“Jadilah Ambassador di kampungmu masing-masing! Jadilah raja di daerahmu sendiri!” – Kang Edai
Apa yang terlintas di pikiranmu ketika mendengar kata Banyuwangi? Kebanyakan orang akan langsung teringat Kawah Ijen, sebuah wisata alam dengan danau belerang berwana toska dan blue fire (api biru) yang fenomenal dan mendunia. Namun, di balik kepopuleran Kawah Ijen, Banyuwangi punya sebuah desa spesial yang berprestasi dunia, namanya Desa Kemiren di Kecamatan Glagah, yang jadi rumah bagi masyarakat suku Osing.
Suku Osing adalah penduduk asli Banyuwangi, Jawa Timur. Osing yang merupakan keturunan Kerajaan Blambangan (kerjaan Hindu terakhir yang runtuh setelah Majapahit) ini punya bahasa sendiri, kuliner khas, dan tradisi budaya yang masih hidup hingga sekarang.
Sayangnya, menjaga identitas bukanlah hal mudah di tengah modernisasi. Tak heran banyak tradisi asli perlahan mulai terpinggirkan bahkan asing bagi generasi mudanya. Ini juga yang jadi tantangan bagi tradisi asli suku osing. Di sinilah hadir sosok Mohammad Edi Saputro atau yang akrab disapa Kang Edai.
Sedikit penasaran dengan sapaan akrabnya, tokoh lokal ini mengatakan bahwa di Kemiren yang notabene dihuni oleh suku Osing pelafalan “i” di akhir kalimat dilafalkan “ai”. Itulah mengapa nama panggunya Edai.
Kang Edai sangat percaya bahwa budaya Osing itu bukanlah sekadar warisan, tetapi bisa menjadi fondasi kekuatan untuk membangun masa depan. Namun di balik keyakinan itu, ia pun sadar bahwa tidak mudah untuk membuat sebuah perubahan berkelanjutan. Lantas, bagaimana seorang kang Edai pada akhirnya mampu membawa Desa Kemiren Suku Osing dikenal luas hingga mendunia?
Mengenal Desa Kemiren, Rumah Suku Osing yang Unik
Desa Kemiren Banyuwangi yang dihuni suku Osing merupakan salah satu desa wisata budaya yang kaya akan tradisi dan kearifan lokal.
Keunikan budaya Osing dapat dilihat dari bahasa, bentuk bangunan rumah tradisional, serta berbagai tradisi/ritual dan upacara adat yang masih dijalankan sampai sekarang.
Hal ini tak terlepas dari orang-orang di Kemiren yang dikenal masih kental dalam memegang teguh adat dan ajaran leluhurnya. Inilah yang menjadikan Kemiren sebagai desa unik karena bukan hanya menjadi tempat wisata, tetapi juga sebagai pusat pelestarian budaya Osing, yang semakin langka di tengah derasnya arus modernisasi.
Ada beragam tradisi adat yang mewarnai kehidupan di desa ini, di antaranya Tumpeng Sewu, Barong Ider Bumi, hingga mocoan Lontar Yusuf. Dan setiap hari Minggu pagi, digelar Pasar Kuliner Tradisional Kemiren yang menyajikan makanan khas warga setempat, seperti Pecel Pithik, Ayam Kesrut, hingga berbagai macam hidangan tradisional lainnya.
Masyarrakat Kemiren sangat menjunjung tinggi ajarannya dalam etika menyambut tamu dengan ramah tamah dan sebaik-baiknya.
Mereka diajarkan suguh, gupuh, lungguh dalam menerima tamu. Suguh berarti suguhan atau hidangan yang wajib disediakan bagi tamu, walau hanya sekadar minuman, terutama kopi. Sedangkan gupuh maksudnya tergopoh-gopoh, yakni sikap antusias dalam menerima tamu. Terakhir lungguh (duduk) artinya menyiapkan tempat sebaik-baiknya bagi siapapun tamu yang datang.
Uniknya, meski bukan daerah penghasil kopi, namun berkat ajaran etika menerima tamu tersebut, menjadikan Kemiren sebagai destinasi ngopi yang membuat banyak orang tertarik. Di sini tersedia banyak gerai kopi tradisional yang setiap harinya dikunjungi para penikmat kopi yang datang dari berbagai daerah.
