Masih teringat jelas pagi itu di awal Desember 2025, ketika layar televisi yang sedang menyala menayangkan gambar banjir bandang dan longsor di Sumatra. Tampak mengerikan dan menyayat hati, tatkala mata yang masih menolak percaya ini melihat air bah membawa rumah warga, jembatan, tidak terkecuali mimpi banyak orang.
Laju air yang seolah enggan berhenti melahap semua, bukan hanya terjadi di satu tempat, melainkan di tiga provinsi besar di Sumatra, yakni Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Ayah pun segera mengambil ponsel dan mencoba menghubungi sanak saudara di kampung halaman kami, Padang, Sumatra Barat. Ayah tampak cemas karena beberapa nomor yang dituju tidak aktif.
Alhamdulillah, setelah mencoba beberapa kali, sepupu saya yang tinggal di Batusangkar mengangkat teleponnya dan mengabarkan bahwa mereka semua baik-baik saja karena wilayah di Kabupaten Tanah Datar tersebut tidak terdampak banjir. Wilayah di Sumatra Barat yang paling terdampak luas adalah Pariaman, Bukittinggi, Padang Panjang, Pasaman, dan wilayah pesisir.
Kami sekeluarga terus memantau perkembangan musibah banjir ini melalui kabar dari kerabat di Padang, media sosial, dan layar televisi. Kian hari, jumlah korban dan kerugian yang timbul akibat bencana ini makin memprihatinkan.
Pulau Sumatra Terkoyak, Duka Menggema di Seluruh Penjuru Negeri
Pulau Sumatra kembali harus menderita luka serius yang tidak hanya merenggut harta benda, tetapi juga kehidupan banyak orang di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Dari Aceh hingga ke Sumatra Barat, duka ini menggema dan menjadikan bencana kali ini sebagai salah satu yang paling mengerikan dalam sejarah Sumatra karena skala dampaknya yang cukup luas. Penduduk Bumi Pertiwi dari ujung Sumatra hingga Tanah Papua pun ikut merasakan perihnya luka warga Sumatra.
Mungkin inilah yang dimaksud bahwa bangsa Indonesia itu satu tubuh. Ketika bagian tubuh ada yang sakit, maka seluruh anggota tubuh akan ikut merasakannya. Bahkan, seorang anak kecil dari Papua rela membongkar tabungannya untuk kemudian didonasikan semua bagi korban bencana Sumatra. Sungguh, saya bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia.
Berdasarkan data terbaru per 27 Desember 2025 yang saya akses di situs resminya, BNPB melaporkan bahwa 1.137 jiwa meninggal, 163 orang masih hilang, dan lebih dari 457 ribu warga mengungsi. Wilayah dengan jumlah korban meninggal tertinggi di antaranya adalah Aceh Utara, Agam, Tapanuli Tengah, Aceh Tamiang, dan Tapanuli Selatan.
Berdasarkan data di dashboard rekapitulasi BNPB, bencana banjir dan longsor kali ini berdampak pada 52 kabupaten/kota yang tersebar di wilayah Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Tak terbayangkan bagi saya di sini yang hanya bisa menyaksikan dari jauh, bagaimana nasib mereka yang menjadi korban? Namun, ada sedikit kelegaan ketika kubaca berita bahwa pencarian dan pertolongan terus masif dilakukan dengan melibatkan pihak-pihak yang kompeten, seperti Basarnas, TNI, Polri, relawan, hingga mereka yang menjadi korban pun ikut bahu-membahu berkontribusi.
“Saya ini sudah pernah merasakan, saya pernah jadi korban bencana tsunami. Jadi, memang masih terbayang-bayang meski sudah 21 tahun. Bapak, ibu, dan dua adik saya dibawa tsunami. Itulah yang membuat saya tergerak membantu. Terutama saya sebagai abdi negara, tidak boleh ada kata bermalas-malasan, walaupun keluarga harus ditinggalkan sementara waktu,” tutur Dedy Saputra (Pengawas Lapangan PPK 1.5 BPJN Aceh, Ditjen Bina Marga, Kementerian PU).
Dampak Signifikan Banjir Sumatra
Selain korban jiwa yang tidak sedikit, dampak kerusakan fisik akibat bencana banjir ini juga tercatat sangat besar. Pihak BNPB mencatat sekitar 157.838 unit rumah rusak, dengan perincian 47.165 rumah rusak berat, 33.276 rusak sedang, dan 77.397 rusak ringan. Tidak hanya itu, berbagai fasilitas publik seperti sekolah, puskesmas, hingga rumah ibadah juga mengalami kerusakan serius.
Di sektor infrastruktur, disebutkan ada 98 jembatan putus dan 101 ruas jalan terputus. Kondisi inilah yang sempat menghambat mobilitas warga dan distribusi bantuan.
