Sekar Anindyah Lamase | Fairus Farizki
Sejumlah anak muda sedang nongkrong di coffee shop (Pexels/Afta Putta Gunawan)
Fairus Farizki

Setiap memasuki Agustus dan September, Yogyakarta seperti mengalami satu ritual tahunan. Jalan-jalan di sekitar kampus kembali dipenuhi wajah-wajah muda, kos-kosan mulai ramai, tempat makan bertambah sibuk, dan kedai kopi kembali dipenuhi mahasiswa dengan laptop di atas meja. Mereka datang membawa koper, mencari kamar kos, membeli kebutuhan kuliah, lalu perlahan membangun rutinitas baru di kota yang akan mereka tinggali selama beberapa tahun.

Fenomena ini bukan sekadar kesan. Pada tahun ini, Universitas Gadjah Mada menerima 11.099 mahasiswa baru untuk mengikuti rangkaian PIONIR Gadjah Mada. Universitas Negeri Yogyakarta menerima sedikitnya 1.834 mahasiswa melalui jalur SNBP dan 2.497 melalui SNBT, atau 4.331 mahasiswa dari dua jalur tersebut. Sementara itu, UPN "Veteran" Yogyakarta membuka daya tampung 5.859 mahasiswa baru untuk tahun akademik 2026/2027.

Jumlah itu belum memasukkan perguruan tinggi lain. UIN Sunan Kalijaga, misalnya, pada Agustus 2026 menyebut akan menyambut sekitar 5.700 hingga 5.800 mahasiswa baru, meningkat sekitar 600 mahasiswa dibandingkan tahun sebelumnya. Artinya, hanya dari empat kampus tersebut saja terdapat puluhan ribu mahasiswa baru yang memasuki ekosistem pendidikan tinggi Yogyakarta pada tahun ini.

Namun, mahasiswa baru tidak hanya datang untuk memenuhi ruang-ruang kelas. Mereka juga membawa kebutuhan dan kebiasaan baru ke dalam kehidupan kota. Data BPS menunjukkan bahwa pada 2024 terdapat 410.789 mahasiswa di perguruan tinggi di bawah Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi di DIY. Sebanyak 256.208 di antaranya berada di Sleman dan 78.133 di Kota Yogyakarta. Angka tersebut belum memasukkan mahasiswa perguruan tinggi di bawah Kementerian Agama.

Jumlah sebesar itu menciptakan sebuah ekosistem gaya hidup tersendiri. Mahasiswa membutuhkan tempat tinggal, makanan, laundry, transportasi, hiburan, hingga ruang untuk mengerjakan tugas. Dari kebutuhan sederhana tersebut, kota kemudian menyediakan berbagai ruang baru yang menyesuaikan diri dengan kebiasaan anak muda.

Salah satunya adalah coffee shop. Di Yogyakarta, coffee shop tidak lagi sekadar tempat membeli kopi. Ia telah menjadi ruang untuk mengerjakan tugas, bertemu teman, melakukan rapat organisasi, bekerja dengan laptop, atau sekadar menghabiskan sore. Sebuah penelitian dalam Journal Social Society pada 2025 mencatat pertumbuhan coffee shop di DIY telah mencapai lebih dari 9.000 unit dan melihat persaingan bisnis kopi di daerah ini semakin ketat.

Angka tersebut memang perlu dibaca hati-hati karena pendataan coffee shop dapat berbeda berdasarkan definisi dan metode yang digunakan. Namun, satu hal sulit disangkal: kopi telah menjadi bagian dari lanskap kehidupan mahasiswa Yogyakarta.

Di sinilah menariknya melihat gelombang mahasiswa baru setiap tahun. Mereka tidak hanya datang sebagai penghuni baru kampus, tetapi juga sebagai konsumen baru yang perlahan menemukan warung langganan, kedai kopi favorit, tempat makan murah, rute perjalanan, ruang komunitas, sampai tempat nongkrong yang akhirnya terasa seperti bagian dari kehidupan mereka.

Pada titik tertentu, mahasiswa bahkan tidak lagi sekadar beradaptasi dengan Yogyakarta. Mereka ikut membentuknya.

Kebutuhan mahasiswa terhadap ruang yang murah, nyaman, mudah diakses, dan cocok untuk bersosialisasi mendorong kota terus beradaptasi. Karena itu, perubahan Yogyakarta tidak selalu terlihat dalam bentuk gedung baru atau proyek besar. Kadang perubahan itu jauh lebih sederhana: sebuah kedai kopi yang buka sampai tengah malam, warung makan yang menambah meja ketika semester baru dimulai, atau kawasan kos yang kembali ramai setelah libur panjang.

Maka, setiap Agustus dan September, Yogyakarta sebenarnya tidak hanya kedatangan mahasiswa baru. Kota ini kembali menerima satu generasi konsumen, penghuni, dan pembentuk budaya perkotaan baru.

Barangkali itulah alasan mengapa predikat "Kota Pelajar" tidak pernah benar-benar statis. Setiap tahun, wajah pelajarnya berganti. Dan bersama mereka, kebiasaan, ruang nongkrong, selera, serta cara menikmati kota juga ikut berubah.