Pernah nggak sih kamu selesai mendengarkan podcast, lalu tiba-tiba merasa seperti baru saja mendapatkan satu keping pengetahuan baru? Bukan karena pembahasannya menggunakan istilah yang rumit atau narasumbernya terdengar pintar, tetapi karena setelah mendengarkannya kita jadi melihat sesuatu dengan cara yang berbeda.
Menurutku, ini salah satu alasan kenapa podcast menarik untuk anak muda. Di tengah rutinitas kuliah, kerja, mencari pekerjaan, mengejar target, sampai bingung sebenarnya mau jadi apa, kita kadang membutuhkan ruang untuk belajar tanpa merasa tidak belajar sama sekali. Cukup pasang earphone, buka podcast, lalu biarkan percakapan berjalan sambil menemani perjalanan pulang atau waktu santai.
Apalagi sekarang podcast sudah membahas hampir segala hal. Ada yang membicarakan bisnis dan ekonomi, politik, pendidikan, kehidupan kreatif, sampai pengalaman personal seseorang. Kalau dipilih dengan tepat, podcast bisa menjadi backsound ketika kita sedang rebahan, sambil lalu juga bisa menjadi salah satu cara untuk meng-upgrade cara berpikir kita.
Berikut lima podcast yang menurutku menarik untuk didengarkan Gen Z ketika ingin mendapatkan perspektif baru.
Endgame with Gita Wirjawan
Kalau kamu ingin memahami dunia dengan cakupan yang lebih luas, Endgame with Gita Wirjawan bisa menjadi salah satu pilihan. Podcast ini menghadirkan percakapan dengan berbagai tokoh dari bidang ekonomi, bisnis, pendidikan, teknologi, politik, hingga isu global. Topiknya pun sering membawa kita keluar dari persoalan sehari-hari dan melihat bagaimana berbagai hal sebenarnya saling berhubungan.
Yang membuatnya menarik adalah di samping memang kita diajak mengetahui “apa yang sedang terjadi”, kita juga sangat bisa mencoba memahami mengapa sesuatu bisa terjadi dan kemana arahnya. Buat anak muda yang sedang memikirkan masa depan karier, pendidikan, atau bahkan kondisi dunia beberapa tahun ke depan, percakapan semacam ini bisa menjadi bahan berpikir yang cukup berharga.
Chronicles with Bagus Mulyadi
Kalau kamu ingin menemukan kembali hal-hal yang sering luput dari perhatian kita sebagai anak muda Indonesia, Chronicles with Bagus Mulyadi menarik untuk dimasukkan ke daftar dengar. Podcast ini punya perhatian yang kuat terhadap lokalitas Indonesia, terutama bagaimana pengetahuan, kebudayaan, sejarah, dan kearifan lokal sebenarnya memiliki nilai yang tidak kalah penting dari pengetahuan yang selama ini kita anggap “modern”.
Menariknya, pembahasan mengenai lokalitas tersebut tidak disampaikan seperti kuliah antropologi yang membuat kita harus duduk manis sambil mencatat. Bagus Mulyadi menghadirkan akademisi dan berbagai narasumber untuk membicarakan Indonesia dari sudut yang lebih dekat dengan kehidupan kita. Buatku, beberapa episodenya bahkan terasa seperti mengambil satu mata kuliah di kampus, hanya saja kita bisa mendengarkannya sambil ngopi atau perjalanan pulang.
Di tengah anak muda yang semakin akrab dengan tren global, teknologi, dan budaya populer, percakapan tentang lokalitas justru menjadi semakin penting. Kita bisa mengenal dunia sejauh-jauhnya, tetapi tetap perlu tahu apa yang sebenarnya kita punya di rumah sendiri. Local wisdom bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan bagian dari cara sebuah masyarakat memahami dunia.
Podcast Raditya Dika
Podcast Raditya Dika punya satu keunggulan yang sulit diabaikan, yaitu relate banget dengan kehidupan lintas generasi. Pembahasannya bisa berpindah dari karier, pekerjaan, hubungan, kebiasaan, kesehatan, sampai berbagai persoalan sehari-hari yang mungkin sedang kita alami sendiri.
Menariknya, narasumbernya juga tidak selalu berasal dari satu bidang. Raditya Dika bisa mengundang dokter untuk membahas kesehatan, pakar tertentu untuk membicarakan sebuah persoalan, teman-temannya, sampai orang-orang yang memiliki pengalaman menarik. Karena itulah obrolannya terasa seperti percakapan biasa, tetapi sering kali kita mendapatkan pengetahuan baru di tengahnya.
Buat Gen Z yang gampang bosan dengan konten edukasi yang terlalu menggurui, format seperti ini terasa menyenangkan. Kita tidak sedang merasa “diceramahi”, tetapi tetap bisa pulang membawa informasi baru. Kadang malah setelah mendengarkan satu episode, kita baru sadar bahwa topik yang awalnya terlihat receh ternyata punya penjelasan yang jauh lebih menarik.
Suara Berkelas
Kalau ada podcast yang cocok untuk anak muda yang sedang berada dalam fase ingin menjadi versi dirinya yang lebih baik, Suara Berkelas layak masuk daftar. Dipandu Bilal Faranov, podcast ini banyak menghadirkan percakapan yang dekat dengan kehidupan anak muda, tetapi tetap membawa misi untuk mendorong pendengarnya melakukan improvement dan transformasi diri.