Jalan Terputus, Hidup yang Terhenti
Dari sumber berita yang kubaca, disebutkan ada 72 ruas jalan nasional rusak dan 145 jembatan putus. Kerugian akibat bencana ini ditaksir mencapai Rp68,6 triliun.
Seketika saya membayangkan betapa sulitnya hidup masyarakat terdampak bencana Sumatra tanpa akses jalan. Segala aktivitas harian yang awalnya rutin dijalankan untuk membangun harapan, dalam sekejap terhenti. Jalan yang biasanya selalu ramai kini tampak sunyi, jembatan kokoh yang kerap dilalui kini runtuh. Infrastruktur yang kadang kita anggap biasa, seperti jembatan, ternyata adalah urat nadi kehidupan.
“Sudah tidak ada lagi pijakan daratan. Kami masak di atas air. Jadi, kalau kita lihat, airnya tinggi sekali. Tidak tahu kenapa kayu itu berputar-putar di sini. Kalau kami lihat dari rumah pendiri yayasan, ada yang lolos ke area santri putri, dan itu yang menghancurkan bagian santri perempuan. Jadi, seandainya kayu ini lepas lagi, kemungkinan tiga atau empat desa lagi akan hancur. Harapan kami, memang kami sangat perlu bantuan dari Kementerian PU. Harapan kami, proses belajar-mengajar ini dibantu oleh pemerintah, khususnya Kementerian PU,” kata Pembina Yayasan Darul Mukhlisin, Muhammad Ichasm.
Pemulihan di Tengah Duka Sumatra
Kabar baik mulai datang dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Direktorat Bina Marga yang bergerak cepat. Hingga pertengahan Desember, progres pemulihan telah mencapai 78,69 persen di Sumatra Utara, 76,14 persen di Sumatra Barat, dan 51,14 persen di Aceh. Dari yang saya baca, 11 jembatan Bailey sudah berdiri menjadi jalur darurat yang menghubungkan kembali wilayah yang terisolasi.
Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo mengatakan bahwa Kementerian PU terus mempercepat penanganan dampak bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat melalui langkah tanggap darurat lintas sektor, meliputi bidang Sumber Daya Air, Bina Marga, dan Cipta Karya.
Penanganan bidang Bina Marga disebutkan akan difokuskan pada pemulihan jalan dan jembatan nasional. Pemulihan konektivitas dan layanan infrastruktur dasar ini menjadi prioritas agar nantinya aktivitas masyarakat dan perekonomian daerah dapat segera kembali normal.
“Kementerian PU terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, TNI, BUMN, dan masyarakat setempat hingga seluruh infrastruktur terdampak tertangani secara menyeluruh,” kata Dody.
Melihat berita tentang warga yang bergotong royong, pihak pemerintah yang bekerja siang malam, hingga relawan yang hadir langsung di lapangan, saya belajar sebuah pelajaran berharga bahwa pemulihan pascabencana adalah kerja bersama. Jalan-jalan terputus yang kembali terbuka dan jembatan yang kembali bisa dilewati bukan sekadar jalur transportasi, melainkan simbol kebangkitan dan tanda kehidupan yang pulih.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Kemendagri Gandeng Lion Group Percepat Pemulihan Pemerintahan Aceh Tamiang
-
Bangkit setelah Bencana di Aceh
-
'Tidak Ada Nasi Hari Ini', Anak Aceh Bertahan dengan Satu Sendok Makan
-
Purbaya Prihatin TNI Hanya Dikasih Nasi Bungkus saat Atasi Banjir Sumatra, Layak Diberi Upah
-
Ciptakan Ruang Aman Pascabencana, 'Zona Anak' Hadir di Aceh Tamiang
News
-
Jangan Dianggap Sepele! 5 Kebiasaan yang Bikin Mood Rusak dan Berantakan
-
Pulihnya Akses Penghubung, Hidupkan Harapan Aceh dan Sumatra
-
Panduan Memahami KUHP Baru: Apa Saja yang Berubah dalam Kehidupan Sehari-hari?
-
Ketika Jalan Kembali Terbuka, Aceh Bangkit Berkat Gerak Cepat Pemerintah dan Warga
-
Sering Dibilang 'Tua Sebelum Waktunya'? Mungkin Kamu Seorang Old Soul
Terkini
-
Pelan-pelan Sembuh: Catatan Pemulihan Akses di Sumatera
-
Kabar Gembira untuk ARMY: BTS Konfirmasi Jadwal Comeback Full Team dan Tur Dunia
-
Ulasan Novel Earthshine: Beban Skripsi, Luka Mental, dan Dilema Hubungan
-
Dewi Persik Isyaratkan Punya Kekasih Baru, Ungkap Reaksi sang Putra
-
4 Ide Daily OOTD ala Hongjoong ATEEZ, Mulai Casual hingga Formal Look!