Hayuning Ratri Hapsari | Ken Hitana
Ilustrasi Jogging (unsplash/Chander R)
Ken Hitana

Belakangan ini, olahraga lari tengah digemari oleh banyak orang, dari kalangan pemula hingga profesional. Tren ini juga tengah viral di Korea Selatan, di mana slow jogging atau teknik lari lambat yang sedang populer sebagai alternatif olahraga lari yang lebih ramah untuk pemula. Sekilas, gerakannya memang terlihat seperti lari biasa, hanya saja dilakukan dengan tempo yang jauh lebih santai. Karena sama-sama berlari, banyak orang mengira keduanya tidak memiliki perbedaan yang berarti.

Padahal, slow jogging dan lari biasa memiliki tujuan, intensitas, hingga teknik yang berbeda. Memahami perbedaannya bisa membantumu memilih olahraga yang paling sesuai dengan kondisi tubuh dan target kebugaranmu. Yuk, simak 5 perbedaan slow jogging dan lari biasa berikut!

1. Kecepatan

Ilustrasi Jogging (unsplash/Fitsum Admasu)

Dari namanya saja, yang paling terlihat sudah pasti kecepatannya. Slow jogging memiliki pace yang jauh lebih rendah dibanding lari biasa. Untuk pemula, slow jogging bisa untuk latihan rutin secara konsisten karena sifatnya yang santai dan tidak melelahkan. Kamu bisa olahraga sambil mengobrol santai bersama teman larimu. Tapi, jangan lupa jaga kecepatanmu agar tidak terlalu cepat, ya!

2. Tujuan Olahraga

Ilustrasi Olahraga (unsplash/Greg Rosenke)

Olahraga lari santai seperti slow jogging ini sangat cocok untuk membangun kebiasaan olahraga bagi kamu yang jarang bergerak. Tempo yang santai membuat olahraga ini terasa lebih nyaman sehingga lebih mudah dilakukan secara rutin. 

Sementara itu, lari biasa lebih banyak dilakukan oleh orang yang ingin meningkatkan kecepatan, daya tahan, atau mempersiapkan diri untuk mengikuti lomba lari. Karena intensitasnya cenderung lebih tinggi, latihan ini membutuhkan kondisi fisik yang lebih siap dan waktu pemulihan yang biasanya lebih lama dibanding slow jogging.

3. Intensitas dan Beban Tumpuan

Ilustrasi Lari (unsplash/sporlab)

Dengan intensitas yang lebih ringan, langkah kaki yang diambil saat slow jogging juga lebih pendek dibandingkan lari biasa. Ini membuat tumpuan pada lutut dan pergelangan kaki saat pendaratan juga lebih ringan. Dengan ritme lari yang stabil, detak jantung tidak tiba-tiba melonjak sehingga olahraga ini sering direkomendasikan untuk pemula, lansia, atau orang yang baru kembali berolahraga. Selain itu, slow jogging juga aman untuk kamu yang memiliki berat badan berlebih dan ingin memulai program diet.

Di sisi lain, lari biasa umumnya dilakukan dengan kecepatan yang lebih tinggi sehingga membutuhkan tenaga yang lebih besar. Semakin cepat pace lari, semakin besar pula beban yang diterima otot dan persendian.

4. Tenaga yang Dikeluarkan

Ilustrasi Lelah Setelah Olahraga (unsplash/Land O'Lakes, Inc.)

Karena dilakukan dengan tempo yang lebih santai, slow jogging tidak menguras tenaga secepat lari biasa. Hal ini membuat olahraga ini terasa lebih nyaman, terutama bagi pemula atau orang yang baru mulai rutin berolahraga. Sementara itu, lari biasa membutuhkan tenaga yang lebih besar sehingga tubuh cenderung lebih cepat lelah, terutama saat dilakukan dengan kecepatan tinggi.

5. Teknik Dasar

Ilustrasi Lari (unsplash/rojesh55)

Karena kecepatannya yang lambat, melakukan slow jogging seperti berada di tengah-tengah antara berjalan cepat dengan lari. Meski begitu, kaki harus tetap melayang seperti sedang berlari, ya walaupun kecepatannya lebih seperti berjalan. Ritme yang digunakan pun harus selalu stabil di angka 180 BPM dengan langkah yang sangat kecil. Sedikit tips, kamu bisa dengarkan musik dengan tempo yang sama agar langkahmu lebih konsisten. Ini berbeda dengan lari biasa yang lebih mengutamakan kecepatan dengan langkah lebih lebar. 

Baik slow jogging maupun lari biasa sama-sama memberikan manfaat bagi kesehatan jika dilakukan dengan teknik yang benar dan secara rutin. Perbedaannya bukan terletak pada mana yang lebih baik, melainkan mana yang paling sesuai dengan kebutuhan dan kemampuanmu saat ini. Kalau baru mulai berolahraga atau mencari aktivitas yang ringan, slow jogging bisa menjadi langkah awal yang nyaman. Setelah tubuh semakin terbiasa, kamu bisa meningkatkan intensitas latihan secara bertahap sesuai tujuan kebugaran yang ingin dicapai.