Menurutku, daya tariknya ada pada gagasan bahwa setiap percakapan seharusnya meninggalkan sesuatu bagi pendengarnya. Bisa berupa pengetahuan baru, cara pandang yang berbeda, atau sekadar dorongan untuk mengevaluasi kembali bagaimana kita menjalani kehidupan.
Dan mungkin itu yang membuat Suara Berkelas terasa cocok untuk Gen Z. Kita tidak selalu membutuhkan nasihat besar tentang bagaimana menjadi sukses. Kadang kita hanya membutuhkan satu percakapan yang membuat kita berpikir sedikit lebih jauh daripada kemarin.
Malaka Podcast
Malaka Podcast punya misi yang lebih besar daripada sekadar membuat konten yang menarik didengarkan. Salah satu gagasan yang kuat dari ekosistem Malaka adalah bagaimana mencerdaskan kehidupan bangsa dengan meng-upgrade cara berpikir masyarakat. Karena itu, logika, nalar, pengetahuan, dan kemampuan membaca persoalan menjadi bagian penting dalam berbagai pembahasannya.
Salah satu contoh yang menarik adalah kampanye mengenai Madilog, gagasan Tan Malaka tentang materialisme, dialektika, dan logika. Pembahasan semacam ini membawa kita pada pertanyaan yang lebih mendasar tentang bagaimana sebenarnya kita membentuk kesimpulan dan membedakan antara pengetahuan, asumsi, kepercayaan, dan sekadar cerita yang diwariskan begitu saja?
Buat anak muda, menurutku ini relevan. Di tengah banjir informasi, kita membutuhkan kemampuan untuk memproses informasi tersebut dengan nalar. Dengan kata lain, bukan cuma otak yang harus diisi, tetapi cara berpikirnya juga perlu di-upgrade. Dari sinilah gagasan Malaka untuk melawan “logika mistika” menjadi menarik untuk dibicarakan kembali dalam konteks kehidupan anak muda hari ini.
Pada akhirnya, mendengarkan podcast tentu tidak otomatis membuat kita lebih pintar. Podcast tetap hanya salah satu pintu masuk. Kalau ada pembahasan yang menarik, kita tetap bisa mencari buku, penelitian, laporan, atau sumber primer lain untuk memeriksanya lebih jauh.
Tetapi buatku, ada ukuran sederhana untuk mengetahui apakah sebuah podcast layak didengarkan, yaitu setelah episodenya selesai, apakah ada sesuatu yang bisa kita ambil sebagai pelajaran? Bisa jadi sebuah informasi baru, pertanyaan yang belum pernah terpikirkan, atau bahkan kesadaran bahwa selama ini kita melihat sebuah persoalan dari sudut yang terlalu sempit.
Di usia ketika kita sedang mencoba membangun karier, mencari identitas, mengejar pekerjaan, dan menentukan sebenarnya ingin menjadi siapa, rasanya tidak ada salahnya menyisihkan waktu untuk mendengarkan percakapan yang membuat kita bertumbuh. Sebab, upgrade diri tidak selalu harus dilakukan lewat kursus mahal atau membaca buku tebal. Kadang, ia bisa dimulai dari satu episode podcast yang membuat kita berpikir, “Wah, ternyata dunia nggak sesederhana yang selama ini aku kira.”
Baca Juga
-
Mengenang Christopher McCandless, Ketika Keinginan Bebas Berujung Maut
-
Belasan Ribu Maba Datang ke Jogja, Ekosistem Kota Kembali Bergeliat
-
Harga Pertamax Turun Rp300, Mengapa Harga BBM Bisa Fluktuatif?
-
Mengenal Carbon Trading: Saat Krisis Iklim Bertemu Logika Pasar
-
Fatimah Az-Zahra, Wajah Baru Aktivisme Berbasis Bukti Akademik
Artikel Terkait
-
Gen Z dan FOMO Nonton Konser: Bukan Cuma Hiburan, Tapi Membeli Pengalaman
-
Mengenal Nonchalant Core: Tren Bersikap 'Bodo Amat' ala Gen Z, Sehatkah Secara Mental?
-
Profil 4 Anggota Pancatera, Ada Marissa Anita hingga Karina Basrewan
-
Kuota Internet Tak Lagi Hangus, Siapa yang Harus Menanggung Beban Biaya dan Kapasitas Jaringan?
-
Merdeka dari People Pleasing: Mengapa Gen Z Harus Mulai Belajar Berkata 'Tidak'
Lifestyle
-
Mengenal Nonchalant Core: Tren Bersikap 'Bodo Amat' ala Gen Z, Sehatkah Secara Mental?
-
Motorola Rilis Moto G Max, Andalkan Baterai Jumbo dan Desain Tangguh
-
4 Pelembap Gel Panthenol Rawat Skin Barrier Kulit Berminyak, Cuma Rp40 Ribu
-
Bebas Jerawat! 5 Acne Spot Treatment Korea yang Bikin Jerawat Cepat Kering
-
Belasan Ribu Maba Datang ke Jogja, Ekosistem Kota Kembali Bergeliat
Terkini
-
Gen Z dan FOMO Nonton Konser: Bukan Cuma Hiburan, Tapi Membeli Pengalaman
-
Breasts and Eggs: Perempuan yang Melawan Standar Tubuh dan Norma Sosial
-
Insidious: Out of the Further, Babak Baru Ketakutan Sinematik Paling Gelap!
-
Agensi Hong Min Gi Bantah Tuduhan Aborsi Paksa, Nona A Ungkap Bukti Terbaru
-
Le Petit Prince, Buku Anak yang Diam-Diam 'Menampar' Orang Dewasa