M. Reza Sulaiman | Sri Rahayu
Ilustrasi mengelola uang (pexels/olia danilevich)
Sri Rahayu

Beberapa hari yang lalu, saya tidak sengaja menguping pembicaraan sepasang suami istri muda di sebuah kedai kopi. Si istri, dengan bercanda tetapi penuh penekanan, berucap sambil menyeruput es kopi susunya, "Ingat ya, Pa, prinsip kita kan jelas. Uang kamu adalah uangku, tapi uangku adalah milikku sendiri." Sang suami hanya tersenyum kecut, sebuah senyuman pasrah yang jamak kita temukan di wajah para pria yang sedang menghitung sisa saldo di rekening mereka mendekati pertengahan bulan.

Slogan usang tersebut memang sering kali diucapkan sebagai candaan di media sosial atau bahkan menjadi prinsip saklek dalam draf perjanjian tidak tertulis sebuah pernikahan. Namun, melihat wajah masygul sang suami di kedai kopi itu, saya tiba-tiba berpikir: apakah formula keuangan penyelamatan generasi masa lalu ini masih benar-benar sakti dan relevan untuk diterapkan sekarang?

Mari kita coba memperlebar sudut pandang melampaui meja kedai kopi tersebut. Di era modern ini, kita sedang menyaksikan perubahan lanskap sosial dan ekonomi yang sangat masif. Struktur rumah tangga ideal versi dekade lalu, tempat suami menjadi satu-satunya pencari nafkah tunggal dan istri fokus mengurus urusan domestik, kian hari kian sulit dipertahankan secara realistis.

Biaya hidup di wilayah perkotaan melonjak tanpa ampun, harga properti terus bergerak menjauhi jangkauan upah minimum, dan biaya pendidikan anak sudah setara dengan harga tiket investasi masa depan yang sangat mahal. Kondisi empiris ini memaksa banyak pasangan modern untuk memilih jalan takdir baru, yaitu bertransformasi menjadi rumah tangga dengan pendapatan ganda atau dual-income earner.

Fenomena ini memicu lahirnya sebuah pertanyaan esensial: ketika istri juga ikut bekerja dan menghasilkan kapital, apakah adil jika beban strategi keuangan tetap sepenuhnya diletakkan di bahu suami seraya mengunci rapat-rapat dompet istri?

Jika kita membedah data dan fakta di lapangan, kenyataan ekonomi saat ini memang menuntut adanya kerja sama yang jauh lebih taktis. Berdasarkan survei Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai Angkatan Kerja Nasional, partisipasi perempuan dalam dunia kerja terus mengalami tren peningkatan yang signifikan dari tahun ke tahun.

Di sisi lain, sebuah laporan penelitian mengenai kesehatan finansial keluarga menunjukkan bahwa salah satu pemicu utama keretakan rumah tangga atau perceraian di Indonesia—setelah faktor perselingkuhan—adalah masalah ekonomi dan buruknya komunikasi finansial antar-pasangan.

Menariknya, konflik ini tidak hanya menimpa keluarga dengan pendapatan rendah, tetapi juga sering mengintai pasangan kelas pekerja mapan yang memiliki ego finansial tinggi serta gagal menyepakati sistem pengelolaan aset bersama yang transparan. Data ini menjadi alarm keras bahwa cara kita memandang uang dalam ikatan pernikahan sudah saatnya dievaluasi.

Secara objektif, mari kita bedah argumentasi ini tanpa perlu emosional. Doktrin tradisional yang menyatakan bahwa seluruh penghasilan istri adalah hak mutlak miliknya tanpa boleh diganggu gugat untuk urusan dapur memang memiliki landasan historis dan perlindungan hukum adat maupun agama yang kuat untuk melindungi perempuan.

Namun, interpretasi yang kaku tanpa melihat konteks zaman justru bisa menjadi bumerang dalam pernikahan modern. Ketika sepasang manusia sepakat hidup bersama di tengah gempuran inflasi, membebankan seluruh urusan memenuhi kebutuhan primer, sekunder, hingga dana darurat hanya kepada satu pihak—sementara pihak lain menggunakan seluruh gajinya untuk kesenangan pribadi—adalah bentuk ketimpangan empati. Keterbukaan finansial mutlak diperlukan.

Hal ini bukan berarti mengebiri atau merampas hak kepemilikan perempuan atas uangnya, melainkan tentang bagaimana membangun kolaborasi finansial yang sehat. Hubungan pernikahan yang dewasa seyogianya berdiri di atas asas kemitraan yang setara, bukan transaksional, tempat kedua belah pihak saling tahu kapasitas dompet masing-masing dan bersama-sama menetapkan anggaran tanpa ada salah satu pihak yang merasa dieksploitasi secara finansial.

Sebuah pernikahan bukanlah kompetisi tentang siapa yang paling banyak berkontribusi atau siapa yang berhak menyimpan rahasia tabungan paling rapat. Slogan "uangmu uangku, uangku uangku" barangkali perlu kita tata ulang maknanya agar menjadi lebih bijaksana dan kontekstual.

Hak pribadi istri atas penghasilannya tetap harus dihormati sebagai bentuk kemandirian finansial dan ruang amannya, tetapi kerelaan untuk saling menopang saat badai ekonomi melanda adalah bahan bakar utama agar bahtera rumah tangga tidak karam.

Sudahkah kita berani duduk bersama pasangan malam ini, membuka aplikasi perbankan masing-masing secara jujur, lalu menyusun strategi keuangan tanpa ada ego yang disembunyikan? Sebab, kematangan sebuah hubungan tidak hanya diuji saat janji suci diucapkan, melainkan juga saat tagihan bulanan mulai berdatangan.