Desa Kemiren adalah contoh nyata pembangunan pariwisata yang berpihak pada lingkungan dan kearifan lokal. Kemiren membuktikan bahwa desa dengan akar budaya kuat bisa maju bahkan mendunia tanpa kehilangan identitas asli dirinya
Keraguan yang Jadi Titik Awal Perubahan Kemiren
Kang Edai melihat bahwa budaya Osing Kemiren bukan sekadar tradisi yang jadi kebanggan, melainkan aset berharga yang bisa menjadi kekuatan ekonomi membangun kesejahteraan bersama.
Perjalanan desa Kemiren sebagai desa wisata resmi dimulai pada 2020, ketika pemerintah menetapkannya sebagai desa adat terbuka untuk wisata budaya.
Selang 4 tahun, tepatnya pada 2024, desa ini pun masuk 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) dan sekaligus bergabung dengan program keberlanjutan Desa Sejahtera Astra (DSA).
Momentum baik ini dimanfaatkan kang Edai dengan berbekal dukungan Astra untuk mengubah cara pandang masyarakat Kemiren. Ia yakinkan bahwa tradisi kuat yang mereka jaga selama ini bisa menjadi jalan menuju kesejahteraan.
Mereka pun mulai berbenah dan menata diri, bukan hanya sebagai desa wisata, tetapi juga sebagai sebuah desa berdaya di bidang kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan.
Kendati punya semangat dan keyajinan kuat untuk mewujudkan sebuah perubahan yang berdampak, Kang Edai dihadapkan pada keterbatasan sumber daya manusia, dana, dan kemudahan akses informasi. Banyak warga yang awalnya masih ragu bahwa desa mereka yang tidak punya nama besar bisa berkembang menjadi destinasi wisata menjanjikan. Di sinilah tekad sang local hero makin besar. Ia tidak menyerah tanpa berjuang meski lelah.
Kang Edai mulai dengan langkah kecil, yakni mengajak pemuda desa untuk punya kepercayaan pada potensi mereka sendiri. Ia mengatakan bahwa wisatawan datang bukan hanya sekadar mencari kesenangan untuk berlibur dan menyerbu pusat perbelanjaan modern, melainkan juga untuk bisa merasakan kehidupan asli suku masyarakat Osing Kemiren.
Pihak Astra yang mendukung penuh langkah perubahan ini memberikan pelatihan yang cukup dan sarana yang dibutuhkan disediakan. Perlahan, masyarakat mulai dapat melihat hasil yang nyata. Ternyata dari sebuah langkah kecil tumbuh harapan dan keyakinan bahwa desa kecil itu bisa bersinar.
Desa Kemiren Pelan-pelan Bangkit Merajut Harapan Bersama Kang Edai dan Astra
Perubahan di Desa Kemiren tidak terjadi begitu saja hanya karena adanya tekad kuat local hero seperti kang Edai. Perubahan itu tumbuh perlahan layaknya benih yang disiram setiap hari.
Sejak bergabung dengan program DSA pada 2024, desa adat Osing mulai merasakan harapan dan denyut kehidupan baru. Layanan kesehatan, sarana tempat belajar, lingkungan, dan usaha kecil warga pun mulai naik kelas.
Semuanya itu berjalan pelan-pelan tapi dengan langkah yang pasti. Karena ada kolaborasi antara semangat warga Kemiren yang dimotori Kang Edai dan dukungan Astra di setiap bidang, mulai dari kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan.
Awalnya Kemiren hanya fokus pada bidang kewirausahaan. Namun, Astra yang telah memilih kang Edai sebagai penggerak Desa Kemiren sejak 2024 lalu melihat adanya potensi lain yang juga bisa dikembangkan untuk kesejahteraan masyarakat Osing. Akhirnya, ditambahlah 3 bidang lagi yakni kesehatan, pendidikan, dan lingkungan.
Dengan adanya penambahan ini, tentu tidak mudah bagi kang Edai untuk memikul tanggung jawabnya. Namun semua itu ia jadikan tantangan untuk menunjukkan bahwa Kemiren yang sebelumnya tidak dikenal bisa bangkit dan mendunia dengan segala potensi yang dimilikinya.
