstruksi oleh lingkungan sekitar.

Sebagai seorang Ibu yang memegang kendali atas anggaran rumah tangga, saya sering kali merasa terjebak dalam pusaran tradisi tak tertulis ini: seolah-olah Lebaran tidak sah jika gorden jendela tidak baru atau warna cat dinding tidak diganti.

Namun, Ramadan tahun ini menjadi momen titik balik bagi saya untuk berani berkata "cukup". Saya mulai menyadari bahwa bijak berkonsumsi bukan berarti kita harus mengikuti setiap arus tradisi yang ada, melainkan memiliki keberanian untuk memutus rantai pengeluaran yang sebenarnya hanya bertujuan untuk memuaskan pandangan orang lain (social approval) sementara kantong sendiri megap-megap.

Keputusan saya untuk tidak mengganti gorden dan cat rumah tahun ini bukanlah bentuk kepelitan, melainkan sebuah pernyataan kemandirian finansial. Saya melihat kembali fungsi gorden di rumah saya; ia masih bersih, warnanya belum pudar, dan masih sangat layak melindungi privasi keluarga.

Mengapa saya harus mengeluarkan jutaan rupiah hanya untuk mengikuti tren warna tahun ini? Begitu juga dengan cat dinding. Bijak berkonsumsi versi saya adalah dengan mengalihkan anggaran "renovasi kosmetik" tersebut ke dalam pos yang lebih esensial, seperti dana pendidikan anak atau tambahan modal usaha.

Saya lebih memilih memiliki rumah dengan cat lama namun memiliki tabungan yang sehat, daripada rumah kinclong namun harus pusing memikirkan cicilan atau kekurangan dana untuk biaya masuk sekolah anak di bulan Juli nanti.

Keresahan yang sering saya jumpai di masyarakat adalah rasa malu atau "pekewuh" jika rumah terlihat sama saja dari tahun ke tahun saat kerabat datang berkunjung. Ada ketakutan bahwa kita akan dianggap tidak berkembang atau bahkan sedang mengalami kesulitan ekonomi.

Namun, saya mencoba mengedukasi diri sendiri dan keluarga bahwa kemuliaan sebuah rumah di hari Idulfitri tidak terletak pada mengkilapnya dinding, melainkan pada hangatnya penerimaan dan ketulusan silaturahmi.

Saya memilih untuk "mengonsumsi" rasa percaya diri daripada mengonsumsi materialisme. Untuk menyiasati suasana agar tetap segar, saya lebih memilih melakukan penataan ulang furnitur (rearranging) atau mencuci gorden lama dengan pewangi ekstra. Hasilnya? Rumah tetap terasa nyaman dan berbeda tanpa harus mengeluarkan uang sepeser pun.

Selain soal finansial, menolak tradisi yang membebani ini adalah bentuk "puasa" dari sifat konsumerisme yang agresif. Saya ingin mengajarkan kepada anak-anak bahwa hari kemenangan adalah tentang menjadi versi terbaik dari diri kita, bukan tentang memiliki versi terbaru dari barang-barang di rumah.

Dengan tidak membeli barang yang tidak perlu, saya juga berkontribusi pada gaya hidup berkelanjutan yang mengurangi limbah tekstil dan kimia. Inilah esensi gaya hidup bijak yang sesungguhnya: kita memiliki otoritas penuh atas uang dan keputusan kita, tanpa perlu didikte oleh standar tetangga atau iklan di media sosial. Ternyata, ada rasa lega yang luar biasa saat kita berhenti mengejar kesempurnaan fisik dan mulai fokus pada kedamaian batin.

Kemenangan Idulfitri adalah tentang kembali ke fitrah, yang artinya kembali ke kesederhanaan dan kemurnian. Bijak berkonsumsi dengan mempertahankan apa yang masih berfungsi dengan baik adalah bentuk syukur yang paling nyata.

Saya merasa jauh lebih tenang menyambut tamu dengan senyum tulus tanpa beban pikiran soal saldo ATM yang menipis akibat renovasi dadakan. Bagaimana dengan Moms di rumah?

Apakah Moms masih merasa "wajib" mengganti segala sesuatu di rumah agar terlihat baru, atau sudah berani seperti saya untuk bilang "Gorden lama masih oke, kok!"? Yuk, saling menguatkan agar kita tidak lagi menjadi budak tradisi yang hanya membebani!