Kalau dengar kata 'fermentasi' apa yang terlintas di pikiranmu? Kimchi? Tape? Tempe? Yap, itu adalah beberapa contoh olahan makanan dengan fermentasi. Ketiga makanan itu punya satu kesamaan, yaitu erat hubungannya dengan makanan tradisional. Dilansir dari Pusat Studi Pangan dan Gizi UGM, ini karena fermentasi adalah salah satu jenis pengolahan makanan tertua di dunia.
Fermentasi menghasilkan mikroorganisme atau bakteri baik yang bisa mengawetkan makanan secara alami. Bakteri ini juga dikenal punya manfaat untuk tubuh, khususnya pencernaan. Selain itu, ternyata makanan fermentasi ini juga dinilai punya manfaat untuk lingkungan. Penasaran? Simak penjelasannya di bawah, ya!
1. Mengurangi Sampah Makanan atau Food Waste
Makanan fermentasi punya daya simpan yang lumayan lama dibanding makanan segar. Misalnya, kamu membeli terlalu banyak timun dan belum habis dalam kurun waktu 1 minggu. Kulit timun-timun itu mulai keriput dan kamu mulai malas untuk memakannya. Ujung-ujungnya, timun-timun keriput itu akan berakhir sebagai food waste.
Beda kasus jika kamu menyisihkan setengah bagian dari timun-timun itu untuk dibuat acar. Dengan campuran cuka, air, garam, dan gula, timunmu akan tetap segar walaupun disimpan lebih dari 2 minggu. Dengan ini, kamu bisa mengurangi food waste atau sampah makanan.
2. Mengurangi Penggunaan Bahan Pengawet Kimia
Fermentasi merupakan 'pengawet' alami. Oleh karena itu, makanan fermentasi tidak perlu ditambah bahan pengawet kimia agar tahan lama. Contohnya seperti pengawetan kimchi khas Korea yang menggunakan garam dan penyimpanan di tempat tertutup dalam waktu yang lama untuk pengawetan alami.
Selain tidak baik untuk tubuh, bahan pengawet kimia juga tidak ramah untuk lingkungan. Bahan-bahan kimia ini dapat menjadi polusi lingkungan karena tidak dapat terurai dengan baik. Lebih buruk lagi, bahkan bisa berdampak pada perubahan iklim.
3. Mendukung Petani Lokal dengan Hasil Musiman
Makanan yang difermentasi biasanya karena keberadaanya yang cukup banyak dan kalau disimpan begitu saja akan busuk. Ini biasanya terjadi saat musim panen bahan makanan tertentu. Misalnya saat musim buah durian di kawasan Sumatera, agar tetap awet akan diolah menjadi tempoyak.
Selain itu, singkong yang selalu melimpah akan difermentasi menjadi tape atau peuyeum. Dengan melakukan fermentasi, kamu bisa memaksimalkan penggunaan bahan makanan musiman dan mendukung petani lokal karena mengurangi ketergantungan impor.
4. Hemat Energi
Fermentasi alami yang menggunakan bahan alami tidak membutuhkan energi, seperti energi panas atau listrik terlalu banyak. Fermentasi alami dengan ragi atau alkohol akan berjalan dengan sendirinya seiring waktu.
Dengan penyimpanan yang baik, makanan fermentasi sangat mungkin untuk selalu disimpan dalam suhu ruang yang stabil. Jadi, makanan fermentasi akan menghemat energi sehingga bisa mengurangi energi karbon yang dihasilkan.
5. Melestarikan Budaya Lokal
Budaya fermentasi makanan sudah ada sejak lama. Praktik ini sudah berlangsung sejak zaman nenek moyang dulu. Di Korea ada Kimjang atau tradisi membuat kimchi bersama keluarga dan tetangga sekitar pada musim gugur. Kimchi merupakan salah satu makanan fermentasi terkenal dari Korea yang saat ini tengah mendunia.
Di Indonesia, ada tradisi yang mirip dengan Kimjang, yaitu membuat tape ketan menjelang hari raya bersama keluarga. Tape ketan adalah sajian dari beras ketan yang dicampur dengan ragi tape yang biasa disajikan kepada tamu saat hari raya. Tradisi-tradisi fermentasi seperti ini umumnya memanfaatkan bahan pangan lokal dan teknik pengawetan alami.
Dengan tetap melestarikannya, masyarakat dapat mengurangi ketergantungan pada makanan olahan berumur simpan pendek sekaligus menjaga praktik pangan yang lebih berkelanjutan. Dengan ini, budaya kuliner yang lebih ramah lingkungan bisa tetap lestari.
Itu dia beberapa alasan kenapa makanan fermentasi bisa berdampak baik untuk lingkungan. Dengan langkah kecil ini, kita bisa berpartisipasi dalam pengurangan sampah makanan hingga pelestarian budaya ramah lingkungan. Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, mulai biasakan fermentasi makanan dari sekarang!
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Ilusi Program MBG: Sejuta Lapangan Kerja atau Sejuta Penerima APBN?
-
Review Bobae Banjum: Creamy Jjamppong yang Wajib Dicoba Pecinta Makanan Korea
-
Keberlanjutan Tak Lagi Sekadar Tren, Begini Cara Industri Mulai Mengubah Cara Bertumbuh
-
Energi Bersih Tak Cukup Ramah Lingkungan, Tetapi Juga Harus Bisa Dipercaya
-
Review Bebek Boedjang Karawang: Sensasi Bebek Jumbo Daging Empuk Rp50 Ribu
Lifestyle
-
5 Clarifying Toner yang Bantu Kulit Wajah Lebih Halus dan Sehat
-
4 Inspirasi OOTD Y2K Summer Style ala Asa BABYMONSTER yang Playful Abis!
-
5 Fakta Menarik Kafka Bintang, Mahasiswa UNHAN yang Jadi MVP Lips Recall COC Season 3!
-
Bye Jerawat pada Kulit Remaja! Ini 4 Acne Moisturizer Mulai Harga Rp18 Ribu
-
4 Ide OOTD Downtown Chic Style ala Son Na Eun yang Effortless Abis!
Terkini
-
Prancis Tersingkir, Taktik Individualis Didier Deschamps Resmi Gagal Total?
-
Coffee Shop dan Ruang Tenang Bagi Gen Z: Bukan Lagi Sekadar Tempat Ngopi
-
Beban Ganda Perempuan Kepala Keluarga: Bangun Jam Lima pagi, Malam Masih Menghitung Setoran
-
Mitos Anggaran Pendidikan Kecil ala Singapura dan Jepang: Kenapa Indonesia Tidak Bisa Meniru?
-
Argentina di Ambang Sejarah, Mampukah Albiceleste Wujudkan Back-to-Back?