Benarlah, bahwa kerja keras, semangat, dan keyakinan dapat memberikan hasil memuaskan. Hal ini telah dirasakan masyarakat Osing. Berkat dukungan Astra melalui programnya dan gigihnya kang Edai serta warga dalam membangun desa Kemiren.
Perubahan di Desa Kemiren tidak datang sekaligus, melainkan tumbuh perlahan seperti benih yang disiram setiap hari. Sejak bergabung dengan program Desa Sejahtera Astra pada tahun 2024, desa adat Osing ini mulai merasakan denyut baru: posyandu yang dulu sepi kini kembali hidup, sanggar belajar sore kembali ramai oleh tawa anak-anak, sungai yang dulu penuh sampah kini jernih, dan usaha kecil warga mulai naik kelas. Semua itu berjalan pelan-pelan, tapi pasti, karena ada kolaborasi antara semangat warga, kepemimpinan Kang Edai, dan dukungan Astra yang menguatkan di setiap bidang.
Dalam kurun waktu dua tahun saja, wajah Desa Kemiren mulai telihat berubah. Warga sudah bisa merasakan hasil nyata dari program DSA. Setidaknya, ada sekitar 50 homestay dengan 92 kamar yang dikelola langsung oleh warga.
Selain itu, geliat usaha kecil masyarakat juga semakin terasa. Sekitar 40 pelaku usaha lokal telah aktif mengembangkan kuliner khas Osing, kerajinan tangan, dan kopi kebanggaan desa.
Dampak ekonomi bagi desa kemiren jelas terlihat. Pendapatan rata-rata anggota Pokdarwis naik sekitar 33 persen, dari Rp1,5 juta menjadi Rp2 juta per bulan. Angka ini tentu bukan sekadar statistik, tapi bukti nyata bahwa usaha warga benar-benar terbayar. Hasil ini pun makin nyata ketika Desa Kemiren mampu menarik lebih dari 3.000 wisatawan baik lokal maupun mancanegra setiap tahunnya.
Penghargaan yang Diraih Desa Kemiren
Desa Wisata Adat Osing Kemiren di Banyuwangi, telah ditetapkan menjadi bagian Jaringan Desa Wisata Terbaik Dunia, The Best Tourism Villages Upgrade Programme 2025, oleh United Nations Tourism (UN Tourism) Badan Pariwisata PBB.
Penetapan ini dilakukan saat ajang Best Tourism Villages by UN Tourism 2025 Ceremony & Third Annual Network Meeting, di Huzhou, China, pada tanggal 17 Oktober 2025 lalu. Pada kesempatan itu, Kemiren berhasil menjadi salah satu yang terbaik setelah melalui seleksi ketat yang diikuti 270 desa wisata dari 65 negara anggota UN Tourism.
Sebagai penggerak di desanya, Kang Edai berharap semua pencapaian yang telah diraih tidak membuat masyarakat Kemiren berpuas diri. Adanya penghargaan bergengsi ini harus menjadi pecut yang terus membangkitkan semangat warga Osing untuk terus maju dan menjaga nilai budaya Osing di tengah arus modernisasi.
Tag
Artikel Terkait
Lifestyle
-
Vivo X500 Pro Max Siap Bikin Fotografi Ponsel Makin Gila, Bawa Kamera 200MP
-
Jangan Habiskan Long Weekend di Rumah Saja, 8 Film Indonesia Ini Siap Temani Liburanmu!
-
4 Micellar Water Formula Low pH, Angkat Kotoran Kulit Kering Tanpa Ketarik
-
Bukan Hanya di Lapangan, Ini Cara Komunitas Digital Rayakan 17-an
-
Huawei MatePad Pro Max (2026): Tablet Super Tipis yang Serius Mengajak Laptop Pensiun
Terkini
-
Lebih dari Sekadar Kopi dan Hujan: Membedah Makna Spiritual Lirik Bersenja Gurau
-
Bukan Sekadar Dayang: Genduk Duku dan Perempuan yang Melawan Kuasa
-
Bagaimana Jadinya Jika Domba Menjadi Detektif?
-
Kesaksian Warga Nagekeo Saat Gempa M 7 Guncang NTT: Kami Lari Bawa Lansia dan Tinggalkan Rumah
-
Ilusi Kenaikan Gaji: Kenapa Hidup Justru Terasa Makin Pas-pasan?